Oleh: Abdul Hadi W.M

adul hadi wm 3Hasil-hasil penelitian yang mendalam berkenaan dengan perkembangan sastra Indonesia klasik memperlihatkan pula bahwa tidak sedikit hikayat-hikayat lokal dalam sastra Aceh, Jawa, Madura, Bugis, Makassar, Minangkabau, Sasak, Sunda, Banjar, dan lain-lain dilhami oleh hadirnya epos-epos Islam seperti Hikayat Amir Hamzah, Hikayat Sayidina Husein, Hikayat Iskandar Zulkarnaen, dan Hikayat Muhammad Ali Hanafiyah. Contoh yang paling cemerlang ialah Hikayat Hang Tuah dalam sastra Melayu, dan Hikayat Prang Geudong di Aceh yang memaparkan perjuangan Sultan Iskandar Muda, antara lain mengusir angkatan laut Portugis yang ingin menguasai Selat Malaka pada awal abad ke-17 M. Juga memerangi raja Melayu yang bersekutu dengan kaum kolonial untuk menghancurkan Aceh Darussalam sebagai kesultanan Islam terbesar di Asia Tenggara ketika itu (Abdul Hadi W.M 2001).

Tetapi momentum yang membuat membuat epos Islam semakin memperlihatkan relevansi dan kebermaknaannya ialah pada abad ke-17 – 19 M, masa-masa maraknya perang anti kolonial yang dimulai dengan Perang Ternate pada awal abad ke-17 M sampai perang Perang Aceh yang berlangsung begitu lama pada akhir abad ke-19 M. Pemimpin peperangan ini sebagian besar adalah tokoh Islam, seperti pangeran, kapitan, guru tariqat sufi, raja, ulama, dan lain sebagainya. Pada umumnya tokoh-tokoh tersebut adalah pembaca karya sastra yang sangat menyukai epos. Contoh terbaik ialah Pangeran Trunojoyo, pemimpin perang melawan VOC dan sekutunya Mataram pada akhir abad ke-17 M. Dan Pangeran Diponegoro, pemimpin Perang Jawa (1825-1830) . Pada malam hari, seraya mempersiapkan diri untuk maju ke medan perang esok harinya, kedua tokoh itu sering membacakan epos Islam masyhur untuk komandan perang dan pembantu dekatnya. Kitab-kitab hikayat itu selalu dibawa setiap kali berpindah tempat (Ricklefs 1982).

Selama Perang Aceh berlangsung hampir empat dekade pada akhir abad ke-19 M, majlis-majlis pembacaan epos selalu berlangsung pada malam hari. Diilhami epos-epos yang telah ada, seorang penyair Aceh akhir abad ke-19 M Cik Pante Kulu menulis hikayat terkenal yaitu Hikayat Perang Sabil. Pembacaan hikayat ini oleh sang penyair, dan juga hikayat perang lainnya, mampu memulihkan semangat juang perajurit Aceh yang mulai melemah pada akhir abad ke-19 M. Paparan dalam Hikayat Soydina Usin sendiri di Aceh bukan saja dijadikan dasar penyelenggaraan Hari Asan Usin atau Hari Asura, tetapi juga mengilhami bentuk tari yang heroik dan masyhur Seudati. Tepukan dada berulang-ulang yang dilakukan penari Seudati dapat dirujuk pada deskripsi dalam Hikayat Sayidina Husein, yaitu episode takziyah, ketika Syahrbanum dan sanak saudaranya menangis dan menepuk-nepuk dada begitu mendengar Sayidina Husein gugur di padang Kerbela dengan tangan terpotong, tubuh berlumur darah dan kepala terpisah dari badan. (hd/liputanislam.com)

Daftar Pustaka:

1. Ali Ahmad dan Siti Hajar Che Man(1996). Bunga Rampai Sastera Melayu Warisan Islam. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

2. Abdul Hadi W. M. (2001). Islam: Cakrawala Estetik dan Budaya. Jakarta: Pustaka Firdaus.

3. Braginsky, Vladimir (2004). The Heritage of Traditional Malay Literature: A Historical Survey of Genres, Writings, and Literary Views. Leiden: KITLV.

4. Brakel, L. F. (1969-1970). “Persian Influence on Malay Literature”. Dalam Abr-Nahrain. Jilid 9:9. Hal. 407-426.

5. Brakel L. F. (1975). The Hikayat Muhammad Hanafiyyah: A Medieval Muslim-Malay Romance. The Hague: Martinus Nijhoff.

6. Browne, Edward G. A. (1976). A Literary History of Persia. 4 vols. Cambridge: Cambridge University Press.

7. Drewes, G. W. J. (1968). “Javanese Poems dealing with or Attributed to the Saint of Bonang”. BKI deel 124.

8. Edwar Djamaris (1990). Menggali Khazanah Sastra Melayu Klasik. Jakarta: Balai Pustaka.

9. Hill, A (1960). Hikayat Raja-raja Pasai: A Revised Romanized Version with an English Translation. Kuala Lumpur: JMBRAS 33, 2:1-215.

10. Ibrahim Alfian (1999). Wajah Aceh Dalam Lintasan Sejarah. Banda Aceh: Pusat Dokumentasi dan Informasi Aceh.

11. Ismail Hamid (1983). Kesusasteraan Melayu Lama dari Warisan Peradaban Islam.

12. Petaling Jaya: Fajar Bakti Sdn Bhd.

13. Jansen, G. H. (1983). Islam Militan. Terj. Armahedi Mazhar. Bandung: Pustaka.

14. Pigeaud, T. H. (1967). Literatures of Java. Vol. I. Leiden: Martinus Nijhoff.

15. Ricklefs, M. C. (1983). A History of Modern Indonesia since c. 1300. London: Macmillan.

16. Winstedt, R. O. (1961). A History of Classical Malay Literature. Kuala Lumpur: Oxford University Press.

17. Wolters, O. W. (1970). The Fall of Sriwijaya in Malay History. Ithaca New York: Cornell University Press.

*Sumber tulisan : www.ahlulbaitnabisaw.blogspot.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL