Oleh : Nur el-Fikri*

Proklamasi

“Kami bangsa Indonesia, dengan ini menyatakan kemerdekaan kami. Hal-hal mengenai pemindahan kekuasaa dan lain-lain diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.

Jakarta, 17 -08-1945.

Atas nama Bangsa Indonesia

Soekarno-Hatta.

bendera-indonesia Alhamdulillah hari ini kita memperingati kemerdekaan Indonesia yang ke-69. Namun, takkita nafikan bahwa krisis tetap melingkupi kita dalam setiap peringatan kemerdekaan dalam setiap orde yang kita lalui, orde lama, orde baru, dan orde reformasi. Bayangkan, 69 tahun kita merdeka, badai krisis di Indonesia masih terasa. Saat ini, kita memperingati kemerdekaan di tengah perselisihan para pemimpin di sidang MK untuk “memindahkan” kekuasaan. Di tengah pegendalian subsidi BBM yang mencekik APBN. Di tengah maraknya pembunuhan mutilasi, penculikan anak, hingga pemerkosaan. Bahkan di tengah gelombang teroris ISIS yang mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia dan ingin megubahnya menjadi Daulah Islamiyah versi mereka. Karena itu, peringatan kemerdekaan hari ini, layak pula dijadikan mometum kembali untuk menjalin lebih erat sila ketiga Pancasila : Persatuan Indonesia. Sebab, persatuan itulah yang memicu kebangkitan hingga kita memperoleh kemerdekaan.

Mungkin secara nasional kita sedang memperingati kemerdekaan, tetapi dalam strata rakyat kita akan melihat kutub-kutub yang berbeda. Sekelompok kecil rakyat Indonesia telah menikmati kue kemerdekaan. Sekelompok lainnya berusaha mengisi kemerdekaan. Tapi sebagian besar rakyat pada dasarnya masih berjuang memperoleh kemerdekaan. Yakni kemerdekaan dari pengangguran karena sulitnya mendapatkan pekerjaan, kemerdekaan dari kemiskinan karena susahnya memperoleh akses ekonomi, kemerdekaan dari kebodohan karena mahalnya biaya pendidikan, kemerdekaan dari kekerasan kelompok tertentu karena berambisi mengebiri kebebasan beragama dan berkeyakinan. Karena itu perjuangan belum berakhir. Berjuang untuk kesejahteraan, berjuang untuk kemakmuran, erjuang untuk persatuan, dan berjuang untuk keadilan. Memang kalau kita mau persingkat kemerdekaan sinonim dengan perjuangan. Teriakan merdeka…merdeka..merdeka, sama dengan berteriak : berjuang…berjuang…berjuang.

Kita sepakat bahwa kemerdekaan hanya mungkin di dapat jika kita berjuang bersatu padu melawan penjajahan. Dan persatuan bisa diwujudkan melalui landasan kebersamaan, baik itu nasionalisme kebangsaan yang disatukan dalam satu tanah air dan satu bangsa. Kemerdekaan juga akan tercapai jika muncul para pahlawan (orang-orang besar) atau gagasan-gagasan besar. Orang-orang besar (para intelektual, cendekiawan, atau pemimpin) akan menyadarkan manusia dan membawa mereka untuk melakukan gerakan pembebasan dan kebangkitan yang terarah. Orang-orang besar ini dan gagasan-gagasan besarnya, akan memicu masyarakat untuk melakukan perlawanan atas segala jenis penjajahan baik fisik, politik, kebudayaan maupun ideologis.

Namun, tanpa menafikan peran intelektual dan gagasannya, peran kesatuan bahasa, kesatuan tanah air, atau kesatuan bangsa, sesungguhnya kebangkitan dan perlawanan lebih di dasarkan pada rasa kemanusiaan yang sama. Dan rasa itu, tidaklah di dapatkan melalui unsur-unsur tersebut, melainkan timbul dari rasa kesatuan penderitaan. Proklamator Indonesia, Ir. Soekarno menegaskan bahwa para intelektual hanyalah menunjukkan jalan untuk menyalurkan arus aspirasi bangsa sehingga mencapai lautan keselamatan dan kebebasan. Baginya, pergerakan rakyat muncul dari kesengsaraan rakyat, dan pengaruh kaum intelektual (pemimpin) atas jiwa rakyat pada dasarnya juga muncul dari kesengsaraan rakyat tersebut. Begitulah pula dengan cita-cita kemerdekaan yang digagas oleh para pendiri bangsa ini, semua itu didasarkan pada kesadaran akan penderitaan bersama.

Dengan demikian, untuk mewujudkan kemerdekaan, kita membutuhkan sekelompok orang yang memahami dialektika zamannya, sehingga tidak terkejut oleh tekanan zaman yang melingkupinya. Dan ternyata, bangsa ini belum mengerti tentang situasi zamannya, sehingga terkejut, saat tiba-tiba mendapati bangsa ini dalam masalah serius. Kita belum mengenal zaman kita sendiri sehingga kita bingung menghadapinya. Kita bingung akan kenaikan BBM, bingung persoalan investor, bingung soal privatisasi, bingung soal liberalisasi, bingung soal arah pembangunan, bingung masalah kemiskinan, bingung masalah pengangguran, bingung masalah hutan, bingung masalah pendidikan, bingung masalah integrasi bangsa, bingung menghadapi teroris berkedok agama, bingung..bingung..dan bingung. Begitulah, sehingga kita pun akhirnya mengeluarkan kebijakan dari hasil kebingungan.

Kebijakan hasil kebingungan ini menghasilkan mahalnya biaya kebutuhan, mahalnya biaya pendidikan, sulitnya mendapatkan pekerjaan, meningkatnya keterpurukan masyarakat yang hidup dalam kemiskinan, dan meningkatnya kekerasan di tengah-tengah kehidupan masyarakat. Meskipun begitu, kita patut ‘optimis dan bangga’ kata Presiden dalam pidatonya di Gedung DPR, karena kita mengalami kemajuan perekonomian, pembangunan infrastruktur yang merata, kewajiban belajar 12 tahun, peningkatan serta keberhasilan lainnya dengan menunjukkan angka-angka statistik yang fantastik. Mudah-mudahan itu bukan hanya dalam pidato dan kertas-kertas laporan yang seringkali berbalut ABS (Asal Bapak Senang).

Jadi, dengan kesadaran untuk kemerdekaan ini dibantu dengan semangat reformasi, mari kita bersatu membentuk kesadaran bersama akan keterpurukan bangsa ini dan berjuang bersama menuju kesejahteraan sosial yang berkeadilan. Dengan memahami kondisi dan situasi yang dihadapi saat ini, dan dengan cita-cita yang mulia kita semua bersatu dalam usaha mewujudkan kamandirian bangsa yang diikmati bersama, bukan sekadar keuntungan berkuasa. Karena itu proklamasi hari ini harus berbunyi :

“Hal-hal mengenai pengentasan kemiskinan, pengurangan pengangguran, penegakan keadilan, penguatan persatuan, pemerataan pendidikan, dan hal-hal lain untuk kesejahteraan rakyat, diselenggarakan dengan cara seksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.(hd/liputanislam.com)

*Pengamat sosial keagamaan.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL