al-fatihah

Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.

Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Yang menguasai hari pembalasan.

Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan.

Tunjukilah kami jalan yang lurus.

(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.”

(Q.S. al-Fatihah : 1-7)

Setelah kita memuji Allah, kita pun menyembah-Nya, dan kini kita berdoa kepada-Nya, “Tunjukilah kami jalan yang lurus”. (Q.S. al-Fatihah : 6). Inilah bukti dari keyakinan kita, bahwa hanya kepada Allah kita memohon pertolongan. Pertolongan pertama yang kita harapkan adalah, menunjuki kita pada jalan yang lurus, jalan yang benar, dan jalan keselamatan.

Dalam memberikan petunjuk kepada manusia, Allah melakukannya dengan dua cara, yaitu secara langsung dan secara tidak langsung. Petunjuk langsung (takwiniyah) merupakan petunjuk yang dianugerahkan Allah secara langsung kepada makhluk-Nya dalam penciptaan. Sedangkan petunjuk tidak langsung (tasyriiyyah) adalah petunjuk yang dianugerahkan oleh Allah swt melalui perantara seperti pengutusan para nabi dan penurunan kitab suci al-Quran.

Kemudian, petunjuk Allah juga ada yang bersifat umum dan ada juga yang bersifat khusus. Petunjuk umum  diberikan oleh Allah kepada semua makhluk-Nya tanpa terkecuali, sedangkan petunjuk khusus, hanya diberikan kepada orang-orang tertentu. Karena itu, sebagai manusia kita diharuskan untuk memelihara berbagai hidayah (petunjuk) Allah swt untuk menggapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Caranya yaitu senantiasa menjalani kehidupan sesuai ajaran-ajaran yang diturunkan oleh Allah swt, karena salah satu makna dari shirat al-mustaqim adalah agama.   

Agama adalah seperangkat aturan dan hukum, dan hukum-hukum tersebut akan terealisasi jika diamalkan, dan pengamalan itu berarti menunjukkan jalan yang lurus yang hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang juga lurus. Apa itu jalan yang lurus dan siapa orang-orang lurus itu? Allah menjawab, “(yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat.” (Q.S. al-Fatihah : 7).

Al-Mufadhal bin Umar bertanya kepada Abu Abdillah as, tentang shirat, maka Abu Abdillah menjawab : ‘Shirat adalah jalan untuk mengenal Allah. Shirat itu ada dua yaitu : shirat di dunia dan shirat di akhirat. Shirat di dunia adalah pemimpin yang wajib ditaati. Barangsiapa yang mengenalnya di dunia dan mengikuti petunjuknya, maka ia akan dapat melalui jembatan neraka jahanam yang merupakan shirat di akhirat. Dan barangsiapa yang tidak mengenalnya di dunia, maka kakinya akan terpeleset dari shirat, sehingga akan jatuh ke dalam neraka jahanam.’

Jadi, shirat al-mustaqim adalah agama dan orang yang berjalan di shirat al-mustaqim itu adalah Nabi saaw dan para pemimpin yang melanjutkan ajaran-ajaran Nabi saaw, karenanya kita memohon kepada Allah akan dimasukkan ke shirat al-mustaqim dan disatukan bersama orang-orang yang telah berjalan di atasnya. Adapun jalan yang dimurkai dan sesat adalah jalan orang-orang yang tidak mengikuti ajaran Nabi saaw, itulah orang-orang Yahudi dan Nasrani.

Inilah surat al-Fatihah yang oleh Imam Ja’far Shadiq as disebutkan terdiri dari tiga bagian, yakni, “awalnya adalah tahmid (pujian kepada Allah), tengah-tengahnya keikhlasan, dan akhirnya adalah doa.” (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*