firaun5 Tidak Mau Mendengar Pendapat Lain.

Tidak ada yang boleh memberi pendapat berbeda dengan Fir’aun. Ketentuannya adalah ketentuan yang mutlak dan tidak bisa dibantah. Perintahnya harus dilaksanakan tanpa ada seorang pun yang boleh melawan. Masyarakat harus diam dan hanya berkata “iya”. “Fir’aun berkata, “Aku hanya mengemukakan kepadamu, apa yang aku pandang baik.” (Ghofir 29)

Tidak ada yang boleh berbeda pendapat dengan Fir’aun. Sebagaimana tidak ada yang boleh berbeda dengan pendapat Israel, Fir’aun zaman ini. Semua harus patuh dan diam. Jika Amerika telah mencap sebuah kelompok yang menuntut haknya sebagai teroris, maka seluruh negara harus menganggapnya teroris. Jika ada penindasan yang dilakukan Israel, maka itu bukanlah penindasan. Semua harus diam dan menerima pendapat itu. Seakan-akan hanya merekalah yang bisa memberi petunjuk dan pendapat, sementara selain mereka pasti salah.

 6. Menjauhkan Rakyat dari Kebenaran

Fir’aun selalu menjauhkan rakyatnya dari orang yang ingin memerangi kebodohan dan mencerdaskan mereka. Dia selalu menghalang-halangi orang yang ingin mengajak rakyatnya menuju kebaikan. Karena rakyat yang cerdas akan menjadi bumerang bagi Fir’aun. Tidak boleh ada suara lain selain suara Fir’aun. Semua suara harus bungkam dihadapannya. “Mereka (para pesihir) berkata, “Sesungguhnya dua orang ini adalah pesihir yang hendak mengusirmu (Fir‘aun) dari negerimu dengan sihir mereka berdua, dan hendak melenyapkan adat kebiasaanmu yang utama.” (Thaha 63)

Fir’aun menuduh para penyeru kebenaran sebagai orang yang akan merusak bangsa. Sebagai pengacau yang akan melenyapkan adat dan kebudayaan mereka. “Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi.” (Ghofir 26)

7. Menjaga Kekuasaan dengan Segala Cara

Orang seperti Fir’aun akan menjaga kekuasaannya dengan segala cara. Bahkan, dia akan menggunakan kedok agama untuk mengokohkan kerajaannya. Padahal, dia orang yang paling anti terhadap agama. “Dan Fir‘aun berkata (kepada pembesar-pembesarnya), “Biar aku yang membunuh Musa dan suruh dia memohon kepada Tuhan-nya. Sesungguhnya aku khawatir dia akan menukar agamamu atau menimbulkan kerusakan di bumi.” (Ghofir 26)

  1. Anti Reformasi

Fir’aun tidak mau melihat ada reformasi di masyarakat. Dengan segala cara dia lakukan agar jangan sampai ada rakyatnya yang sadar. Dia begitu khawatir, jika rakyatnya yang bodoh ini akan mengikuti kebenaran dan menggulingkan penguasa dzolim. “Mereka berkata, “Apakah engkau datang kepada kami untuk memalingkan kami dari apa (kepercayaan) yang kami dapati nenek moyang kami mengerjakannya (menyembah berhala), dan agar kamu berdua mempunyai kekuasaan di bumi (negeri Mesir)? Kami tidak akan mempercayai kamu berdua.” (Yunus 78)

Mereka takut kekuasaannya akan direbut oleh Musa dan Harun.

  1. Reformis Harus Disiksa

Seorang yang datang ingin membawa perubahan, mencerdaskan masyarakat dan mengajak mereka menuju kebaikan harus disiksa sebagai pelajaran bagi yang lain. “Dia (Fir‘aun) berkata, “Mengapa kamu beriman kepada Musa sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Nanti kamu pasti akan tahu (akibat perbuatanmu). Pasti akan kupotong tangan dan kakimu bersilang dan sungguh, akan kusalib kamu semuanya.” (Asy-Syuara 49)

Kali ini dia tidak hanya melarang dengan perkataan, dia mulai menggunakan kekerasan dan siksaan.

10. Memperbudak Manusia

Fir’aun menganggap selain dirinya adalah budak. Dia merampas kebebasan rakyatnya. Semua harus diam. Tidak boleh ada yang menuntut bahkan hanya sekedar untuk memberi saran. Semua adalah budak yang tidak memiliki hak bahkan atas diri mereka sendiri. Semua ada ditangan Fir’aun. “Maka mereka berkata, “Apakah (pantas) kita percaya kepada dua orang manusia seperti kita, padahal kaum mereka (Bani Israil) adalah orang-orang yang menghambakan diri kepada kita?” (Al-Mukminun 47)

11. Melakukan Kerusakan di Bumi Allah

Menciptakan kerusakan di bumi Allah tidak bisa dilakukan sendirian. Setidaknya harus ada 3 penopang yang membuat kekuasaan dzolim ini masih terus berjalan. Kebejatan itu harus memiliki pemimpin. Pemimpin dzolim itu telah digambarkan secara utuh oleh Fir’aun. Namun pemimpin itu harus ditopang oleh orang ahli yang menghabiskan hidupnya untuk menjilat kepada penguasa. Dan posisi ini ditempati oleh Haaman, mentri Fir’aun. Tak cukup itu, kekuasaan harus ditopang oleh dana yang dimiliki orang-orang kaya. Dengan hartanya dia mendekat kepada Raja untuk mendapatkan keuntungan yang lebih besar dari memeras rakyat jelata. Posisi ini dijalankan oleh seorang kognlomerat bernama Qorun.

Satu sama lain saling menopang. Setiap kerusakan di suatu tempat pasti ada tiga tipe orang ini yang saling bekerja sama. “Kepada Fir‘aun, Haman dan Qarun; lalu mereka berkata, “(Musa) itu seorang pesihir dan pendusta.”(Ghofir 24)

Terkadang, seorang yang memiliki harta lebih berbahaya dari dua tipe lainnya. Karena dia yang menata semua strategi. Yang berharta yang berkuasa. Karenanya, dalam ayat lain Allah dahulukan Qorun dari Fir’aun dan Haaman. “Dan (juga) Qarun, Fir‘aun, dan Haman.” (Al-Ankabut 39)

Kenapa mereka bisa menjadi perusak, durjana dan keji?

Karena mereka memelihara sifat-sifat sebelumnya dan masyarakat juga telah dibodohi, akhirnya mereka dapat berlaku sewenang-wenang. (hd/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL