Oleh: Abdul Hadi W.M

adul hadi wm 3Bukti-bukti tekstual juga menguatkan pendapat bahwa sumber-sumber Persia memainkan peranan penting bagi bangkitnya kesusastraan Islam di Nusantara sampai periode paling akhir. Hikayat-hikayat Melayu Islam yang awal yang meliputi epos, roman, hikayat nabi-nabi dan wali-wali, serta karangan-karangan bercorak tasawuf termasuk puisi, jika bukan merupakan saduran dari hikayat-hikayat (dashtan) Persia, tidak sedikit di antaranya diilhami oleh karangan penulis-penulis Persia. Epos-epos Islam terkenal seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, Hikayat Syah Mardan, dan lain sebagainya digubah berdasarkan sumber Persia.

Memang pada mulanya epos-epos Islam telah muncul dalam kesusastraan Arab. Namun epos-epos itu mencapai bentuknya yang matang dan kompleks, serta memiliki nilai estetik yang tinggi, di tangan penulis-penulis Persia abad ke-12 – 14 M. Khusus Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah, dasar ceritanya ialah legenda yang hidup di kalangan pengikut sekte Kaisaniyah, sebuah sekte dari madzhab Syiah yang berbeda dari sekte-sekte Syiah lain seperti aliranImam Duabelas (Imamiya), Imam Tujuh (Ismailiya), Imam Lima (Zaidiya) dan lain-lain. Sekte-sekte Syiah yang lain berpendirian bahwa hanya keturunan Ali bin Thalib dan Fatimah saja yang berhak menjabat Imam, maka sekte Kaisaniyah menganggap bahwa jabatan imamah berakhir setelah wafatnya Muhammad Ali Hanafiyah. Hanafiyah adalah putra Ali yang ketiga dari istrinya yang berasal dari suku Hanif dan yang dinikahi Ali setelah wafatnya Fatimah. Sekte ini dikembangkan oleh Kaisan, pengasuh Hanafiyah yang sangat mengagumi kesalehan tuannya.

Agaknya di antara orang-orang Islam yang banyak pindah ke Indonesia dari negeri Arab dan Persia pada awal abad ke-14 hingga pertengahan abad ke-15 M, yaitu pada masa penaklukan bangsa Mongol atas negeri kaum Muslimin dan kekacauan di Persia akibat peperangan yang dicetuskan Timur Leng pada akhir abad ke-14 hingga awal abad ke-15 M, terdapat tidak sedikit penganut Syiah, bukan saja Syiah Imam Dua Belas tetapi juga Syiah Imam Empat (Zaidiyah) dan Kaisaniyah. Sebagian dari mereka, sebagaimana dipaparkan dalam banyak sumber sejarah, bergabung dengan orang-orang Sunni madzab Syafii di Yaman, yang telah lama menjadikan negeri itu sebagai pusat kegiatan keagamaan penganut Sunni madzab Syafii. Dari tempat inilah orang-orang Islam dari negeri Arab dan Persia memulai pelayarannya ke Timur melalui Samudra Hindia dengan tujuan pelabuhan-pelabuhan di India Selatan dan kepulauan Melayu. Pelabuhan Aden di Yaman memang sangat strategis, dan telah sejak lama dijadikan pelabuhan dagang utama yang yang menghubungkan benua Eropa dan Afrika dengan negeri-negeri di sebelah timur seperti India dan kepulauan Melayu (Ali Ahmad 1996; Abdul Hadi W.M. 2001).

Berdasarkan ini dapat disimpulkan bahwa orang-orang Kaisaniyahlah yang membawa dan memperkenalkan epos ini di kepulauan Melayu. Latar belakang ceritanya ialah sebagai berikut. Setelah Ali bin Thalib dipilih menjadi khalifah yang menggantikan Usman bin Affan yang mati akibat pembunuhan misterius, Muawiyah yang merupakan kerabat Usman dan menjabat sebagai gubernur Damaskus menentang keputusan itu. Dia merancang untuk melakukan perlawanan. Peperangan meletus di Shiffin pada tahun 657 M. Ali dan pasukannya hampir memperoleh kemenangan, tetapi Muawiyah menawarkan perdamaian untuk mencegah kekalahan tentaranya. Maka diadakanlah tahkim untuk menentukan apakah Ali atau Muawiyah yang berhak memangku jabatan khalifah. Ternyata ini merupakan siasat yang dirancang rapi oleh Muawiyah untuk menggulingkan Ali dan kaum Aliyun yang merupakan pesaingnya yang paling kuat. Hakim yang dipilih untuk menentukan siapa yang berhak menjadi khalifah sebagian besar memihak Muawiyah.

Kaum Khawarij yang semula memihak Ali, mengutuk keputusan mengadakan tahkim. Mereka merancang akan membunuh Ali dan Muawiyah. Pada tahun 659 M dua tahun setelah peristiwa itu kaum Khawarij melaksanakan niatnya membunuh kedua pemimpin itu. Muawiyah lolos dari usaha pembunuhan, tetapi Ali tewas dihunus pedang pemimpin Khawarij Abdul Rahman bin Muljam ketika Ali sedang berada di Kufa. Sejak peristiwa berdarah itu Muawiyah merasa lega karena tidak ada lagi yang akan merintangi dirinya menjadi penguasa mutlak kekhalifatan Islam. Tetapi di tempat lain kaum Aliyun mengangkat Hasan sebagai pengganti Ali. Beliau juga akhirnya mati setelah diracun. (hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL