Oleh : Nurcholis Madjid

cak-nur-nurcholish-madjidDalam bukunya yang monumental, Muqaddimah, Ibn Khaldun mengatakan bahwa sebelum menjadi kota suci kaum Yahudi, al-Quds atau Yerussalem adalah kota suci para penyembah berhala, pusat pemujaan Dewi Venus (Zahrah). Kaum musyrik itu, yang oleh Ibn Khaldun disebut sebagai kaum Shabi’ah, menggunakan minyak sebagai unsur ritus mereka dalam bersembahyang. Minyak itu dituangkan ke atas Shakhrah dalam suatu upacara keagamaan.

Ibn Khaldun mengatakan bahwa kuil Zahrah itu akhirnya hancur, kemudian Yerusalem dijadikan kota suci kaum yahudi sejak zaman nabi Daud as.[1] Jadi pada masa hidup Nabi Ibrahim tidak ada keterangan yang pasti bahwa Yerusalem juga dipandang oleh Rasul Allah itu sebagai tempat suci, kecuali yang terkesan dari cerita kaum Yahudi berkenaan dengan percobaan Ibrahim melaksanakan perintah Tuhan untuk mengorbankan anaknya, Ishaq. Namun jika bukan al-Quds atau Yerusalem itu sendiri, maka Palestina khususnya Kana’an (Palestina Selatan), sangat erat terkait dengan sejarah Nabi Ibrahim, yang diakui sebagai bapak tiga agama: Yahudi, nasrani, dan Islam.

Nama “Ibrahim” sendiri banyak menarik perhatian para sarjana. Ada yang mengatakan bahwa nama itu diambil dari suatu kata-kata dalam bahasa Semitik kuno di babilonia yang mengandung arti “menyeberang” atau “mengembara.” Karena itu anak turunnya pun disebut bangsa Habiru atau Ibrani (Hebrew), yang menunjukkan pengertian sebagai bangsa pengembara atau nomad. Dan kata-kata Arab ‘Ibrani adalah satu akar dengan kata-kata ‘abara yang artinya “menyeberang” atau “melintas.” Kemudian kata-kata Arab ‘abara itu sendiri, dari sudut sharf akbar dalam ilmu Nahw (gramatika bahasa Arab), masih satu akar dengan kata-kata ‘arab, karena itu juga satu makna, yaitu sekitar makna pelintasan, penyeberangan, dan pengembaraan. (Karena itu alat angkutan seperti gerobak da lain-lain dalam bahasa Arab disebut ‘arabah).

Nabi Ibrahim disebut orang Habiru atau Ibrani menurut perkiraan para sarjana karena ia mengembara, meninggalkan tumpah darahnya, yaitu Kaldea di kawasan Babilonia (di lembah Mesopotamia atau dua sungai, yaitu Furat dan Dajlah atau Efrat dan Tigris, Irak sekarang). Ia bertikai dengan ayahnya sendiri dan bangsanya karena sikapnya yang menentang penyembahan berhala. Mula-mula ia mengembara menuju ke utara, dan untuk beberapa lama tinggal di Kota Harran, sebuah kota dekat perbatasan Irak dan Turki sekarang ini. Namun tidak lama ia tinggal di sana, karena dimusuhi oleh penduduk setempat, lagi-lagi disebabkan oleh tantangannya kepada syirik. Maka ia pun mengembara lagi, menuju ke barat, kemudian belok ke selatan mengikuti garis lembah “Bulan Sabit Subur” (the Fertile Crescent, yaitu daerah subur berbentuk bulan sabit sejak dari lembah Irak terus ke utara dan belok ke selatan menyusuri pantai timur Laut Tengah). Akhirnya Ibrahim sampai di Palestina Selatan atau Kana’an, menetap dan berkeluarga di sana, sampai akhir hayatnya dan dimakamkan di suatu tempat yang dinamai menurut namanya sendiri atau nama suku yang dilahirkannya, yaitu Hebron, tidak di al-Quds atau Yerusalem.

Dari sudut kedekatan kebahasaan itu sudah nampak pertalian erat antara bangsa-bangsa Semit, khususnya Arab dan Ibrani, terutama kaum Quraysi di Makkah dan kaum Ibrani di Kana’an. Dan dari situ pula dapat ditarik kesimpulan mengapa Nabi Muhammad saw begitu lekat hati beliau dengan al-Quds, sehingga, pertama, beliau jadikan kiblat salat dan, kedua, beliau jadikan tujuan dalam sebuah perjalanan suci di malam hari beliau, isra’.

Hebron, tempat Nabi Ibrahim dimakamkan, oleh orang Arab disebut madinat al-Khalil (Kota al-Khalil), karena Nabi Ibrahim memang bergelar al-Khalil, yang artinya “teman Allah”, atau orang yang dicintai Allah (lihat Q.S. an-Nisa : 125). Kaum Yahudi dan Nasrani agaknya tidak bisa menyebut Nabi bapak monoteisme itu demikian. Maka ketika temuan dari Naskah Laut Mati (Dead Sea Scrolls) yang menghebohkan itu, khususnya Dokumen Damaskus, membuktikan bahwa memang dahulu, pada saat hidupnya, Nabi Ibrahim dikenal dengan gelar “orang yang dicintai Allah,” para sarjana Bibel pun sangat tertarik, dan mulai menghubungkan kenyataan itu dengan pandangan Islam, juga dengan pandangan Islam tentang anak dan cucu Ibrahim, Ishaq dan Ya’qub. Robert Eisenmen dan Michael Wise menerangkan demikian :

“Segi penting lain yang dikemukakannya, sebelum dilanjutkan dengan masalah yang lebih serius dan bagian kedua dari dua cerita Kitab Kejadian tentang “penyelamatan oleh Orang Saleh,” ialah bahwa Ibrahim adalah “Teman Tuhan.” Istilah yang sebenarnya digunakan dalam 2.8 adalah “yang dicintai Tuhan.” Ini persis bahasa yang digunakan Dokumen Damaskus untuk menggambarkan Ibrahim…

…Bagi Dokumen Damaskus, Ibrahim digambarkan sebagai “yang dicintai Tuhan,”  bahasa yang sangat dikenal bagi Islam, karena dia berpegang teguh pada perintah-perintah (bahasa yang juga dikenal bagi surat James), dan dilanjutkan degan gambaran tentang Ishaq dan ya’qub sebagai “teman-teman Tuhan” juga, sebagaimana kelak (Nabi) Muhammad menggambarkan mereka bersama Ibrahim sebagai “orang yang telah pasrah kepada Tuhan,” yakni, orang-orang Muslim (Q.S. al-Baqarah : 133 dan seterusnya).[2]

Dengan keterangan dari dokumen arkeologis itu semakin jelas apa hubungan antara Islam dan Ibrahim, juga antara Hijaz dan Kana’an. Dalam al-Quran diterangkan bahwa Ibrahim bersama putra pertamanya, Ismail, “mengangkat fondasi Rumah (Ka’bah),” yakni membangun kembali rumah suci itu. Tetapi  tidak begitu jelas apakah Nabi Ibrahim sendiri memang punya peran dalam pengangkatan Yerusalem sebagai kota suci. Sebagaimana telah disinggung di atas, ada penuturan dari Perjanjian Lama, yang penuturan itu juga dianut oleh sebagian kecil umat Islam seperti Ibn ‘Arabi, bahwa sangkut paut Ibrahim dengan Yerusalem ialah karena ia mencoba melaksanakan perintah untuk menyembelih anaknya, Ishaq, di atas karang (Shakhrah) yang disucikan.[3]

Pendapat Ibn Arabi itu tentu saja berbeda dari keyakinan kebanyakan umat Islam, yang mempercayai bahwa yang diperintahkan Allah kepada Ibrahim untuk dikorbankan itu bukanlah Ishaq, melainkan Ismail; dan kejadiannya tidaklah di Yerusalem, tetapi di Makkah. Perselisihan pendapat terjadi karena dalam Alquran memang tidak disebutkan nama putra Ibrahim yang dilihatnya dalam mimpinya (lihat Q.. ash-Shafat: 102). Sedangkan Kitab Kejadian menyebutkan dengan jelas nama Ishaq.

Namun umat Islam mempunyai  dua alasan untuk mempercayai bahwa anak yang dikorbankan Ibrahim itu ialah Ismail, dan kejadiannya di Makkah. Alasan pertama ialah, tradisi pengorbanan domba sebagai upacara keagamaan tidak terdapat pada orang Palestina di Yerusalem, tetapi terdapat pada orang Arab di Makkah dan berlanjut selama ribuan tahun. Ritus inilah yang kemudian dikukuhkan oleh Islam, yang bergandengan dengan itu ialah ritus-ritus haji. Pengukuhan oleh Islam ialah karena tradisi itu merupakan ritus yang bersifat memperingati (commemorative) dan untuk menapaktilasi pengorbanan Ibrahim, bapak ajaran tauhid, sesuai dengan kepercayaan penduduk Makkah turun temurun. Jadi di Makkah ada bukti kesejarahan, sedangkan di Yerusalem tidak. Alasan kedua ialah sabda Nabi dalam sebuah hadis, “Aku adalah keturunan dua kurban sembelihan”, (Ana ibn al-dzabihayn), yaitu pertama keturunan Abdullah bin Abdul Muthalib ketika ayahnya hampir saja mengorbankannya untuk berhala akibat hasil suatu undian; kedua ialah Ismail putra Nabi Ibrahim itu, yang merupakan nenek moyang bangsa Arab, khususnya suku Quraysi di Makkah. Meskipun baik Abdullah, ayahanda Nabi saw, dan Ismail, salah seorang leluhur beliau, urung dikorbankan, namun oleh masyarakat Makkah kedua-duanya dikenal sebagai “dua orang sembelihan” (al-dzabihayn atau al-dzabihan). Dan itulah maksud Hadis Nabi tadi.[4]

Tetapi jika benar Ibn Arabi dan bagian kecil sekali kalangan Islam yang berpendapat begitu, atau lebih prinsipal lagi jika benar Kitab Kejadian, maka barangkali ialah bahwa Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih kedua putranya, Ismail dan Ishaq, sebagai ujian Allah kepadanya karena mulai menampakkan kecintaan yang amat besar kepada kedua keturunannya itu. Karena itu terjadi dua peristiwa, di Makkah dan di Yerusalem. Barangkali! Tetapi setelah terbukti bahwa kaum Yahudi pun tidak tahu bahwa Ibrahim punya gelar yang sangat mulia, yaitu Khalil yang baru akhir-akhir ini terungkap berkat Naskah Laut Mati—sementara orang Arab khususnya kaum Muslim pengikut Nabi Muhammad saw, sedemikian akrab dengan gelar itu, maka ada kemungkinan bahwa penuturan tentang Ibrahim di kalangan kaum Yahudi di Palestina telah mengalami distorsi, sehingga mana sejarah yang otentik dan mana legenda tambahan menjadi kabur. Lalu ikut kaburlah cerita yang benar tentang ujian Allah kepada Ibrahim untuk mengorbankan Ismail, di kawasan Makkah, dan tertukar dengan cerita tentang ujian pengorbanan Ishaq, di Yerusalem. (hd/liputanislam.com)

——— 

[1] Ibn Khaldun, Muqaddimah (Beirut: Dar al-Fikri, 1401 H/1981 M), h. 440.

[2] Robert Eisenman dan Michael Wise, The Dead Sea Scrolls Uncovered, The First Complete Translation and Interpretation of 50 Key Documents Withheld for Over 35 Years (Dosert, Inggris : Element Books, 1992), h. 80-81.

[3] Lihat Muhyiddin Ibn Arabi, Fushush al-Hikam, dua jilid (Beirut: Dar al-Kitab al-Arabi, 1400/1980), jil. I, h. 84-90.

[4] Ini disebutkan dan diterangkan oleh Abu al-A’la Afifi sebagai komentarnya tentang pendapat Ibn ‘Arabi, dalam Fushush al-Hikam, op.cit., jil. 2, h. 70-71.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL