Oleh : Nurcholis Madjid

cak-nur-nurcholish-madjidPada saat sekarang, dalam literatur tentang Yerusalem, kuil, haykal atau mesgid (masjid) yang didirikan oleh Nabi Sulaiman itu biasa disebut “Kuil Pertama” (The First Temple, al-Haykal al-Awwal). Sebab kelak, sekitar saat tampilnya Nabi Isa al-masih as, seorang tokoh raja Yahudi yang dikenal sebagai Herodotus yang agung (Herod the Great) membangun kembali kuil itu di atas reruntuhan kuil lama, dan disebut Kuil Kedua (The Second Temple, al-Haykal al-Tsani). Inipun kelak dihancurkan, oleh tentara Titus dari Roma, dan tidak pernah dibangun kembali sampai datangnya Islam dan dibangun menjadi apa yang ada sekarang dan menjadi kompleks al-Haram al-Syarif.

Haykal atau masjid yang didirikan oleh Nabi Sulaiman as itu hancur oleh serbuan Nebukadnezar dari babilonia pada 587 SM (jadi sekitar empat abad sejak berdiri). Selain menghancurkan Yerusalem dan sekitarnya, penakluk dari Babilonia itu juga membunuh Bani Israildan memboyong sebagiannya ke Babilonia untuk dijadikan budak. Periode sejarah Yahudi inilah yang disebut “Masa Perbudakan” (Era of Captivity), dan dalam suasana itulah mulai timbul mesianisme pada mereka (yaitu paham dan pandangan hidup yang diliputi oleh rasa tidak berdaya yang kemudian melahirkan harapan pertolongan “dari langit” melalui seorang pemimpin juru selamat). Untunglah kaum Yahudi tidak terlalu menjadi tawanan dan budak Babilonia karena sekiar 75 tahun setelah itu Babilonia diserbu Persia dan dikalahkan, kemudian kaum Yahudi dibebaskan dan dibolehkan kembali ke Yerusalem.

Walaupun boleh kembali ke Yerusalem, namun Persia hanya mengizinkan pembangunan kembali masjid secara sederhana saja, sekedar sebagai tempat ibadat. Hal demikian berlangsung selama sekitar enam abad, sampai tampilnya Herod yang agung. Herod sendiri disebutkan bahwa dia bukanlah orang Bani Israil, jadi seorang “Gentile” (suatu sebutan oleh kaum Yahudi kepada orang asing, dengan konotasi yang sangat negatif). Herod adalah orang Arab dari suku Idumean (?), namun berhasil menjadi pemimpin Yahudi dan penguasa Palestina berkat akomodasinya kepada rezim Roma. Lebih dari itu, mungkin untuk memberi legitimasi bagi keuasaan politiknya, Herod kemudian membangun kembali Masjid Aqsha peninggalan Nabi Sulaiman hampir seribu tahun yang lalu. Bangunan Herod ternyata llebih megah dan mewah lagi dari Haykal Sulayman, dan literatur Barat biasa menamakannya Kuil Kedua (The Second Temple). Namun tidak lama setelah berdiri, yaitu pada tahun 70 M, Kuil Kedua inipun dihancurkan tentara Roma atas perintah Titus. Untuk kedua kali peristiwa penghancuran Masjid Aqsha itu. Alquran, sebagaimana disebutkan banyak penafsir, menyebutkan demikian :

Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Isra’il dalam kitab (Taurat) itu, “Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi ini dua kali dan pasti kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar. Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar, lalu mereka merajalela di kampung-kampung (untuk mencarimu), dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana. Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka kembali dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak, dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar. Jika kamu berbuat baik, (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri; dan jika kamu berbuat jahat, maka kejahatan itu bagi dirimu sendiri. Apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang yang akan menguasaimu sehingga) mereka membuat wajahmu suram (karena sedih), memasuki masjid (Masjidil Aqsha) sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama, dan membinasakan sehabis-habisnya apa saja yang mereka kuasai. Mudah-mudahan Tuhan-mu akan melimpahkan rahmat-(Nya) kepadamu; dan sekiranya kamu kembali kepada (kedurhakaan), niscaya Kami kembali (mengazabmu) dan Kami jadikan neraka Jahanam penjara bagi orang-orang yang tidakberiman.” (Q.S. al-Isra : 4-8).

Karena kebencian mereka kepada bangsa Yahudi, penguasa Romawi berusaha melenyapkan sama sekali sisa-sisa keyahudian pada Bayt al-Maqdis dan bekas Masjid Aqsha itu, dengan menjadikannya pusat penyembahan berhala mereka. Di atas bekas Shakhrah yang dipercayai sebagai pusat Masjid Aqsha itu mereka letakkan patung Dewi Aelia, berhala Romawi, dan nama Yerusalem atau Bayt al-Maqdis pun diubah menjadi Aelia Kapitolina, atau Aelia saja. (Maka orang Arab mengenalnya sebagai Iliya, sehingga nama ini pun tercantum dalam naskah perjanjian keamanan yang dibuat Umar untuk penduduk Bayt al-Maqdis).

Keadaan itu berlangsung hampir tiga setengah abad, sampai saatnya raja Konstantin dari Byzantium menyatakan diri memeluk agama Kristen. Kemudian ibundanya, Helena, pergi ke Yerusalem, mencari bekas-bekas Isa al-Masih. Ia tidak menemukan barang sesuatu apa pun, namun diberitahu bahwa di bawah sebuah pelbak konon masih ada sisa kayu salib yang digunakan untuk menyalib Isa al-Masih. Helena memerintahkan agar diadakan penggalian tempat sampah itu, dan konon salib itu diketemukan. Maka di atasnya oleh Helena didirikan gereja dan dinamakan Gereja Kiamat (Kanisat al-Qiyamah, yakni “Gereja Kebangkitan”, sebab kata qiyamah yang artinya “kebangkitan” dikaitkan dengan kepercayaan Kristen bahwa Isa al-Masih, setelah mati dan dikubur tiga hari, lalu bangkit dari kuburnya untuk naik ke langit, duduk di sebelah kanan Tuhan Bapak). Orang-orang Kristen Barat menyebut Gereja itu Gereja Holy Sepulchre (Keluarga Suci), maksudnya ialah Isa al-Masih (yang hidup senantiasa didampingi ibundanya). Inilah tempat paling suci bagi agama Kristen di Yerusalem.

Pada waktu Helena membangun Gereja Kiamatnya, karena kemarahannya kepada kaum Yahudi yang dituduhnya telah melemparkan salib al-Masih ke sampah, ia perintahkan untuk menimbuni Shakhrah atau Karang Suci, kiblat kaum Yahudi, dengan sampah dan kotoran pula. Ia juga memerintahkan untuk menghancurkan sisa-sisa Masjid Aqsha (peninggalan Herodotus) yang maish berdiri, sehingga yang akhirnya tersisa hanyalah sebuah tembok, yang oleh orang Yahudi disebut “Tembok Ratap” (Wailing Wall). Tembok itu kini merupakan tempat paling suci bagi kaum Yahudi dan menjadi tujuan kunjungan mereka yang terpenting. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL