firaun12. Menutup Telinga dari Nasehat.

Tidak ada kesempatan bagi rakyat untuk memberi nasehat pada penguasa. Apalagi bagi pengkritik, ada ancaman besar bagi mereka yang mau buka mulut dihadapan penguasa. Akibatnya, semua perbuatan jelek Fir’aun harus dianggap baik. “Dan Fir‘aun berkata, “Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu, (yaitu) pintu-pintu langit, agar aku dapat melihat Tuhan-nya Musa, tetapi aku tetap memandangnya seorang pendusta. ” Dan demikianlah dijadikan terasa indah bagi Fir‘aun perbuatan buruknya itu, dan dia tertutup dari jalan (yang benar); dan tipu daya Fir‘aun itu tidak lain hanyalah membawa kerugian. (Ghofir 36-37)

13. Mengalihkan Isu.

Salah satu taktik yang digunakan oleh Fir’aun di zaman Nabi Musa hingga Fir’aun di zaman ini adalah upaya untuk mengalihkan isu. Ketika Musa as berbicara tentang Iman kepada Allah swt dan mengajak masyarakat untuk mengikuti kebenaran, apa yang dilakukan Fir’aun?

Dia menyuruh Haaman selaku mentrinya untuk membuat bangunan yang tinggi. Seakan-akan dia ingin melihat Tuhannya Musa dari bangunan itu bahkan akan membunuhnya. Jika kita perhatikan maka kita akan tau bahwa ini adalah upaya pengalihan isu. Fir’aun membuat masyarakat heboh dengan bangunan yang amat tinggi dan melupakan seruan Musa as. Begitulah yang dilakukan Fir’aun diseluruh zaman. “Dan Fir‘aun berkata, “Wahai Haman! Buatkanlah untukku sebuah bangunan yang tinggi agar aku sampai ke pintu-pintu..”(Ghofir 36)

  1. Mempunyai Penyihir (Dukun)

Abul A’la Almaududi dalam salah satu kitabnya mengatakan bahwa salah satu sifat yang tidak pernah lepas dari Fir’aun di zaman manapun adalah memiliki dukun dan tukang sihir. Para penyihir termasuk orang terdekat Fir’aun, mereka mendapatkan fasilitas yang lebih karena Fir’aun berharap kekuasaannya akan langgeng dengan bantuan mereka. “Dan para pesihir datang kepada Fir‘aun. Mereka berkata, “(Apakah) kami akan mendapat imbalan, jika kami menang?” Dia (Fir‘aun) menjawab, “Ya, bahkan kamu pasti termasuk orang-orang yang dekat (kepadaku).” (Al-A’raf 113-114)

15. Mengaku Tuhan

Karena memiliki kekuatan sementara rakyat telah dibodohi, Fir’aun merasa tidak butuh kepada siapapun dan tidak ada yang bisa menandinginya. Akhirnya dengan penuh kesombongan dia mengaku sebagai Tuhan. Dan Fir‘aun berkata. “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku”(Al-Qashas 38)

  1. Mengaku Tuhan yang Paling Tinggi

Ini adalah puncak dari kesombongan Fir’aun. Ini adalah akhir perjalanan seorang yang mengaku Tuhan. Imam Baqir menyebutkan bahwa jarak antara Fir’aun mengaku Tuhan dan mengaku Tuhan yang paling tinggi adalah 40 tahun. “(Seraya) berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (An-Nazi’at 24)

Disebutkan bahwa Fir’aun mengucapkan kalimat ini di saat terakhir sebelum laut terbelah oleh tongkat Musa. Saat dia mengucapkan kalimat ini, maka seketika itu murka Allah turun karena Fir’aun telah melakukan kesombongan yang tertinggi. Dia tau bahwa ada tuhan lain yang disebut Musa, namun dia berkata bahwa dia lah Tuhan yang tertinggi. Maka tenggelam lah dia bersama bala tentaranya saat itu juga.

Jibril pernah bercerita kepada Rasulullah saw, saat Fir’aun mengatakan kalimat ini kemudian dia melewati lautan yang terbelah maka tertutuplah lautann itu dan dia tenggelam. Saat detik-detik akan tenggelam, Jibril memasukkan kepala Fir’aun ke dalam laut agar dia tidak sempat lagi untuk memohon ampun kepada Allah.

Saat nyawa telah berada di kerongkongan, Fir’aun ingin bertaubat dan beriman kepada Tuhannya Musa. Namun apa jawaban Allah swt?

“Sehingga ketika Fir‘aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).” Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.”(Yunus 90-91)

Selesai sudah kesombongan Fir’aun. Binasa sudah kekuasaannya. Dan Allah menceritakan kisahnya agar kita mengambil pelajaran darinya. Agar tidak ada lagi Fir’aun-Fir’aun baru. Karena Sifat Fir’aun bukan hanya menempel pada seorang pemimpin. Seorang ulama’ bisa menjadi Fir’aun. Seorang ayah, guru dan setiap manusia bisa menjadi Fir’aun-Fir’aun masa kini. Semoga Allah menyelamatkan kita dari sifat-sifat itu. (hd/liputanislam)

*Sumber http://www.khazanahalquran.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL