Hussain-ADi Madinah, dalam sebuah rumah yang sangat sederhana, dengan luas 15,64 m (diperkirakan berukuran panjang 4,6 m, lebar 3,4 m dan tinggi 3,15 m), yang beratapkan pelepah kurma dengan batangnya pula sebagai tiang penyangga, sedangkan dinding-dindingnya terdiri dari susunan batu atau tanah liat yang dikeraskan, mendapatkan berkah dan cahaya rahmat dengan lahirnya seorang bayi nan indah.

Anak tersebut lahir dari rahim suci wanita termulia di alam semesta, Fatimah az-Zahra dengan Ali bin Abi Thalib sebagai ayahnya. Bayi mungil ini oleh kakeknya, Rasulullah Muhammad saw, diberi nama Husain.Melihat jalur nasab Husain, maka nasabnya bertemu pada satu jalur nasab mulia yaitu Abdul Muthalib, pemuka kaum Quraisy. Sebab Abdullah (Ayah Rasul saw) dan Abu Thalib (Ayah Ali) merupakan saudara kandung yang ayah dan ibunya sama, berbeda dengan saudara-saudara mereka yang lain, seperti Abbas, Abu Jahal, Abu Lahab, atau Hamzah, mereka semua dilahirkan dari ibu yang berbeda.

Secara fisik dikatakan bahwa Hasan menyerupai Nabi dari kepala hingga dada, sedangkan Husain menyerupai Nabi dari dada hingga kaki. Banyak nama dan gelar yang dinisbahkan kepada Imam Husain ra, di antaranya adalah : Abdu al-Shalih (Hamba yang soleh), Abu Abdillah (Bapak hamba Allah), Alim (Yang berpengetahuan), Dzabihullah (Korban), Gharib (Yang terasing), Mazlum (Yang terzalimi), Miftah (Kunci pembuka surga), Marjan (Mutiara), Mubarak (Yang diberkati Allah), Mujahid (Yang berjihad di jalan Allah), Muqarrab (Yang dekat dengan Allah), Rasyid (Cerdas), Sa’id (Yang berbahagia), Syafi’ (pemberi syafaat), Syahid (syahid), Syarif (Yang mulia), Abid (Hamba), Adil (Adil), Khasyi’ (Yang khusyu’), Syabab ahl al-Jannah (pemuda surga) dan yang paling masyhur tentunya, Sayyid al-Syuhada (pemimpim para syahid), yakni orang-orang yang berjuang mengorbankan dirinya demi tegaknya agama Allah di jagat raya ini.

Gelar mulia ini disematkan Nabi, bukanlah sekedar penghias nama, melainkan mendapatkan realitasnya pada fakta sejarah yang tak mungkin dihilangkan—meskipun sering dilupakan—sebagai bukti klaim sabda mulia dari lisan kenabian tersebut, yang mana tepat pada 10 Muharram 61 H, di Padang Tandus Karbala, Imam Husain beserta rombongan keluarga dan sahabatnya di bantai dengan keji oleh segerombol manusia atas perintah penguasa (khalifah) saat itu, Yazid bin Muawiyah, yang merasa posisinya terancam untuk tetap bertahan di puncak tahta. Peristiwa inilah yang kita kenal sebagai peristiwa Asyura, Muharram Berdarah, Karbala Berduka. Suatu peristiwa, yang mana Imam Husain menunjukkan heroisme dirinya dalam melawan tirani penguasa, sebagaimana dinyatakannya dalam pidatonya di hari asyura berikut ini :

Wahai manusia, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, ‘siapa saja di antara kalaian yang melihat penguasa yang zalim—yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, yang memutuskan janjinya, menentang sunnah Rasulullah, memperlakukan hamba-hamba Allah dengan dosa dan permusuhan—kemudian ia tidak berusaha mengubahnya dengan ucapan atau perbuatan, pastilah Allah akan memasukkan dia pada tempat masuk yang sama (dengan penguasa zalim itu). Kalian sudah tahu bahwa kaum itu sudah mengikatkan diri dengan ketaatan kepada setan dan berpaling dari ketaatan kepada Allah yang Maha Kasih. Mereka menimbulkan kerusakan, melecehkan hukum, mendahulukan kekayaan, menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang dihalalkan-Nya.

Sebagai pewaris ilmu Rasul saw, Imam Husain menjadi suri teladan bagi semua umat manusia. Berikut di antara pesan-pesan Imam Husain kepada kita semua :

“Seseorang datang kepada Imam Husain ra, dan berkata, ‘Saya seorang pelaku maksiat dan saya tidak bisa bersabar untuk tidak bermaksiat, maka berilah nasihat padaku.’ Imam Husain ra lalu berkata, ‘Lakukanlah lima perkara dan berbuat dosalah sesuka hatimu, yaitu : Pertama, jangan kau memakan rezeki dari Allah, maka berbuatlah dosa sesukamu. Kedua, kaluarlah dari wilayah Allah, maka berbuat dosalah sekehendakmu. Ketiga, carilah suatu tempat di mana Allah tidak melihatmu, lalu berbuatlah dosalah sekehendakmu. Keempat, jika malaikat maut datang mencabut nyawamu, tolaklah dia, maka berbuat maksiatlah sesuka hatimu. Kelima, jika malaikat Malik memasukkanmu ke neraka, janganlah kamu mau masuk ke dalamnya, maka bermaksiatlah sesukamu.”

Imam Husain ra berkata pada seseorang yang sedang menggunjingkan orang lain, “Janganlah kamu menggunjing, sesungguhnya gunjingan itu adalah santapan bagi anjing-anjing neraka”.

Imam Husain ra berkata: “Seburuk-buruk sikap para penguasa yaitu takut pada musuh, melakukan kekerasan pada kaum dhu’afa dan bakhil untuk memberi.”

Seseorang berkata kepada Imam Husain ra, “Wahai putra Rasulullah, apakah saya termasuk pengikutmu?” Beliau menjawab, “Takutlah pada Allah dan janganlah kamu mengaku sesuatu hingga Allah itu mengatakan bahwa Anda telah berdusta dan berbohong dengan pengakuan Anda. Sesungguhnya pengikut kami adalah mereka yang hatinya selamat dari setiap penipuan, pengkhianatan dan pemfitnahan tetapi katakanlah saya dari golongan yang mengangkat Anda sebagai wali dan dari golongan yang mencintai Anda.” Semoga kita semua termasuk para pecinta sejati al-Husain.(hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL