Oleh : Nurcholish Madjid

cak-nur-nurcholish-madjidDalam beberapa pekan ini pergolakan kembali terjadi di “Tanah Suci” tiga agama besar, Yahudi, Nasrani, dan Islam, Palestina. Banyak korban sipil berjatuhan yang menghasilkan kerugian fisik dan psikis yang luar biasa. Dalam sejarahnya, Al-Quds memang selalu menjadi perebutan bangsa-bangsa yang ada, sejak masa Nabi Ibrahim as hingga masa Islam dan masa Modern kini. Perebutan ini menjadi sulit dicari benang merahnya karena campur aduknya beragam aspek dalam konflik tersebut, baik aspek agama, ideologis, kesukuan, politik-kekuasaan, dan lainnya. Untuk itu mengenal kembali sekilas sejarah Al-Quds sebagai “Tanah Suci” para Nabi mejadi bagian penting untuk lebih memahami posisi dan kondisinya hari ini. Karena itulah, Liputan Islam (LI) pada kesempatan ini menurunkan artikel tentang sejarah Al-Quds yang pernah ditulis oleh cendekiawan papan atas Indonesia, Almarhum Nurcholish Madjid (Cak Nur) dengan judul  Al-Quds : Tanah Kelahiran Para Nabi (Dimuat dalam Muhammad Wahyuni Nafis. ed. Rekonstruksi dan Renungan Religius Islam, Jakarta : Paramadina, 1996). Semoga bermanfaat.

—————————–

Al-Quds : Tanah Kelahiran Para Nabi

Al-Quds, Bayt al-Maqdis, atau Yerussalem mempunyai kedudukan yang sangat istimewa dalam state of mind umat Islam. Meskipun ia hanya tempat suci ketiga sesudah Makkah dan Madinah, namun al-Quds, terutama Masjid Aqsha-nya, adalah kiblat pertama Nabi saw dalam salat, juga merupakan tujuan beliau dalam Isra’ (perjalanan malam) dari Makkah. Bahkan dari al-Quds itu pula, khususnya dari “Karang Suci” (al-shakhrah) di atas bukit Moriah (tempat dibangunnya Masjid Aqsha), Nabi saw menjejakkan kaki menuju sidrat al-muntaha sebagai kelanjutan perjalanan suci beliau (mi’raj). Karena itu sudah selayaknya umat Islam mengetahui lebih tepat dan luas kota suci ketiga itu. Juga selayaknya diketahui bagaimana kota itu menjadi kota suci tiga agama Semitik (Yahudi, Kristen, dan Islam); bagaimana untuk selama 15 abad kota itu di bawah naungan Islam yang hanif; bagaimana Yahudi sekarang ingin menguasai sepenuhnya dan merencanakan membangun kembali “Kuil Sulaiman” (Haykal Sulayman; Solomon Temple) yang diyakini oleh kelompok Yahudi dan Kristen fundamentalis harus terjadi sebelum datang hari kiamat.

Juga sangat menarik untuk direnungkan bahwa Nabi saw menjadikan Masjid Aqsha itu sebagai kiblat sembahyang sampai tahun kedua hijrah, namun kemudian beliau memohon kepada Allah untuk diizinkan beralih kiblat dari Masjid Aqsha di Yerusalem itu ke Masjid Haram di Makkah. Allah mengabulkan permohonan Nabi, dan sejak itu umat Islam tidak lagi menghadapkan wajahnya ke arah Yerusalem dalam sembahyang, melainkan ke arah Makkah.

Sama halnya dengan objek-objek suci dan keagamaan, kenyataan-kenyataan historis bercampur aduk dengan dongeng dan legenda. Jangankan mengenai suatu tempat sepenting sebuah kota suci seperti al-Quds atau Yerusalem itu, sedangkan tempat-tempat sekeliling kita pun, seperti gunung, lembah, sungai, dan lain-lain juga sering dipandang orang dari sudut penglihatan dongeng dan legenda. Maka yang kita tuju dengan pembahasan ini adalah mencari kejelasan tentang tempat suci ketiga Islam itu, dan membebaskan diri dari dongeng-dongeng dan takhayul-takhayul. Dalam hal ini umat Islam beruntung sekali karena Nabi saw tampil dalam cahaya sejarah yang sempurna, sehingga segala sesuatu tentang beliau dan para sahabat beliau tercatat dengan teliti. Metodologi kritik yang saleh para pengumpul Alquran (sejak zaman Abu Bakar, dipimpin oleh Zaid bin Tsabit), yang kemudian dikembangkan secara konseptual dan teoritis oleh Imam Sayfi’i sebagai metode ilmiah pengumpulan hadis (dan dilaksanakan oleh Imam Bukhari dan para muridnya), telah membuat umat Islam tidak mudah menerima dongeng dan legenda, dan selalu mencari bukti ilmiah tentang kebenaran berita yang mereka dapatkan. Karena itu mengenai hampir semua objek yang dirasa penting bagi agama, umat Islam memiliki kumpulan informasi dan keterangan yang disusun dengan sikap yang kritis secukupnya, yang memperkaya khazanah intelektual mereka, lebih kaya daripada umat-umat lain. Digabung dengan kajian modern tentang sejarah, maka informasi-informasi itu semakin mendekati kebenaran. Meskipun nampaknya informasi itu masih akan terus berkembang, namun yang sudah tersedia sekarang ini cukup memadai untuk pangkal tolak bagi riset dan penelitian lebih lanjut.

Beberapa Keterangan Dasar Tentang Al-Quds

Sebelum melangkah lebih jauh dalam pembicaraan ini, ada baiknya kita punya gambaran secukupnya tentang lingkungan kota suci Islam ketiga itu. Orang Arab menyebut kota itu al-Quds, Bayt al-Maqdis, atau Bayt al-Muqaddas, kesemuanya mengacu kepada pengertian “tempat, kota suci.” Dalam bahasa Ibrani, yaitu bahasa kaum Yahudi, kota itu disebut Kadesh, yang jelas merupakan cognate bagi kata-kata Arab quds. Jadi sesungguhnya ada kesamaan dasar dalam penamaan dan penghormatan terhadap kota itu antara tradisi Ibrani dan tradisi Arab.

Nama “Yerussalem” berasal dari urusysyalayim dengan beberapa variasinya dalam bahasa-bahasa Aramia, Suryani, dan Ibrani. Kesemuanya mengacu kepada pengertian “Negeri Perdamaian”, sama dengan kalimat Arab Dar al-Salam.[i]Kini secara internasional kota suci itu lebih dikenal dengan nama al-Quds, dan hanya untuk keperluan tertentu yang jarang sekali mereka menyebutnya urusyalim.

Titik pusat kota suci itu ialah kompleks yang sekarang disebut orang-orang Islam al-Haram al-Syarif (tempat suci yang mulia), yaitu suatu dataran di atas bukit Moriah dalam kawasan kota lama yang dikelilingi tembok besar dan tinggi. Inilah lokasi bangunan suci tempat beribadat yang didirikan oleh Nabi Sulaiman sekitar tahun 950 SM, yang dikenal orang Arab sebagai Haykal Sulayman, juga dikenal dengan sebuatan al-Masjid al-Aqsha (masjid yang sangat jauh). Agaknya orang Arab dahulu menyadari atau memandang bahwa di dunia ini hanya ada dua Masjid atau tempat suci, yaitu yang ada di kota mereka sendiri, Makkah, dan yang ada di kota “nun jauh di sana”, al-Quds. Dalam hal ini ada pandangan kalangan Islam sendiri yang menurut Ibnu Taymiyah kurang tepat, seolah-olah Masjid Al-Aqsha hanyalah bangunan masjid yang ada disebelah selatan kompleks bukit Moriah, beberapa ratus meter dari Qubbat al-Shakhrah. Masjid itu sendiri didirikan oleh Khalifah al-Walid ibn Abdul Malik pada abad kedelapan masehi, dan hanya menempati bagian kecil dari kompleks al-Haram al-Syarif, sebab menurut dia tidak ada al-Haram kecuali yang ada di Makkah dan Madinah. Ibnu Taymiyah ingin meluruskan pandangan kaum Muslim yang tidak begitu tepat itu, sambil sedikit menerangkan sejarah jatuhnya tempat itu ke tangan orang Islam, dengan mengatakan demikian :

“Adapun Masjid Aqsha, ia adalah satu dari tiga masjid yang menjadi tujuan perjalanan ziarah. Setelah kaum Muslim membebaskan Bayt al-Maqdis di masa Umar ibn al-Khattab, yaitu ketika Umar datang kepada mereka (penduduk kota itu), da kemudian kaum Nasrani menyerahkan kota itu kepadanya, maka ketika ia masuk ke dalamnya (kompleks Masjid Aqsha), didapatinya di atas Shakhrah tumpukan sampah yang besar sekali, yang diletakkan oleh kaum Nasrani padanya sebagai permusuhan kepada kaum Yahudi yang mengagungkan Shakhrah itu dan bersembahyang ke arahnya. Maka Umar pun mengambil sampah itu dengan bajunya (untuk disingkirkan) dan diikuti oleh kaum Muslim. Ada juga yang mengatakan bahwa Umar mengguyurnya dengan air sampai bersih. Kemudian ia  berkata kepada Ka’b al-Ahbar, “Dimana menurut pendapatmu saya akan mendirikan tempat sembahyang untuk kaum Muslim?” Dia (Ka’b) menjawab, “Dirikanlah di belakang (sebelah utara) Shakhrah.” Dan (Umar) menyahut, “Hai kau anak perempuan Yahudi, kau masih terpengaruh paham keyahudian!”, begitulah ia katakan. “Sebaliknya” Kata Umar lebih lanjut, “Saya berpendapat akan mendirikan persis di pusat masjid (yakni di pusat lokasi Haykal Sulayman), karena kita menguasai seluruh pusat masjid itu.” Maka kaum Muslim pun mendirikan tempat sembahyang di arah kiblat masjid. Inilah yang sekarang oleh banyak kaum awam disebut (masjid) Aqsha. Sedangkan (masjid) Aqsha (yang sebenarnya), ialah sama untuk seluruh (kompleks) masjid itu, dan (kompleks) itu tidak dinamakan Haram, tempat lain pun tidak, sebab al-Haram itu hanyalah khusus yang ada di Makkah dan Madinah…

Terdapat riwayat yang mantap bahwa Abdullah ibn Umar, jika datang ke Bayt al-Maqdis, langsung masuk ke dalamnya dan sembahyang di sana, dan tidak mendekati Shakhrah, juga tidak mengunjunginya , malah tidak mendekati bagian mana pun dari lingkungan itu. Hal demikian juga dituturkan dari banyak tokoh kalagan Salaf yang terkemuka seperti Umar ibn Abdul Aziz, Sufyan al-Tsawri, dan lain-lain.”[ii]

Keterangan Ibnu Taymiyah itu amat penting untuk diperhatikan. Sejalan dengan reputasinya sebagai tokoh pembaruan yang sangat anti bid’ah, maka dalam kutipan di atas nampak jelas bagaimana ia memandang kebiasaan mengagungkan Shakhrah adalah hal yang tidak memiliki dasar keagamaan. Dengan menuturkan apa yang dilakukan oleh Abdullah ibn Umar jik berkunjung ke Yerussalem, Ibn Taymiyah menunjukkan bahwa tokoh itu tidaklah berkunjung, bahkan mendekat pun tidak, ke Shakhrah. Yang dilakukannya ialah langsung menuju masjid di sebelah selatan Shakhrah, yang menurut Ibn Taymiyah disalah pahami oleh kebanyakan kaum awam bahwa hanya bangunan itulah yang dinamakan Masjid Aqsha, padahal, katanya, Masjid Aqsha meliputi seluruh kpmleks yang ada.

Walaupun begitu, Shakhrah atau Karang Suci di Yerussalem tersebut untuk kebanyakan orang, baik kalangan Islam maupun Yahudi, adalah titik pusat kompleks bekas Kuil Sulaiman. Khalifah Abdul Malik ibn Marwan mendirikan bagunan monumental yang sangat indah untuk melindungi Shakhrah itu, yang kemudian dikenal sebagai Qubbat al-Shakhrah (Kubah Karang Suci; The Dome of the Rock). Umat Islam mempercayai Karang Suci itu sebagai tempat Nabi saw menjejakkan kaki dalam perjalanan ke Sidrat al-Muntaha, sedangkan kaum Yahudi mempercayainya sebagai tempat Ibrahim mencoba hendak melaksanakan perintah Tuhan untuk mengorbankan anaknya, Ishaq. (hd/liputanislam.com)

———-

[i] Lihat Grant R. Jeffrey, Messiah (New York: Bantam Books, 1992), h. 196.

[ii] Ibn taymiyah, Iqtida’ Shirath al-Mustaqim li Mukhalafah Ahl al-Jahim, dua jilid (ed.) Dr. Nashir ibn Abd al-Karim al-Aql (Riyadl: Syirkat al-Abikin, 1404 H), jilid 2, h. 808-809.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL