Oleh : Nur el-Fikri*

ashura091Tulisan ini dibuat karena prihatin melihat artikel yang ditulis oleh Sdr. Azeza Ibrahim Rizki yang berjudul “Ritual Asyura: Antara Darah dan Rasa Sakit Palsu” yang dimuat oleh http://www.islampos.com/ritual-asyuro-antara-darah-dan-rasa-sakit-palsu-151281/ (11/12/2014). Prihatin karena, ia tanpa data dan memahami dengan baik tradisi komunitas lain, tetapi dengan berani menggambarkan ritual Asyura yang dilakukan komunitas Muslim untuk mengenang perjuangan cucu Nabi saw, sebagai ritual aneh, ritual pagan, ritual melukai diri, dan seabrek istilah lain yang tendensius dan negatif bahkan manipulatif.

Sangat disayangkan, Sdr. Azeza yang mengaku sebagai pengamat budaya komunikasi, dan ilmuwan sosial, tetapi kurang baik dalam menggunakan “budaya komunikasi”. Sebagai ilmuwan yang melakukan analisis sosial, tetapi kelihatannya Sdr. Azeza sulit untuk “bersosial”. Sebab, dalam analisis sosial dibutuhkan pendapat native (komunitas asli) untuk mendapatkan deskripsi yang valid atas tindakan mereka, bukan membawa pendapat sendiri untuk menghukumi mereka. Karena itu dalam tanggapan ini, saya juga akan melakukan anasilis sosio-antropologis terhadap ritual Asyura. Kebetulan, penulis sendiri pernah melakukan penelitian sosio-antropologi terhadap komunitas Syiah ini dan tradisi-tradisinya. Semoga bermanfaat dalam dapat memberikan informasi yang berimbang.

Dalam studi antropologi agama, terdapat pembahasan tentang kudus (sacred), kultus (cults), dan ritus/ritual (rites). Ketiga hal ini berjalin kelindan. Kudus (sacred) berarti suci atau sakral, yaitu menunjukkan pada sesuatu yang dianggap memiliki kesucian tertentu sehingga melahirkan penghormatan tertentu (kultus) dengan bentuk ritual tertentu (ritus).

Yang kudus (sakral) bisa ditemukan di mana saja, bahkan menurut Nottingham (1996: 10), hampir tidak ada sebuah benda pun di langit ataupun di bumi yang pada suatu saat belum pernah di anggap kudus oleh sekelompok orang. Yang kudus bisa berbentuk tempat, buku, benda, bangunan, orang, hari, dan lainnya. Mekah, Alquran, Ka’bah, Muhammad, hari Ramadhan, adalah suci dalam Islam. Gereja, salib, Bibel, Yesus diyakini  suci dalam Kristen. Pura, Weda, lembu, sungai Gangga adalah suci dalam Hindu. Vihara, Tripitaka, patung Budhha, adalah suci dalam Buddha. Sinagog, Taurat, dinding ratapan dipandang suci oleh Yahudi.

Ritual (rites) dan kultus (cults) merupakan tindak lanjut dari kepercayaan kepada yang kudus (sakral; suci). Manusia disebut juga hmo festive, makhluk yang butuh atau punya pembawaan suka melakukan ritus/ritual. Kalau tidak dapat model ritual dari agama, manusia menciptakannya sendiri. Organisasi militer, paguyuban, sampai dunia ilmiah, mempunyai ritus. Upacara bendera, HUT, dan wisuda, adalah contoh ritualnya. Jadi, kebutuhan pada ritual bersifat universal.

Karena itu, ritual bukan hanya bagian atau komponen pelengkap dari agama melainkan agama itu sendiri. Ia merupakan religion in action atau agama dalam tindakan. Sebagai religion in action, ritus menghubungkan manusia dengan yang kudus. Ia sarana yang memperkuat ikatan sosial dan mengurangi ketegangan, dan juga untuk merayakan peristiwa penting, seperti kematian (Haviland, tt: 207).

Bentuk ritual biasanya terdiri dari seluruh kombinasi tindakan yang aktif dan dapat diamati, seperti: berdoa, bersujud, memuja, bersaji, berkorban, makan bersama, menari dan menyanyi, mencuci, mengucapkan ucapan tertentu, berprosesi, berseni-drama suci, berpuasa, intoxikasi (kemabukan), bertapa dan bersamadi. Dalam ritual juga digunakan berbagai sarana dan peralatan, seperti: tempat/gedung pemujaan, patung dewa, patung orang suci, alat musik, dan pakaian yang juga dianggap mempunyai sifat suci (Koentjaraningrat, 1987: 81; Nottingham, 1996:15).

Ada dua jenis perbuatan. Pertama, perbuatan yang tidak memiliki tujuan dan bukan sebagai simbol, melainkan untuk mendapatkan efek alamiahnya saja. Misalnya, penjahit menjahit baju. Kedua, perbuatan yang dilakukan sebagai simbol dari objek lain untuk mengungkapkan perasaan dan makna yang tersembunyi. Kita menundukkan kepala sebagai tanda hormat, bertepuk tangan sebagai simbol gembira, atau menepuk dada sebagai simbol kesedihan. Ritual adalah perbuatan jenis kedua.

W. Robertson Smith (1846-1894), seorang penggagas teori yang berorientasi pada ritual, berpendapat bahwa ritual memiliki fungsi mengintensifkan solidaritas. Ritual merupakan jumlah total dari agama yang berkaitan dengan fungsi untuk mengikat masyarakat ke dalam komunitas. Morris menyebutkan, sejak zaman Yunani kuno dan Cina klasik, bahkan dalam Chinese Book of Rites (sekitar abad tiga SM) di dalamnya terdapat sebuah kalimat, “upacara-upacara adalah ikatan yang menyatukan keragaman, dan jika ikatan itu disingkirkan, keragaman itu akan jatuh dalam kekacauan”. Ini menunjukkan bahwa aristokrasi Cina menyadari bahwa ritual memiliki suatu fungsi sosial (Morris, 2003: 135-137).

Bagi antropolog interpretatif-simbolik—seperti Geertz, misalnya—menyatakan adanya keterkaitan yang erat antara agama dan simbolisme yang terefleksi dalam ritual dan pemujaan, sehingga seorang antropolog harus mengungkap makna terdalam dari simbol-simbol yang ada dalam suatu agama atau kebudayaan, yang tentu saja sulit diungkap oleh orang yang berpandangan empirisisme dan materialisme, tetapi sangat nyata dalam pandangan spiritualisme. Sebab meskipun simbol tersebut tertanam dalam pemikiran individual secara privasi, namun dia bisa “diangkat” dari otak individu yang memikirkan simbol tersebut, yang pada akhirnya simbol-simbol agama menyatakan kepada kita bahwa terdapat sesuatu “yang benar-benar riil, di mana ritual memberikan satu penyatuan simbolis antara pandangan hidup dan etos. Artinya, apa yang dilakukan seseorang yang merasa harus melakukannya (etosnya) selalu akan selaras dengan gambaran dunia yang teraktualisasi dalam pikirannya (Pals, 2011: 342-345; ). Melalui rituallah, dunia sebagaimana dalam bayangan (as imagined) dan dunia sebagaimana dialami secara nyata (as lived) dipadukan melalui perbuatan bentuk-bentuk simbol (Morris,2003: 394).

Jadi ritual-ritual dalam komunitas pemujaan (cults) sangat erat berhubungan dengan yang sakral. Telah dijelaskan bahwa yang sakral mencakup banyak hal mulai dari benda, kitab, hingga manusia. Dan kesakralan manusia sebagai theophany (“penjelmaan”) Tuhan di atas segalanya. Karenanya, posisi orang suci, sangat dihormati, dan dicintai baik hidup maupun meninggal. Sebab, kematian bukanlah akhir, tetapi kehidupan yang lebih tinggi.

Keyakinan akan abadinya roh merupakan aspek yang memunculkan cinta dan pemujaan (kultus) atas orang suci melalui ritual kematian, memperingati lahir dan wafatnya, atau mendirikan bangunan di makamnya. Membalsem mayat dan disimpan dalam piramid atau gua terkait dengan perjalanan hidup sesudah mati. Taj Mahal dibangun untuk mengabadikan isteri tercinta. Patung-patung dan tugu dibangun, untuk memvisualisasikan keabadian orang-orang yang dicintai. Ini merefleksikan masyarakat mengkultuskan manusia suci, manusia berkuasa, dan manusia tercinta.

Komunitas yang melakukan penghormatan melalui ritual suci inilah yang disebut kelompok pemujaan atau kultus (cult) dan ritual pemakaman, peringatan, atau pemujaan kepada yang meninggal disebut ‘kultus orang mati’ (cult of the dead). Salah satu model ritual kematian atau pasca kematian adalah ziarah dan haul dengan cara mengujungi dan memperingati kematian seorang tokoh yang disucikan, dihormati dan dicintai. Ritual asyura adalah merupakan salah satu bentuk ziarah/haul tersebut. Dengan demikian ritual Asyura adalah ritual suci, ritual penghormatan, dan ritual cinta. (hd/liputanislam.com)

Bersambung ke bagian kedua

—-

*Pengamat sosial-keagamaan

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL