Sejarah Jazirah Arab4. Provinsi Hijaz

Hijaz, yang terletak di pantai Laut Merah, dalam kitab Perjanjian Lama disebut sebagai Faran, suatu tempat suci. Di timur, provinsi ini dibatasi oleh Nejd. Di selatan oleh Asir. Di sebelah barat oleh Laut Merah. Dan di sebelah utara oleh Syria Arab (Arabia Petra). Tepat di seberang negeri ini terdapat rangkaian pegunungan dikenal sebagai Jabalus Sarat, yang berderet dari selatan ke utara, yang puncak tertingginya 8.000 kaki. arus air yang mengalir melalui pegunungan itu menjadikan negeri ini subur, penuh taman serta tanah-tanah pertanian. Bagian tersubur dari daerah yang ke bagian aliran air terletak di pantai Laut Merah. Sedangkan daerah yagn tak terkena aliran air merupakan padang pasir yang tidak mungkin ditanami. Jeddah, pelabuhan bagi Makkah merupakan kota pantai terbesar di Hijaz. Kota pantai terbesar adalah Yanbu, pelabuhan bagi Madinah. Kota-kota penting lainnya di Hijaz adalah Makkah, Madinah serta Thaif.

1. Makkah. Makkah atau Becca, dikenal sebagai Ummul Qura, atau ibu dari semua kota. Inilah pusat provinsi Hijaz. Kota ini didirikan oleh Nabi Ibrahim (Abraham), tempat putranya, Ismail (Ishamel), berpindah. Dan disinilah Nabi Muhammad dilahirkan. Makkah terletak pada 21°38’ LU, dan 40°9’ BT. Tingginya sekitar 300 meter diatas permukaan laut. Kini, panjang kota dari timur ke barat, hampir 30 km. dan lebarnya, dari selatan ke utara, sekitar 1,5 km. Pada 2.500 SM. Makkah merupakan tempat singgahnya para pedagang. Ibrahim dan Ismail di kota ini membangun sebuah altar dengan nama Allah yang dinamakan Ka’bah. Keturunan Ismail berjaya di sini sampai bani Qahtan naik ke puncak kejayaannya. Belakangan, keturunan Ismail berhasil pula mendirikan sebuah kerajaan. Dia itulah bapak penguasa kota itu. Mereka mendirikan pemerintahan sendiri, dan berbagai departemen dalam pemerintahan dipercayakan kepada kepala-kepala keluarga. Beberapa suku Arab Ismili juga tinggal di kota-kota sekitar Makkah.

2. Madinah. Pada mulanya kota ini disebut Yatsrib. Ketika terpilih sebagai tempat tinggal Nabi dikenal sebagai Madinahtun Nabi atau kota Nabi. Lama kelamaan menjadi Al-Madinah atau Madinah saja. Kota ini terletak 619 meter di atas permukaan laut, pada 24°15’ LU dan 39°55’ BT. Madinah terletak di sebelah utara garis Equator. Pada musim panas suhu naik sampai 28°C. dan pada musim dingin, turun menjadi 10° di siang hari, dan 5° di bawah nol di malam hari sehingga air pun menjadi beku.

Kota Yatsrib mula-mula ditempati oleh suku Amalek. Sesudah itu ditempati oleh orang-orang Yahudi. Dan kemudian oleh dua marga dari suku Azd yang dikenal sebagai Aus dan Khazraj. Kedua marga terakhir ini dijuluki kaum Ansar (pembantu) oleh Nabi Muhammad, karena mereka menerima baik agama Islam, dan bersikap ramah serta membantu pengungsi-pengungsi Islam

3. Thaif. Thaif dapat dikatakan sebagai surganya Hijaz. Kota ini paling subur dan kaya, tempat orang-orang kaya Hijaz melewatkan musim panas mereka. Sebelum hijrah, Nabi Muhammad pergi ke Thaif untuk menyiarkan Islam, tetapi tak seorang pun yang mau mendengarkannya. Pada tahun ke-8 H, Thaif dikepung oleh pasukan Nabi. Pada tahun ke-9 kepala suku mereka memluk Islam, dan karena itu ia dibunuh oleh rakyatnya sendiri. Tetapi kematian kepala suku itu tidak sia-sia. Pada tahun yang sama utusan suku menemui Nabi, dan memeluk Islam.

 

Kota-kota Hijaz lainnya.

Kota-kota dan tempat-tempat di bawah ini perlu dicatat:

  1. Jawf atau Wadil Qura. Di sebelah utara Madinah, tempat tinggal suku Tsamud, dengan Hijr sebagai ibu kotanya. Quran juga menyebut-nyebut kota dan penduduk Jawf. Nama yang lebih dikenal untuk kota ini adalah Mada’in Shalih (kota tempat tinggal Shalih) menurut nama Nabinya.
  2. Tabuk. Disinilah Nabi Muhammad tinggal untuk beberapa lama, guna mempersiapkan pertahanan menghadapi serangan Romawi. Dan dalam perjalanan, beliau harus melintasi kota Hijr.
  3. Khaibar. Di sebelah barat Madinah, merupakan basis kuat kaum Yahudi, serta merupakan pusat kegiatan politik mereka. Pada tahun ke-7 H. Nabi Muhammad menaklukkannya.
  4. Midian. Di pantai Laut Merah, di balik kota Hijr. Di kota inilah tinggal Nabi Joshua, mertua Nabi Musa. Kota ini merupakan ibu kota pemerintahan suku Midian.

Pada permulaan Islam, kota-kota tersebut berada dalam kekuasaan kaum Yahudi, dengan benteng-bentengnya yang kuat. Tetapi semuanya ditaklukkan oleh kaum Muslimin pada masa hidup Nabi.

 

5. Syria Arab

Syria Arab yang oleh orang Yunani disebut Arabia Petra, wilayahnya meliputi seluruh jalur Syria, Mesir, padang pasir Syria, Hijaz, serta Nejd. Bagian Arabia ini merupakan tempat bersejarah yang penting. Disinilah Nabi Musa mendapat kehormatan berbicara dengan Allah di Gunung Sinai yang di tepinya terletak negeri yang dijanjikan Tuhan untuk keturunan Isra’il. Penyelidik-penyelidik arkeologi modern banyak menambah arti penting daerah ini.

Suku Amalek tinggal disini dan mendirikan kerajaan yang sangat berkuasa, bahkan kadang-kadang melebarkan kekuasaannya sampai ke Hijaz. Syria Arab meliputi Balqa, Oman, Busra, dan Tadmur dan lain-lainnya. Kota yang terakhir disebut itu terkenal dengan perdagangannya. Nama Zaba (Zenobia), seorang ratu dari Tadmur, sangat terkenal di kalangan bangsa Arab. Beberapa waktu sebelum datangnya Islam, bani Ghassan memerintah disini dengan Busra sebagai ibu kotanya. Hamdani menulis bahwa sesudah Islam Banu ‘Ajal bermukim di Syria Arab sampai ke Aleppo. Marga Rabiah, sebuah cabang suku Tai, juga tinggal di sini. Dan cabang-cabang suku Jadhimah hidup di dekat Ghaza. Pada waktu Islam lahir kota-kota dan daerah disini berada di bawah kekuasaan orang-orang Kristen Arab. Sementara Yahudi di bawah kekaisaran Romawi.

6. Irak Arab

Orang Yunani mengenalnya sebagai Arabia Deserta. Yang wilayahnya meliputi jalur yang membentang melalui Teluk Persia, Euphrate, padang pasir Syria, dan Nejd. Pada zaman kuno, suku Amalek mendirikan kerajaan besar di sini. Marga Rabi’ah juga tinggal disini untuk beberapa waktu. Pada zaman Islam, sewaktu khalifah kedua Umar memerintah, disini dibanugn kota Kufah serta Busra (dua kota yang kemudian menajdi pusat literatur, peradaban, serta kebudayaan Arab).

Ibn Khaldun menulis bahwa sebelum Islam, suku ‘Abid mendirikan sebuah negara di Sinjar, yang terletak di Irak dekat Euphrate. Penguasa terakhir negara itu bernama Dizan bin Mu’awiyah. Puing-puing bangunan keluarga ini masih tampak di Lembah Sanjar. Salah satu cabang suku Tai, yaitu “Zubaid”, hidup berkembang disini, dan sebuah cabang Bani ‘Ajal menyebar di seluruh Yaman dan Irak. Pada waktu Islam datang keluarga Arab Manadhira memerintah Irak di bawah kekuasaan kerajaan Persia, dengan ibu ktoanya Hirah dekat Kufah. (hd/liputanislamcom)

*sumber : disadur darian-Nadvi, Sejarah Geografi Alquran.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL