Oleh: Abdul Hadi W.M

adul hadi wm 3Motif utama perang dalam Islam ialah menentang sistem yang melahirkan ketidak adilan atau rejim yang menindas. Apakah rejim atau penguasa itu mengaku Muslim atau bukan Muslim, sama saja akan ditentang. Tepat sekali oleh karenanya apa yang dikemukakan Fredinand de Lessep, si pembangun Terusan Suez hampir dua abad yang silam. Katanya,

“Bukan fanatisme yang mendorong semangat kaum Muslimin untuk menentang penguasa tertentu dan imperialisme, akan tetapi agama dan jiwa kebudayaan Islam itu sendiri yang menggerakkan mereka untuk berjuang dan yang mampu mempersatukan perjuangan mereka. Jiwa kebudayaan Islam yang mampu menggerakkan itu ialah penolakan atas ketidakadilan dan penindasan atas nama apa pun, jadi bukan disebabkan fanatisme atau fundamentalismenya.” (Jansen 1983).

Dalam hikayat yang kita bicarakan, yang di dalamnya dibeberkan aneka pengalaman sejarah berharga yang patut dijadikan ingatan kolektif orang Islam, contoh-contoh berkenaan dengan apa yang dinyatakan Ferdinand de Lesseps banyak kita jumpai. Tawaran perdamaian yang disodorkan Muawiyah kepada Sayidina Ali dan diterima oleh sang khalifah, adalah contoh kemuliaan hati Sayidina Ali yang tidak mau melakukan peperangan hanya disebabkan dorongan kekuasaan dan nafsu membalas dendam. Tetapi tahkim yang dilakukan setelah itu ternyata merupakan tipu muslihat untuk menyingkirkan Ali dengan cara yang tidak terpuji. Yang terakhir ini adalah contoh tindakan yang tidak mencerminkan rasa keadilan dan benar-benar zalim.

Tipu muslihat serupa dialami ribuan kali oleh orang Islam dalam sejarahnya, bukan saja dulu tetapi terlebih-lebih di masa modern. Pangeran Diponegoro, pemimpin perang antikolonial di Jawa (1825-1830 M), ditawari perdamaian oleh Belanda untuk dijebak. Begitu sampai di tempat perundingan beliau ditangkap dan diborgol tangannya untuk dijadikan tawanan seumur hidup. Bangsa Arab, khususnya Arab Palestina, mengalami hal serupa berhadapan dengan penguasa zionis Israel. Banyak sekali perjanjian damai ditandatangani tetapi tidak lebih dari tipu muslihat.

Dorongan Sayidina Husein dan pengikutnya untuk memerangi Yazid juga tidak lebih dari ungkapan rasa kecewa melihat kezaliman dan penindasan yang dilakukan penguasa Umayyah atas kaum Muslimin. Husein tidak mempedulikan nasib apa yang akan menimpa dirinya. Pengurbanan dan keberaniannya menentang penguasa yang zalim dan rezim penindas adalah teladan yang akan selalu dicontoh oleh mujahidin Islam yang sejati. Begitu juga keberaniaan adik tirinya Muhammad Ali Hanafiyah yang dengan gagah berani memimpin pasukan untuk mengakhiri kekuasaan Yazid, adalah juga memberikan teladan yang terpuji. Tanpa mempedulikan apakah di dalam hikayat ini terdapat propaganda ideologi Kaisaniyah, atau Syiah secara umum, relevansi dari epos ini semestinya dilihat melalui kacamata lain yang lebih jernih. Yaitu dengan melihat dalam konteks sejarah yang bagaimana teks hikayat ini mulai ditulis dan disebarluaskan di Indonesia.

Hikayat ini seperti epos Islam lain khususnya Hikayat Amir Hamzah dan Hikayat Iskandar Zulkarnaen, telah hadir di Nusantara pada abad ke-14 dan 15 M, periode-periode awal pesatnya Islam berkembang. Pada periode-periode ini sudah pasti banyak tantangan dihadapi komunitas Muslim yang baru muncul ini. Tantangan yang paling menonjol bersifat politik dan kultural. Ini dapat dimengerti karena ketika itu Sriwijaya – kerajaan Buddhis yang pernah perjaya di kepulauan Melayu pada abad ke-8-10 M – masih kuat kendati mulai dilanda krisis ekonomi yang menyebabkan pamornya pudar. Di Jawa Timur sedang bangkit sebuah kerajaan Hindu terbesar sepanjang sejarah, yaitu Majapahit (1292-1498 M). Pada pertengahan abad ke-14 M ketika tampuk pemerintahan berada di tangan Prabu Hayam Wuruk dengan mahapatihnya yang terkenal Gajah Mada, kerajaan ini berambisi memperluas wilayah imperiumnya. Bagi memenuhi ambisinya itu Majapahit mengirimkan pasukan militernya ke Sumatra, dengan tujuan menundukkan kerajaan-kerajaan Melayu termasuk Sriwijaya.

Pada kurun-kurun tersebut banyak peperangan yang yang dihadapi komunitas Islam yang telah memiliki dua kerajaan besar dan makmur yaitu Samudra Pasai (1272-1516 M) di Aceh Sumatra dan kesultanan Malaka (1400-1511 M)di Semenanjung Malaya. Yang terakhir ini merupakan lanjutan dari kerajaan Sriwijaya. Ia didirikan oleh raja terakhir Sriwijaya, Prabu Paramesywara, yang berhasil melarikan diri bersama pengikutnya ketika ibukota kerajaan Sriwijaya diluluh lantakkan oleh tentara Majapahit pada akhir abad ke-14 M. Pada tahun 1411 M ketika Malaka berkembang pesat menjadi pusat kegiatan perdagangan, Paramesywara kawin dengan putri raja Pasai dan memeluk agama Islam (Wolters 1970). Sejak itu Malaka menjadi pusat penyebaran agama Islam dan pusat kegiatan penulisan sastra Melayu Islam. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL