Oleh : Nurcholis Madjid

cak-nur-nurcholish-madjidMeskipun hubungan Ibrahim dengan Yerusalem tidak jelas, hubungannya dengan tanah Kana’an tidak pernah dipersoalkan orang, apalagi diragukan. Semua riwayat keagamaan menyebutkan hal itu. Dan adalah Kana’an tempat Ibrahim menetap itu yang kemudian dalam Alquran disebut sebagai “Tanah Suci” (al-Ardl al-Muqaddasah), yang dijanjikan Allah untuk Bani Israel setelah terbebaskan dari perbudakan bangsa Mesir dan keluar dari negeri itu secara besar-besaran (eksodus) di bawah Nabi Musa as (lihat Q.S. al-Maidah: 21), sebagaimana keterangan Ibnu Khaldun di atas. Hal ini menjuruskan kita untuk meninjau secukupnya peran Nabi Musa dalam kaitannya dengan Palestina.

Adalah Ibrahim yang beranakkan Ismail dan Ishaq. Ismail lahir dari isterinya Hajar, seorang bekas budak wanita Mesir hadiah Firaun. Ia diberi nama Ismail, (diarabkan dari bahasa  Ibrani, eshma-El, Allah telah mendengar), karena menurut suatu pendapat, karena Ibrahim meyakini kelahiran anaknya itu adalah berkat doanya yang telah didengar Allah.[1] Sedangkan Ishaq yang beberapa tahun lebih muda daripada Ismail , lahir dari Isteri Ibrahim yang pertama, yaitu Sarah. Ia dinamakan Ishaq (diarabkan dari nama Ibrani izaak yang artinya “tertawa”) karena konon Sarah tertawa ketika menerima berita suci dari Malaikat bahwa dia akan mengandung meskipun lanjut usia (lihat Q.S. Hud: 71).

Karena masalah kekeluargaan dalam rumah tangga Ibrahim, tetapi dipercayai sebagai bagian dari rencana Ilahi untuk umat manusia, Ismail dan ibunya, Hajar, diantar Ibrahim keluar dari Kana’an menuju Hijaz di Arabia untuk kemudian menetap di “suatu lembah yang tidak bertetumbuhan” dekat al-bayt al-Muharram atau al-Masjid al-Haram, Makkah (lihat Q.S. Ibrahim: 37). Sedangkan Ishaq sendiri tetap bersama ayahandanya, Ibrahim, dan ibunya, Sarah, di Kana’an, di tempat yang kelak disebut Hebron, dan sesekali Ibrahim berkunjung ke Makkah, untuk beribadah sekitar Ka’bah dan menjenguk anaknya, Ismail.

Tentang kedua putra Ibrahim itu, seperti telah diketahui bersama, Alquran menyebut mereka sebagai Nabi dan Rasul Allah. Tetapi terdapat perbedaan peran antara Ismail dan Ishaq. Kepada Ismail Allah menjanjikan untuk mengembangkan anak cucunya menjadi bangsa yang besar dan memainkan peranan amat penting dalam sejarah umat manusia, namun tidak dijanjikan bakal bangkit dari kalangan mereka itu Nabi-nabi. Hanya ada doa Ibrahim untuk keturunannya melalui Ismail agar kelak dibangkitkan di antara mereka seorang Rasul yang bakal membacakan kepada mereka ayat-ayat Tuhan dan mengajari mereka Kitab Suci dan hikmah (kearifan, wisdom), serta mensucikan mereka (lihat Q.S. al-Baqarah : 129). Umat Islam percaya bahwa berkat doa Nabi Ibrahim as itulah maka bangkit dari keturunan Ismail seorang Nabi penutup segala Nabi, yaitu Muhammad saw. Dan berkat agama yang dibawanya, yaitu Islam, yang merupakan kelanjutan langsung agama para Nabi dan Rasul, khususnya agama Ibrahim, maka keturunan Ismail tampil sebagai bangsa yang besar dan amat berpengaruh, yang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia. Itulah makna kehadiran umat Islam, dan itu pula makna peradaban Islam yang dahulu pernah berkembang luar biasa dan yang sampai sekarang tetap dan terus membuahkan manfaat bagi umat manusia.

Sementara dari keturunan Ismail tampil hanya seorang Nabi, yaitu Nabi Muhammad saw, sedang dari keturunan Ishaq tampil banyak Nabi dan Rasul. Semua itu, baik yang terjadi pada keturunan Ismail maupun yang terjadi pada keturunan Ishaq, sepanjang penuturan dalam Perjanjian Lama, semuanya adalah hasil janji Allah kepada ayahanda mereka, Ibrahim (lihat Perjanjian Lama Kitab Kejadian, 17: 20-21). Para Nabi dan Rasul yang banyak tampil di Palestina itu adalah keturunan Nabi Ya’qub, anaknya Ishaq, cucunya Ibrahim. Ya’qub ini digelari Isra-El (Israil)  yang artinya “Hamba Allah”, maka keturunannya disebut Bani Israil (Anak-turun Israil).[2]

Nabi Ya’qub as atau Israil punya anak dua belas orang, sepuluh dari isteri pertamanya dan dua dari isteri keduanya. Dari yang sepuluh itu dua akan terkenal, yaitu Yehuda dan Levi, dan dua anak dari isteri keduanya, yaitu Yusuf dan Benyamin juga sangat terkenal karena mereka mewarnai sejarah Bani Israil. Adalah Yusuf, yang dalam pandangan Islam disebut seorang Nabi, yang karena suatu peristiwa lalu berada di Mesir, dalam lingkungan istana, menjabat sebagai menteri pangan. Sementara itu Nabi Ya’qub dan keluarganya tinggal di Kana’an, sampai akhirnya berimigrasi ke Mesir, bergabung dengan anaknya, Yusuf, yang berpengaruh dan berkedudukan tinggi itu.

Di Mesir itulah anak turun Nabi Ya’qub atau Bani Israil berkembang biak, dan dalam jangka waktu ratusan tahun lahirlah suatu kelompok etnis, kultural dan keagamaan, yang kelak juga dikenal sebagai bangsa Yahudi. Mereka tumbuh dan berkembang dalam dua belas suku, mengikuti jalur garis keturunan dua belas anak-anak Nabi Ya’qub atau Israil (lihat Q.S. al-Baqarah: 60). (hd/liputanislam.com)

———–

[1] Berkaitan dengan ini Alquran malah menyebutkan bahwa lahirnya kedua  anak Ibrahim itu, Ismail dan Ishaq, adalah karena Allah telah mendengar doanya: “Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku, meskipun aku telah lanjut usia, Ismail dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku pastilah Maha Pendengar doa” (Q.S. Ibrahim : 39)

[2] Menurut Ibrahim Khalil Barkah dalam bukunya Ibn Taymiyah wa Juhud-u hu fi al-Tafsir (Beirut : al-Maktab al-Islami, 1405/1984), h. 131, kata-kata “Israil” berasal dari bahasa Ibrani dari kata-kat “Isra” yang berarti “hamba” dan “Il” yang berarti Allah, sehingga makna perkataan “Israil” ialah “Hamba Allah” dan pilihan-Nya dari kalangan makhluk-Nya.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL