Oleh : Nurcholis Madjid

cak-nur-nurcholish-madjidKeadaan seperti itulah yang didapati Umar ibn al-Khattab ra ketika masuk kompleks bekas Masjid Aqsha, yang kemudian ia dan kaum Muslim membersihkannya, lalu ia dirikan masjid dalam kompleks itu. Sebagaimana diterangkan secara singkat yang telah dikutip di atas, sebelum menetapkan tempat masjid itu, Umar bertanya kepada salah seorang sahabat, bernama Ka’b al-Ahbar, bekas pemeluk agama Yahudi, di mana sebaiknya diadakan sembahyang. Ka’b menunjukkan tempat sebelah utara Shakhrah, nampaknya dengan maksud agar sembahyangnya menghadap ke arah Shakhrah itu (kiblat kaum Yahudi dan bekas kiblat pertama kaum Muslim) sekaligus ke arah Masjid Haram di Makkah. Umar memilih tempat di sebelah selatan Shakhrah, menghadap ke Makkah dan membelakangi Shakhrah itu. Di situlah Umar ra memerintahkan didirikan masjid, sebagaimana dituturkan oleh Ibnu Khaldun.

Masjid itu, juga sebagaimana dituturkan Ibn Khaldun, kelak dibangun dengan megah oleh Khalifah al-Walid ibn Abdul Malik. Tetapi sebelum pembangunan masjid itu oleh Khalifah al-Walid, sebuah kubah yang sangat indah, yang ditopang oleh bangunan bersegi delapan (oktagonal) pada tahun 72 H/691 M didirikan oleh Khalifah Abdul Malik ibn Marwan, ayah al-Walid, persis di atas Shakhrah atau Karang Suci itu. Bangunan ini, sudah disebutkan di atas, kemudian dikenal sebagai Qubbat al-Shakhrah, karena dirancang untuk melindungi Karang Suci, kiblat pertama umat Islam, dan tempat Nabi saw menjejakkan kaki beliau menuju sidrat al-muntaha dalam peristiwa mi’raj. Karang Suci itu sendiri berbentuk batu besar yang berlubang di tengahnya, berukuran 18 kali 14 meter. Pada waktu Qubbat al-Shakhrah ini didirikan, Makkah berada di tangan kekuasaan Abdullah ibn al-Zubair yang memberontak kepada Bani Umayyah di Damaskus, sehingga kaum Muslim Syam (Syria) tidak dapat menunaikan ibadah haji. Karena itu ada yang mengatakan bahwa motif Abdullah ibn Malik ibn Marwan mendirikan Qubbat al-Shakhrah ialah untuk mengalihkan perhatian kaum Muslim dari Abdullah ibn al-Zubair. Tetapi banyak para ahli yang mengatakan bahwa motif sesungguhnya Abdul Malik ibn Marwan membangun Kubah Karang itu ialah untuk menegaskan kemenangan dan keunggulan Islam di atas agama-agama lain, khususnya Yahudi dan Nasrani, persis di pusat kedua agama itu sendiri, yaitu Bayt al-Maqdis atau Yerusalem.[i] Dan begitulah keadaannya sampai saat sekarang ini. Tetapi sebelum itu semua, penting sekali diketahui peristiwa yang menyangkut Umar dan penguasa Yerusalem pada saat dibebaskan kaum Muslim. Di sini kita kutipkan saja keterangan Ibn Khaldun yang sangat menarik :

“Umar ibn al-Khattab datang ke Syam, dan mengikat perjanjian perdamaian dengan penduduk Ramalla atas syarat mereka membayar jizyah. Kemudian ia perintahkan Amr (ibn al-Ash) dan Syarahbil untuk mengepung Bayt al-Maqdis, dan mereka lakukan. Setelah pengepungan itu membuat mereka (penduduk Bayt al-Maqdis) sangat menderita, mereka meminta perdamaian dengan syarat bahwa keamanan mereka ditanggung oleh Umar sendiri. Maka Umar pun datang kepada mereka dan ditulisnya perjanjian keamanan untuk mereka yang teksnya (sebagian) adalah : “Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dari Umar ibn al-Khattab kepada penduduk Aelia (Iliya, yakni Bayt al-Maqdis atau Yerusalem), bahwa mereka aman atas jiwa dan anak turun mereka, juga wanita-wanita mereka dan semua gereja mereka tidak boleh diduduki dan tidak boleh dirusak.

Umar ibn al-Khattab ra masuk Bayt al-Maqdis dan sampai ke Gereja Qumamah (Qiyamah) lalu berhenti di plazanya. Waktu sembahyang pun datang, maka ia katakan kepada Patriak, “Aku hendak sembahyang.” Jawab Patriak, “Sembahyanglah di tempat Anda.” Umar ra menolak, kemudian sembahyang pada anak tangga yang ada pada gerbang gereja, sendirian. Setelah selesai dengan salatnya itu ia berkata kepada Patriak, “Kalau seandainya aku sembahyang di dalam gereja, maka tentu kaum Muslim kelak sesudahku akan mengambilnya dan berkata, ‘di sini dahulu Umar ra sembahyang’.” Dan Umar ra menulis (perjanjian) untuk mereka bahwa pada tanggal itu tidak boleh ada jamaah untuk sembahyang dan tidak pula akan dikumandangkan azan padanya. Kemudian Umar ra berkata kepada Patriak, “Sekarang tunjukkan padaku tempat yang disitu aku dapat mendirikan sebuah masjid.” Patriak berkata, “Di atas Karang Suci (Shakhrah) yang di situ dahulu Allah pernah berbicara kepada Nabi ya’qub.” Umar ra mendapati di atas karang itu banyak darah (di samping sampah dan kotoran), maka ia pun mulailah membersihkannya dan mengambil darah itu dengan tangannya sendiri da mengangkatnya dengan bajunya sendiri. Semua kaum Muslim mengikuti jejaknya, dan sampah itu bersih ketika itu juga, kemudian ia perintahkan untuk didirikan masjid di situ.”[ii]

Begitulah keadaan Yerusalem atau al-Quds sampai sekarang. Kecuali bahwa sekarang kota itu secara militer dalam kekuasaan Israel, seluruh bangunan Islam tetap utuh dan berada dalam kekuasaan orang Islam (melalui Yordania, mungkin nanti akan dipindahkan kepada kekuasaan Palestina). Begitu pula tempat-tempat suci agama-agama lain, yaitu Yahudi dan Kristen, tetap utuh (atau sebagian besar demikian), berkat proteksi kaum Muslim sesuai dengan ajaran Islam.

Tentang Umar ra yang menolak sembahyang di gereja Holy Sepulchre, dapat kita baca dari keterangan Ibn Khaldun tadi, alasanya ialah pertimbangan keadaan perang. Orang Islam di Barat, khususnya para mahasiswa seperti di Universitas Chicago, sering melakukan sembahyang Jum’at di gereja, sebelum ada masjid. Sebaliknya, Nabi pernah membolehkan (lebih tepat membiarkan) delegasi Nasrani dan Najran untuk bersembahyang di masjid beliau di Madinah. Ini diterangkan oleh Ibn al-Qayyim al-Jawziyah, murid setia Ibn Taymiyah, dalam sebuah kitabnya, dan diambil kesimpulan bahwa memang kaum Ahlul Kitab boleh masuk masjid, dan bahkan sembahyang di sana dengan dihadiri oleh umat Islam, yaitu dalam keadaan terpaksa, dan tidak dijadikan sebagai kebiasaan.[iii] Kelapangan Islam yang diteladankan oleh Nabi saw itulah yag diteruskan oleh Umar ra di Yerusalem dengan piagamnya (Piagam Aelia, Mitsaq Iliya) yang menjamin kebebasan beragama. Maka di mata penduduk al-Quds atau Yerusalem, tanpa memandang agama masing-masing, Umar ra adalah pahlawan mereka yang amat dihormati.

Dari semua kisah tersebut, dapat diketahui dengan jelas bahwa Yerusalem melambangkan kesucian tiga agama: Yahudi, Nasrani, dan Islam, namun Islamlah yang memberinya rahmat terakhir.  Oleh karena itu kalau ada pada kaum Yahudi dan Nasrani dambaan kepada datangnya Juru Selamat, maka, sepanjang menyangkut Yerusalem sebagai pusat dari segala-gelanya bagi mereka, juru selamat itu tidak lain ialah Umar, seorang Khalifah Islam. Namun kini, seperti sudah disinggung, Yerusalem berada dalam kekuasaan militer, jika bukan politik, rezim Israel, setelah mereka merebut kota itu dari Yordania dalam “Perang Enam Hari” di tahun 1967. Peristiwa itu menimbulkan euphoria pada kaum Yahudi dan sebagian kaum Nasrani, karena bagi mereka hal itu merupakan pemenuhan ramalan suci mereka dan menjadi bagian dari eskatologi mereka. Kembalinya Yerusalem ke tangan kaum Yahudi itu, menurut kepercayaan mereka, adalah mengawali peristiwa yang paling dahsyat dan penting dalam sejarah umat manusia, yaitu perang besar antar agama-agama, yang mereka namakan Armageddon, mirip dengan mitos Baratayuda dalam sistem budaya Hindu dan Buddha. Berbarengan dengan itu, kata mereka, kaum Yahudi akan berhasil membangun Kuil Ketiga (The Third Temple), di atas bukit Moriah, bekas letak masjid yang didirikan Nabi Sulaiman tiga ribu tahun yang lalu. Kemudian mereka akan meletakkan kembali Tabut (yang sekarang katanya diketemukan di kota kecil Axum, di Eithophia, setelah diselamatkan dan dibawa ke sana oleh kaum Yahudi yang kini berkulit hitam dan disebut Yahudi Falashah). Dan dengan begitu maka akan kembalilah kekuasaan kaum Yahudi di bawah pimpinan Dinasti Dawud (Davidic Dynasty), tidak saja atas Palestina, tetapi atas seluruh dunia, dan dunia pun akan adil-makmur, aman dan damai, lalu tiba kiamat.

Begitulah kepercayaan eskatologis kaum Yahudi, juga sebagian kaum Kristen, yang pandangan keagamaannya fundamentalistik. Apakah mereka akan membangun kembali “Kuil” itu dengan menghancurkan bangunan-bangunan Islam di sana, masih menjadi pertengkaran kaum Yahudi dan Nasrani “sekular” yang tidak mempercayai itu semua, menentang itu semua, dan memandang itu semua sebagai nonsen besar. Maka berkaitan dengan ini ada baiknya kita renungkan firman Allah dalam Alquran, yang ditujukan kepada Bani Israil setelah mengalami dua bencana besar oleh Nebukadnezar dan Titus di atas sebagai azab Allah karena dosa-dosa mereka, “Mudah-mudahan Tuhan-mu akan melimpahkan rahmat-(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang-orang yang tidakberiman.” (Q.S. al-Isra : 8). Selesai (hd/liputanislam.com)

——————————

[i] Lihat pembahasannya dalam Andrew Rippin, Muslims, Their Religious Beliefs and Practices (New York: Routledge, 1991), vol. 1, h. 53-54.

[ii] Ibn Khaldun, Tarikh Ibn Khaldun (Beirut: dar al-Fikr, 1401 H/1981 M)m jil. 2, h.268-269.

[iii] Lihat Ibn al-Qayyim al-Jawziyah, Zad al-Ma’ad, jil. 3, h. 38 dan 42.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL