tobatPara ulama menyatakan bahwa tobat bisa dikaitkan kepada manusia dan juga kepada Allah. Artinya manusia disebut bertobat dan Allah juga bisa disebut bertobat. Dalam al-Quran disebutkan bahwa Allah adalah ‘tawwaburrahim’, yang secara leksikal berarti “Maha Bertobat, Maha Penyayang” (Q.S. al-Baqarah : 37). Dalam ayat lainnya disebutkan “Allah mencintai orang-orang yang bertaubat (tawwabina)” (Q.S. al-Baqarah : 222). Tobat berasal dari kata taba-yatubu-taubatan. Orang yang bertaubat disebut taib atau tawwab. Bedanya taib orang yang melakukan tobat, sedangkan tawwab berarti senantiasa bertobat atau terus menerus memperbaharui tobat. Dan tawwab itu diberlakukan untuk Allah dan juga untuk manusia. Hanya saja, jika dikaitkan kepada Allah swt, maka dia akan bertransitif (muta’addi) dengan huruf ‘ala (taba Allah alaih, Allah menerima tobat). Dan jika dikaitkan dengan manusia, maka bertransitif dengan huruf ila (taba ilallah, kembali kepada Allah).

Masing-masing dari kedua redaksi ini dalam maknanya sangat berbeda. Tobat Allah bermakna memberikan belas kasih kepada hamba. Hal ini ditandai dengan dua hal. Pertama, dengan mengilhamkan tobat pada seorang hamba, dan kedua, menerima tobatnya seorang hamba yang bertobat. Kedua makna itu disebutkan dalam al-Quran, “Kemudian Allah menerima tobat mereka agar mereka tetap dalam tobatnya. Sesungguhnya Allah maha penerima tobat, Maha penyayang.” (Q.S. at-Taubah : 118). Yakni mengilhamkan tobat kepada mereka supaya mereka kembali ke jalan Allah. Kemudian ketika mereka telah kembali, maka Allah menerima tobat mereka itu. Sedangkan tobat manusia ialah kembalinya seorang hamba kepada Allah swt dengan melakukan ketaatan setelah melakukan perbuatan maksiat. Lantas apa yang harus dilakukan jika kita berdosa dan ingin bertobat?

Ada dua hal, kata Imam al-Ghazali, yang harus dilakukan jika orang ingin bertobat. Pertama, mengenali dosa yang ingin ditinggalkan; dan kedua, mengenali bahwa dosa dapat dihilangkan dengan tobat (al-Ghazali, 2000: 128). Mengenal dosa berarti mengidentifikasi jenis-jenis dosa yang meliputi manusia, sebabnya, sifatnya, dampaknya bagi kehidupan manusia. Dengan mengenal dosa, kita akan mengenal dosa apa yang menimpa kita dan bagaimana cara bertobatnya. Dosa yang bersifat individual misalnya bisa saja ditobati secara individual, tetapi dosa sosial tentu saja sebaiknya ditobati secara sosial pula. Rasulullah saaw bersabda, “Jadikanlah tobat bagi setiap dosa (dengan cara yang tertentu); yaitu (dosa yang dilakukan secara) rahasia dengan (tobat) yang rahasia pula, dan (dosa) yang terang-terangan dengan (tobat) yang terang-terangan pula.” (Raisyahri, Ensiklopedi Mizan al-Hikmah I, hal. 358). Begitu pula dosa yang hanya berhubungan dengan Allah dapat ditobati secara langsung, tetapi dosa yang menyangkut manusia seperti merampas hak-hak manusia dan menzalimi mereka, tobatnya tergantung pada kemaafan dan pengembalian hak manusia yang dizalimi tersebut.

Selanjutnya Imam al-Ghazali menyebutkan bahwa tobat tersusun dari ilmu, hal dan amal serta memiliki empat rukun yaitu : ilmu, penyesalan, tekad kuat, dan meninggalkan perbuatan dosa. Ilmu adalah dasar yang menjadi jaminan keimanan dan ketundukan kepada Allah; hal menjadi tempat tumbuhnya maujud (penyesalan dan tekad kuat); sedangkan amal merupakan sesuatu yang ditumbuhkan oleh maujud pada hati dan anggota badan (al-Ghazali, 2000: 128).

Dzun Nun al-Mishri menjelaskan bahwa tobat mencakup enam hal. Pertama, menyesali dosa yang telah diperbuat di masa lalu. Kedua, bertekad kuat untuk meninggalkan perbuatan dosa di masa datang. Ketiga, mengganti (qadha) semua kewajiban kepada Allah yang telah ditinggalkan. Keempat, mengembalikan hak-hak orang lain yang terambil baik disengaja maupun tidak. Kelima, meninggalkan makanan dan minuman yang diperoleh dari jalan yang tidak dibenarkan. Keenam, konsisten dengan ketaatan kepada Allah sebagaimana juga pernah konsisten dengan kemaksiatan (al-Mujahidi, Jangan Tobat, 2007: 43-44).

Keenam hal ini tampaknya merujuk kepada riwayat dan penjelasan Imam Ali as. Diriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Imam Ali as seraya mengucapkan astaghfirullah, lalu Imam Ali as berkata, “Alangkah sedihnya ibumu. Tahukah kamu, apakah istighfar itu? Sesungguhnya istighfar itu berada di derajat yang sangat tinggi (illiyin). Istighfar adalah kalimat yang mengandung enam makna : 1). Menyesali dosa-dosa yang lalu; 2). niat meninggalkannya untuk selama-lamanya; 3). menunaikan hak-hak orang lain sebelum kamu menemui Tuhan untuk diminta pertanggungjawabannya; 4). memperhatikan sepenuhnya kewajiban-kewajiban agama yang pernah dilalaikan dan menggantinya (qadha); 5). merasa sangat sedih atas dosa-dosa-dosa sehingga semua daging ditubuhmu yang dihasilkan dari makanan yang haram dan kulit yang menutupi tubuhmu, harus engkau ganti dengan daging (dan kulit) yang baru (dari hasil usaha yang halal); 6). engkau rasakan pahit dan beratnya ketaatan sebagaimana engkau telah merasakan manisnya perbuatan maksiat. Setelah enam hal ini barulah ucapkan astaghfirullah.” (Wasail al-Syiah jil. 11, hal. 361).

Syaikh Ibrahim Amini menyimpulkan adanya tiga tanda tobat yang hakiki. Pertama, di dalam hati ada rasa penyesalan yang dalam dan merasa resah-gelisah terhadap dosa-dosa tersebut serta membenci mengapa ia berbuat dosa. Kedua, niat yang sungguh-sungguh bahwa ia tidak akan berbuat dosa lagi. Ketiga, bila masih ada dosa yang membekas, ia mesti melakukan sesuatu yang bisa menebus dosa itu dan berjanji untuk memperbaiki kesalahannya. Misalnya, jika ia mengambil hak orang lain, atau pernah menggunakan milik orang lain tanpa izin (gashab) atau mencuri atau menghilangkannya, maka ia harus berniat mengembalikan milik orang lain itu secepat mungkin. Bila mengembalikannya sulit, ia harus berusaha sedapat mungkin supaya orang itu rela terhadapnya. Jika ia mengumpat orang lain atau menipu, atau berbuat semena-mena atau zalim, maka ia harus mencari kerelaan hati orang yang dizalimi. Bila ia tidak menunaikan hak-hak berupa harta, maka ia harus berusaha membayarnya. Bila ia pernah meninggalkan salat atau puasa atau kewajiban lainnya, maka ia harus mengggantinya (qadha) (Amini, Risalah Tasawuf, 2002: 193).

Faidh al-Kasyani dalam al-Mahajja al-Baidha menunjukkan gerak tobat seorang hamba dimulai dari pengetahuan (ma’rifah) menuju pada penyesalan (an-nadam) dan diakhiri dengan perbaikan sikap (ishlah).  Pengetahuan (ma’rifah) adalah suatu media untuk mengenal efek dosa-dosa yang dilakukannya, seperti tidak terkabulnya doa, turunnya bencana, berubahnya nikmat, dan lainnya. Ketika pengetahuan ini melekat dalam hati dan disertai keyakinan penuh, maka dari pengetahuan ini akan lahir perasaan sedih dan sakit diakibatkan perbuatan maksiat yang dilakukannya. Karena hati merasa sakit, dari sini akan muncul rasa penyesalan (an-nadam). Dan ketika rasa sakit ini semakin merasuk dalam hati, maka akan timbul kondisi lain yang disebut iradah (keinginan) dan niat untuk memperbaiki diri dan selamanya bersikap baik (ishlah). Allah berfirman, “Maka barangsiapa yang bertobat setelah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Q.S. al-Maidah : 39). Dalam ayat lain, Allah berfriman, “Dan sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang-orang yang bertobat, beramal saleh, kemudian tetap di jalan yang benar.” (Q.S. Thaha : 82) 

Rasulullah saaw bersabda, “Tanda seorang yang bertobat ada empat, yaitu : tulus karena Allah di dalam amalnya (an-nasihah lillahi fi amalihi), meninggalkan kebatilan (tark al-batil), berpegang teguh pada kebenaran (luzum al-haq), dan selalu menginginkan kebaikan (al-hirs ‘ala al-khair).”

Imam Ali as berkata, “Tobat memiliki empat rukun, yaitu : penyesalan dengan hati (an-nadamu bil qalbi), istighfar dengan lisan (istighfar bil lisan), beramal dengan anggota badan (amalu bil jawarih), dan bertekad untuk tidak mengulangi perbuatan dosa (azmu an la yaud).” Dan Imam Ali as memisalkan bahwa orang yang bertobat adalah orang yang menanam bibit dosa, tetapi kemudian menyiraminya dengan air penyesalan, maka berbuahlah bagi mereka keselamatan, lalu memetik ridha dan kemuliaan. (lihat Reyshahri, Ensiklopedi Mizan al-Hikmah I, hal. 353,357). (CR/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL