merdeka 3Pada paruh kedua abad XX M, negeri-negeri Islam mulai memasuki zaman kemerdekaan politik. Mereka berhasil membebaskan diri dari belenggu Kolonialisme. Keberhasilan mereka ini dilatari oleh dua faktor utama.

Pertama. Faktor internal, yakni munculnya kesadaran umat Islam untuk membebaskan diri dari penjajahan yang membelenggu kehidupan mereka. Hal ini diilhami oleh setidaknya dua hal utama yaitu ajaran-ajaran agama Islam sendiri yang mengajarkan kebebasan, pembelaan diri, cinta tanah air, dan gagasan-gagasan dari Dunia Barat tentang kemerdekaan dan kesamaan hak. Selain kesadaran umat Islam, yang memotivasinya juga adalah mulai munculnya gerakan pembaharuan di sejumlah wilayah Islam, yang dipelolpori oleh tokoh-tokoh organisasi-organisasi pergerakan Islam, terutama semboyan Pan-Islamisme (persatuan Islam Sedunia) yang dikumandangkan oleh Jamaluddin al-Afghani (1839-1897 M). Gagasan ini banyak memperoleh dukungan, tetapi semangatnya mengendur pasca Turki Usmani kalah dalam Perang Dunia I, bahkan kekhilafahan kerajaan ini dihapuskan oleh kalangan Nasionalis Turki.

Setelah itu, gagasan Pan-Islamisme berganti menjadi gagasan Nasionalisme. Gagasan ini segera memperoleh dukungan dari gerakan pembaruan hampir di seluruh Dunia Islam. Berbagai partai politik di negara-negara Islam mendukung isu nasionalisme tersebut dan menjadikannya sebagai modal perjuangan untuk meraih kemerdekaan. Selanjutnya, adanya perlawanan militer dari umat Islam terhadap pihak Kolonialisme. Di Afrika Utara, tarikat Qadiriyah dan gerakan Sanusiyah menentang ekspansi Prancis dengan melakukan perlawanan fisik. Perlawanan serupa dilakukan oleh Panglima Polem dan Pangeran Diponogoro melawan Belanda di Nusantara; gerakan Mahdis, tarikat Qadiriyah, dan tarikat Salihiyah melawan militer Prancis di kawasan Afrika Timur, dan gerakan perlawanan lainnya.

Kedua. Faktor eksternal. Yakni terjadinya perubahan konstelasi politik dunia secara global, sebagai akibat meletusnya Perang Dunia II (1939-1945 M). Bangsa-bangsa Barat yang menjajah Dunia Islam terlibat aktif dalam perang tersebut. Perang Dunia II ini secara fatal mulai menghancurkan kekuatan politik dan moral penguasa Eropa. Sebab itulah, gerakan revolusi kemerdekaan semakin meluas di Dunia Islam secara keseluruhan. Walhasil banyak negara-negara Islam meraih kemerdekaannya. Pada akhir Perang Dunia II, pihak Inggris dan Prancis tidak mampu lagi untuk mempertahankan kekuasaan mereka di Timur Tengah sehingga hal itu membuat mereka harus memberikan kemerdekaan bagi sejumlah negara Arab.

Negara-negara Islam di kawasan Afrika pun terus meningkatkan tuntutan kemerdekaan. Di Aljazair muncul gerakan revolusi Aljazair oleh kalangan nasionalis guna menuntut kemerdekaan dari Prancis. Di Maroko, pada tahun 1943 M didirikan Partai Istiqlal (kemerdekaan), dan berhasil menggalang dukungan massa bagi kemerdekaan Maroko dari Prancis. Begitu pula, Libia menjadi negara merdeka dan revolusi pun berkembang di berbagai negara di Afrika. Sementara di kawasan Asia Tenggara, gerakan revolusi kemerdekaan mencapai puncaknya. Di Indonesia, setelah Jepang hancur luluh lantak, maka Indonesia langsung memproklamasikan kemerdekaannya. Di Malaysia, pasca Perang Dunia II, Inggris menyerahkan kekuasaan kepada aristokrasi Melayu. Demikianlah bahwa Perang Dunia II yang memperlemah kekuatan politik dan moral penguasa Eropa, dan mendorong kesadaran politik umat Islam, sehingga kesadaran ini menumbuhkan pelbagai bentuk revolusi kemerdekaan di Dunia Islam secara keseluruhan.

Di kawasan Timur Tengah, sejumlah negara Islam memerdekakan diri Kolonialisme bangsa Barat. Beberapa negara memerdekakana diri dari penjajahan Inggris dan Perancis seperti Iraq (1930 M), Libanon, (1941), Yordania (1946), Syiria (1947,)Pakistan (1947), Oman (1950), Kuwait (1961).Yaman dan Emirat Arab (1962). Bahrain (1971), Qatar, dan Bangladesh (1971).

Di kawasan Afrika Utara, sejumlah negara Islam berhasil memerdekakan diri dari penjajahan Inggris, Italia dan Perancis seperti Mesir (1922), Libia (1951), Sudan dan Maroko (1956), Tunisia (1956), Nigeria (1960), Mauritania (1958), Somalia (1960), Aljazair (1962), Algeria (1962).

Di kawasan Asia Tenggara, Indonesia merdeka (1945), Malaysia (1957), Brunai Darussalam (1984). Di kawasan Asia Tengah, negara-negara seperti Uzbekistan, Turkmenia, Kirghistan, Kazakhtan, Tasjikistan, dan Azerbaijan berhasil memerdekakan diri dari Rusia pada tahun 1992 M. Di Eropa, Bosnia memerdekakan diri dari Yugoslavia pada tahun 1992 M. Demikianlah sejak paruh kedua abad XX M negara-negara Islam berhasil memerdekakan diri dari kekuatan bangsa Barat. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL