وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَميعاً وَلا تَفَرَّقُوا وَ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْداءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْواناً وَ كُنْتُمْ عَلى شَفا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْها كَذلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ آياتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ

 “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (Q.S. Ali Imran : 103)

persatuan1           

Ibnu Ishaq dan Abu Syaikh meriwayatkan dari Zaid bin Aslam, bahwa ada seorang Yahudi bernama Syas bin Qais lewat di hadapan sekelompok kaum Aus dan Khazraj yang sedang asyik bercengkerama. Perlu diketahui, sebelum Islam, Aus dan Khazraj adalah dua suku besar di Madinah yang saling bermusuhan. Namun, berkat Rasulullah saw mereka akhirnya berdamai dan menjadi sahabat sejati. Syas bin Qais merasa tidak senang melihat keakraban tersebut karena itu timbul keinginannya untuk memecah belah kaum muslimin dengan membangkitkan sentimen permusuhan lama di antara Aus dan Khazraj. Untuk itu dia mengirim seorang pemuda Yahudi untuk mengacau keakraban kedua suku tersebut. Di tengah-tengah perbincangan, pemuda Yahudi itu mengingatkan permusuhan masa lalu Aus dan Khazraj terutama peristiwa perang Bu’ats. Dia mengadu domba mereka dengan menyalahkan satu sama lainnya. Maka timbullah amarah mereka dan mulai bertengkar. Lalu bangkitlah seorang dari suku Aus bernama Aus bin Qaizhi, membanggakan sukunya dan meghina suku Khazraaj. Dibalas hal itu oleh Jabbar bin Sakher dari suku Khazraj. Kedua suku ini saling caci sampai-sampai mempersiapkan diri dengan sejata dan siap berperang.

Disampaikanlah peristiwa itu kepada Rasulullah saw, maka beliaupun segera datang. Beliau menasehati mereka akan persaudaraan mereka yang penuh berkah dan memperingatkan akan propaganda kaum Yahudi yang ingin memecah belah barisan kaum muslimin. Maka Allah menurunkan ayat : “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” Hingga sampai pada ayat,  “Dan berpegang teguhlah kamu semua kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuh musuhan, maka Allah mempersatukanhatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkanmu darinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk” (Q.S. Ali Imran : 100-103). (asy-Syuyuthi, Lubab an-Nuqul fi Asbab an-Nuzul)

Kisah di atas mengingatkan kita bahwa perpecahan bisa terjadi karena adanya pihak ketiga yang mengadu domba umat Islam. Pihak ketiga itu adalah Yahudi dan antek-anteknya. Mereka tidak ingin melihat kaum muslimin bersatu. Maka mereka membuat perpecahan kaum muslimin dengan menampilkan kembali permusuhan masa lalu, perbedaan ras, pandangan, hingga kebanggan kepada masing-masing kelompoknya. Islam sangat tidak menyukai perpecahan seperti ini, karena Islam mengajarkan persatuan dan persaudaraan. Dan kembali bermusuhan diindikasikan sebagai kembali pada kekafiran, Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.” (Q.S. Ali Imran : 100).

Begitu besarnya perhatian Islam terhadap persatuan dan persaudaraan sehingga menyebutnya sebagai nikmat dan anugerah Allah, “…Dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukanhatimu, lalu menjadilah kamu orang-orang yang bersaudara…”. Kemudian Allah menyebut perpecahan sebagai azab yang membawa manusia ke tepi jurang neraka, dan kamu telah berada di tepi jurang neraka..” Sehingga sebagian mufassir memahami an-nar pada ayat itu sebagai “api permusuhan” sesuai konteks ayatnya.

Persatuan dan persaudaraan dapat dilandasi oleh kekerabatan atau hubungan darah, perkawinan, kesukuan, dan geografis kenegaraan. Akan tetapi, Islam juga memiliki hubungan ikatan yang lebih kuat daripada hal-hal di atas. Ikatan itu adalah ikatan keagamanan dan keimanan yang Alquran menyebutnya sebagai tali Allah (hablullah). Umat Islam memiliki titik temu yang mengikat mereka kapanpun dan di mana pun, yakni : menyembah Tuhan Yang Esa, beriman kepada Nabi yang sama, Kitabnya satu yakni Alquran, kiblatnya juga sama yaitu Ka’bah. Jadi, umat Islam memiliki ikatan keimanan yang mencerminkan pandangan dunia, kebudayaan, idologi, peribadatan, tradisi, dan kebiasaan sosial yang satu. Karenanya umat Islam disebut sebagai ummatan wahidah (umat yang satu). Ini semua anugerah Allah, sehingga persatuan itu dinisbahkan Allah kepada diri-Nya secara langsung, “maka Allah mempersatukanhatimu…” begitu kata ayat tersebut. Namun sayang, anugerah itu sering kita gadaikan dengan kepentingan duniawi yang sangat murah.

Padahal sistem persatuan di bawah ikatan ‘tali Allah’ telah dilakukan sejak zaman Nabi Muhammad saw. Pada waktu itu, kaum muslimin meninggalkan Mekah dan berhijrah menuju Madinah. Sebagai bangsa pendatang (muhajirin) yang meninggalkan harta dan bendanya di Mekah, maka kaum muhajirin Mekah mendapat bantuan dari saudara-saudara mereka di Madinah, sehingga disebut sebagai qaum anshar (kaum penolong). Berkat bantuan kaum anshar, masyarakat Mekah mendapatkan kebutuhan hidupnya dalam bidang ekonomi, sosial, maupun kesehatan. Untuk memperkuat hubungan muhajirin dan anshar, Nabi pun mengukuhkan suatu ikatan persatuan dalam kekeluargaan yang disebut dengan muakhah (persaudaraan), yang mana setiap orang muhajirin dipersaudarakan dengan orang-orang anshar. Hanya saja ada juga yang muakhah-nya dilakukan di antara sesama muhajirin, yaitu muakhah antara Nabi saw dengan Ali bin Abi Thalib. Dengan persaudaraan inilah Rasulullah saw membangun peradaban Islam yang dimulai dari Madinah yang nantinya menggetarkan setiap kekuatan asing di dunia ini. Karena Rasul saw menyadari, tanpa persatuan maka umat akan mudah dikuasai oleh musuh-musuh Islam, devide et impera. Karenanya, jika kita ingin Islam kembali menjadi mercusuar peradaban dunia, tidak ada jalan lain kecuali membangun persaudaraan yang kokoh, sebab “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh”. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL