sains islamSelain sejarah, matematika dan fisika, di masa Islam klasik juga berkembang tradisi ilmu Kimia dengan tokohnya seperti Jabir bin Hayyan al-Kufi (w. 815 M) yang menulis banyak buku diantaranya al-Khawas al-Kabir (Buku Besar Tentang Sifat-Sifat Kimia), al-Ahjar (Batu-batuan Mineral), al-Sirr al-maknun (Rahasia Elemen-elemen), al-Mawazin (Timbangan), al-Mihaj (Senyawa Kimia), al-Khamair (Peragian), dan al-Asbag (Zat Pewarna).

Jabir bin Hayyan telah menggunakan metode eksperimen dan membincangkan tentang penguapan, persenyawaan, pembutiran, pelelehan, dan penghabluran. Di laboratoriumnya di Kufah ia melakukan berbagai percobaan yang menghasilkan senyawa baru diantaranya karbida. Ia juga menciptakan timbangan yang bisa menimbang benda-benda yang beratnya 6.480 kali lebih kecil dari 1 Kg.

Selain Jabir bin Hayyan, ada kimiawan lainnya yaitu Abu Usman al-Jahiz  (w. 869 M) yang menemukan amonia dari kotoran hewan dengan proses destilasi kering. Abu Bakar al-Razi (w. 926 M) juga seorang kimiawan Muslim yang banyak menciptakan alat kimia (lebih dari 20 buah) dari logam dan kaca. Ia menjelaskan reaksi-reaksi kimia yang terjadi dalam tubuh manusia, dan berhasil membuat asam belerang, membuat alkohol dengan cara menyuling zat tepung dan zat gula. Ia mendaftar sejumlah mineral padat dari jenis logam, menyebutkan berbagai jenis batu-batuan seperti pyrits, malachite, gipsum, galena, gelas, bijih dan cadas. Ia juga membuat daftar senyawa kimia seperti cinnabar, timah putih, timah merah, tembaga oksida, anggur cuka, kaustik soda (NaOH), garam (NaCl), kapur Ca (OH)2, natron dan boraks (Na2B4O7), air raksa (Hg), amonium klorida (NH4Cl), belerang (S) dan arsenik, serta banyak lagi lainnya.

Diantara kimiawan lainnya adalah Abu Mansur Muwaffa yang berhasil menemukan perbedaan anatara natrium karbonat (soda) dengan kalium karbonat (potas); Abu al-Qasim al-Zahrawi yang menjelaskan penyulingan air mawar dan cuka anggur sehingga belakangan bisa membuat parfum; Ibnu Badis yang menrangkan cara membuat tinta perak melalui penyulingan serbuk perak dalam anggur; Izzuddin al-Jaldaki yang menemukan masker dan untuk melindungi dari racun kimia, perlindungan pakaian dari soda api dengan menambah zat penangkal pada proses pembuatan sabun serta menjelaskan cara emiahkan emas dari perak dengan melarutkannya dalam asam nitrat.

Dalam ilmu Biologi,Islam memiliki tokoh-tokoh esar seperti al-Dinawari yang menulis Encyclopaedia Botanica (Ensiklopedi Tumbuh-tumbuhan) sebanyak 6 jilid yang meceritakan tentang morfologi tanaman, gizi yang dikandung berbagai tumbuhan, khasiatnya sebai obat, habitatnya, dan lainnya. Kemudian ada Abu Ja’far al-Qurthubi (w. 1165 M) yang menyusun nama-nama tanaman dalam bahasa Arab, Latin dan Berber; Al-Awwam (akhir abad ke-12) yang menulis buku tentang 585 jenis tanaman dan menerangkan cara penanaman lebih 500 pohon buah-buahan melalui pencangkokan, pengolahan tanah, pemupukan, dan asal-usul berbagai penyakit tanaman serta cara membasminya. Selanjutnya ada Ibnu al-Baitar al-Maliki (w. 1248 M) yang menyelidiki lebih 1400 tanaman khasiat di Spanyol, Afrika Utara, dan Asia Barat dan menuliskannya dalam buku al-Jami fi al-Adwiyah al-Mufradah (Kumpulan Obat-obatan Sederhana).

Adapun studi tentang hewan banyak dilakukan oleh Ibnu Sina dalam karyanya al-Syifa’ yang membagi hewan menjadi hewan air dan hewan darat. Selain itu ia juga menganalisa tentang antomi berbagai hewan, membandingkan sistem ototnya, pencernaan, pembiakan, dan sistem peredaran darahnya. Ibnu Sina juga menulis tentang anatomi tubuh manusia dengan berbagai karakteristiknya. Selain itu ada al-Jahiz yang menulsi 7 julid buku tentang zoologi dengan membagi hewan pada empat golongan yaitu binatang berjalan binatang berenang, binatang merayap, dan binatang terbang. Muhammad bin Musa ad-Damiri adalah tokoh lainnya yang menulis buku Hayah al-Hayawan (Kehidupan Hewan) dengan mendaftar nama-nama hewan, watak dan tingkah lakunya, dan penggunaan nama-nama hewan itu dalam syair dan hadits-hadits Nabi Saw.

Selain ilmu-ilmu di atas masih banyak lagi cabang ilmu yang berkembang di dalam khazanah peradaban Islam seperti kedokteran, ilmu pertanian, astronomi, ilmu falak, ilmu bumi, dan berbagai perkembangan tekonologi yang maju pada zamannya.Misalnya banyak sekali tedapat observatorium sebagai tempat para ilmuwan Muslim melakukan observasi dan analisis sains. Diantaranya adalah observatorium Ibnu Syater di Syam (777 M), observatorium Abu Hanifah di Isfahan (849 M), observatorium al-Biruni (1804 M), observatorium Ulugh Bey di Samarkand (1420 M), observatorium Ilkhan di Malaga/Azebaujan (1258), observatorium Banil A’lam di Baghdad (1864 M), observatorium Tanju di Pantai, observatorium al-Battani di Raqqah, Baghdad (929 M), dan observatorium al-Ma’mun di Baghdad (841 M).

Demikianlah sekilas gambaran perkembangan sains dan teknologi dalam sejarah Islam klasik. Hal ini tentu saja bukan sekedar menjadi nostalgia umat Islam masa kini, tetapi harus dijadikan pelajaran dan motivasi untuk membentuk peradaban yang lebih lagi di masa kini dan mendatang. (hd/liputanislam.com)

*Diolah dari berbagai sumber

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL