Oleh: Abdul Hadi W.M

adul hadi wm 3Samudra Pasai sendiri mendapat giliran untuk diserbu oleh armada Majapahit pada tahun 1350 M. Melalui peperangan sengit di laut dan darat, pada akhirnya Samudra Pasai menyerah. Tetapi karena Pasai merupakan pelabuhan dagang penting dan strategis di Selat Malaka, negeri itu tidak dihancurkan seperti halnya ibukota Sriwijaya. Tentara Majapahit membawa banyak harta rampasan dan tawanan perang. Di antara tawanan perang itu terdapat banyak bangsawan lelaki dan wanita, saudagar, tabib, ulama, cendekiawan Muslim, dan mantan perajurit dan komandan perang. Di Majapahit, tawanan-tawanan perang yang berjumlah besar itu diberi tempat khusus di Ampel Denta. Karena begitu banyaknya pangeran-pangeran Majapahit terpikat pada putri Pasai, dan juga karena banyaknya putri Majapahit jatuh hati kepada pemuda Pasai, terjadilah kawin silang yang tidak terelakkan dengan keharusan memeluk agama Islam bagi pemuda Majapahit yang menikahi putri Pasai. Sejak masa itulah agama Islam berkembang pesat di pulau Jawa (Ibrahim Alfian 1999). Di daerah ini pulalah kelak lahir wali-wali utama penyebar Islam seperti Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Giri, Sunan Bonang, Sunan Drajat, dan lain sebagainya.

Bukan tidak mungkin dari komunitas Muslim awal di Jawa Timur inilah karya-karya Arab dan Persia, termasuk eposnya, diperkenalkan dalam kesusastraan Jawa. Puisi-puisi suluk karya Sunan Bonang, wali dan sastrawan prolifik yang hidup antara pertengahan abad ke-15 dan awal abad ke-16 M, mendedahkan bahwa pada akhir abad ke-15 M sudah banyak karya-karya Arab dan Persia dikenal oleh kaum terpelajar Muslim di pulau Jawa (Drewes 1968). Berbagai perayaan keagamaan yang sampai sekarang masih hidup di pulau Jawa, seperti Grebeg Maulud, Sekaten, Asura, dan lain-lain, diperkenalkan oleh para wali pada masa awal berdirinya kesultanan Demak awal abad ke-16 M. Perayaan-perayaan itu, khususnya Asura, dan penyelenggaraannya didasarkan pada keterangan yang terdapat dalam teks-teks sastra Persia dan Arab. Walaupun diberi kemasan budaya lokal.

Di kepulauan Melayu sendiri, hikayat berkenaan dengan keasyihan Husein dan peperangan antara Muhammad Ali Hanafiyah dan Yazid, tidak kurang menonjol peranan dan pengaruhnya. Sumber sejarah Melayu yang awal, yaitu Hikayat Raja-raja Pasai (akhir abad ke-14 M) dan Sejarah Melayu (abad ke-16 M), menunjukkan bukti bahwa epos-epos Persia dan Arab itu telah memeberikan pengaruh kuat terhadap perkembangan kesusastraan Melayu sejak awal abad ke-14 M. Deskripsi tentang peperangan dalam Hikayat Raja-raja Pasai, misalnya episode peperangan pasukan Tun Berahim Bapa dengan gerombolan orang Keling yang ingin membuat kekacauan di Pasai, sangat mirip dengan deskripsi yang terdapat dalam Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah (Hill 1960).

Sumber-sumber Melayu juga menjelaskan bahwa sudah lazim orang Islam mengadakan majlis-majlis pembacaan sastra. Jenis sastra paling disukai dan kerap dibaca dalam majlis-majlis seperti itu ialah Suluk (syair tasawuf), roman (kisah petualangan campur percintaan), dan hikayat perang atau epos. Khusus mengenai populernya Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah dijelaskan dalam Sejarah Melayu. Yaitu dalam episode yang mengisahkan perang yang meletus antara Malaka dan pasukan Portugis yang menyerang untuk menguasai Malaka. Di situ dipaparkan bahwa pada malam hari ketika perajurit-perajurit Malaka sedang istirahat di kapal perang, mereka meminta dibacakan sebuah hikayat perang agar untuk memelihara semangat. Hikayat yang dipilih untuk dibaca ialah Hikayat Muhammad ali Hanafiyah. Ini tidak mengherankan karena hikayat ini penting dalam berbagai aspeknya termasuk aspek isi, emosi, nilai kebudayaan, dan sosiopolitiknya (Winstedt 1970; Ali Ahmad 1996). (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL