Oleh: Abdul Hadi W.M

adul hadi wm.2Pada tahun 680 M Muawiyah meninggal dunia. Putra Muawiyah, Yazid yang bertangan besi, diangkat sebagai penggantinya. Husein putra Ali menolak mengakui Yazid. Karena itu dia selalu diintai untuk dihabisi nyawanya. Oleh karena merasa tidak aman berada di Mekkah, Husein hijrah ke Madinah. Tetapi kemudian dia memilih pindah ke Kufa, tempat di mana dia merasa lebih aman dan dapat berkumpul dengan sanak saudara serta para pengikutnya. Keinginannya bertambah kuat setelah terdengar kabar bahwa saudara-saudara sepupunya dan para pengikutnya akan membaiat beliau sebagai khalifah.

Ketika Husein mulai melakukan perjalanan dari Madinah ke Kufa, Yazid mengganti gubernur Kufa dengan tokoh yang lebih setia kepadanya Ubaidillah bin al-Ziyad. Ketika Husein sedang dalam perjalanan menuju Kufa, Ubaidillah berhasil mengintimidasi penduduk Kufa untuk menyerang Husein. Setibanya di Kerbela Husein diserang oleh pasukan Yazid dan orang-orang yang telah dihasut untuk menyingkirkannya. Sebelum gugur, bersama dengan para pengikutnya, Husein dibiarkan lemas karena haus. Pasokan air dari sungai Eufrat sengaja dipotong oleh Ubaidillah sehingga Husein dan pasukannya lemas disebabkanHussei kehausan.

Kematian Husein segera didengar oleh adiknya, Muhammad Ali Hanafiyah. Dia adalah putra Ali yang ketiga dari hasil perkawinan beliau dengan seorang perempuan Hanif bernama bernama Muhmmad bin Ali. Oleh karena ibunya seorang hanif ketika dinikahi Ali, maka gelarnya kemudian ditambah dengan Hanafiyah. Dalam hikayat diceritakan ketika itu dia adalah seorang amir di Buniara.

Pada malam hari setelah wafatnya Husein, Muhammad Hanafiyah bermimpi bertemu Nabi Muhammad s.a.w yang menyuruhnya menuntut bela atas kematian saudaranya Hasan dan Husein. Keesokan harinya Muhammad mengumpulkan semua pengikutnya untuk melancarkan perang melawan Yazid bin Muawiyah. Dalam sebuah pertempuran yang menentukan Yazid tewas dalam keadaan mengerikan. Dia jatuh ke dalam sebuah sumur tua yang penuh kobaran api.

Setelah itu Muhammad Hanafiyah menobatkan putra Zainal Abidin, putra Husein sebagai pengganti ayahnya selaku pemimpin kaum Aliyun. Pada saat itulah dia mendengar kabar bahwa tentara musuh sedang berhimpun dalam sebuah gua. Muhammad segera bergegas pergi ke tempat itu untuk menghancurkan sisa pasukan Yazid. Ketika memasuki gua terdengar suara gaib yang memerintahkan agar dia jangan masuk. Serua itu tidak dihiraukan. Malahan Muhammad Ali Hanafiyah terus saja membunuh musuh-musuhnya yang bersembunyi dalam gua. Tiba-tiba pintu gua tertutup dan dia tidak bisa keluar lagi dari dalamnya”.

Episode yang mengisahkan situasi ketika Husein tiba di Kerbela sangat menarik. Inilah petikannya:

“… Maka Amir Husein berjalan daripada suatu pangkalan kepada suatu pangkalan, maka sampailah Amir Husein kepada suatu tempat. Maka unta dan kuda Amir Husein merebahkan dirinya, tiada mau lagi berjalan, Maka Amir Husein menyuruh mendirikan kemah barung-barung. Adapun segala kayu pun yang ditetak akan barung-barung itu sekaliannya berdarah. Maka bertanya Amir Husein, “Hai taulanku! Apa nama padang ini?” Maka kata segala hulubalang, “Hai junjungan kami! Inilah padang Kerbela namanya!”. Maka kata Amir Husaain, “Wah inilah tempat kita mati, karena sabda Rasulullah, “Kematian cucuku Husein pada tanah padang Kerbela!” Maka kata Amir Husein, “Qalu inna lilLahi wa inna ilayhi raji`una!” Apabila didengar Umar Sa`d Maisum warta Amir Husein sudahlah ada di padang Kerbela berbarung-barung, maka Umar Sa`d Maisum menghampiri sungai Furat, ditebatnya sungai itu, supaya Husein jangan beroleh air.

Setelah sudah ditebatnya sungai ini, maka dikirimkannya surat kepada Yazid, dalam surat itu demikian bunyinya, “Segeralah Yazid memberi bantu akan hamba, karena Amir Husein sudah adalah di tengah padang Kerbela berbarung-barung!” Maka datangnya surat itu kepada Yazid, dengan seketika itu jua disuruhkan Yazid lima puluh ribu hulubalang serta Ubaidillah bin Ziyad dan orang berjalan tujuh puluh ribu, Maka Yazid berkata, “Pergilah kamu ke tebing Sungai Furat, khawani oleh kamu supaya Husein jangan beroleh air minum, maka kepala Husein pun segera kamu bawa kepadaku! Maka tatkala Amir Husein berhenti pada padang tanah Kerbela, sehari bulan Muharam, maka Ubaidillah bin Ziyad pun menghampiri tebing sungai Furat, dikhawaninya.

Maka segala hulubalang Amir Husein dahagalah tersiur-siur mencari air sekalah, tiada beroleh air. Demikianlah datanglah kepada delapan hari bulan Muharam, dalam kedahagaan jua kaum Amir Husein. Pada kesembilan harinya hari bulan Muharam, segala anak Amir Husein pun datang kepada Amir Husein, katanya, “Hai bapaku! Maha sangat dahagaku, air liur kami pun keringlah daripada kerungkungan kami, bermula rasa dada kami pun jerihlah. Berilah akan kami air seteguk!” Maka pada bilik Amir Husein ada suatu kendi kulit belulang berisi air, maka kendi itu pun pesuklah dikorek tikus, air pun habislah terbuang…” (Brakel 1975).

Hikayat ini sebenarnya didasarkan atas peperangan yang dilakukan al-Mukhtar, pemimpin sekte Kaisaniyah, melawan Yazid dengan tujuan menuntut bela atas kematian Amir Husein. Dengan dibantu oleh panglima perangnya Ibrahim al-Asytur dia mengangkat Muhammad Ali Hanafiyah sebagai imam pengganti Husein. Pada mulanya kisah ini bersifat legenda, namun kemudian dikembangkan menjadi sebuah roman sejarah (Ali Ahmad 1996). (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL