Oleh: Dr Ja’far Umar, MA

ja'farTidak semua aliran filsafat Islam berhasil memasuki kawasan Aceh. Fakta sejarah menunjukkan bahwa antara abad XVI-XVII M, tampaknya hanya aliran Gnosis Ibn Arabi yang berhasil berkembang di Tanah Rencong. Aliran filsafat Ibn ‘Arabi ini telah memasuki Aceh sejak abad ke XV M. Sejak itu, filsafat Gnosik Ibn ‘Arabi dikenal di Aceh. Tradisi ‘Arabian’ itu akhirnya memikat hati putra Aceh. Buktinya, sejak abad 17 M, komunitas intelektual Aceh menghasilkan karya-karya ulasan filsafat Ibn ‘Arabi. Al-Fanshuri bisa disebut sebagai pengulas pertama ajaran Ibn ‘Arabi ke Aceh. Ia cukup berhasil mengkomunikasikan ajaran ‘Arabian’ ini melalui bahasa Melayu secara sistematik dan integral. Sebagaimana Ibn Arabi dan al-Jilli, tema-tema utama tulisannya pun berkenaan dengan konsep-konsep seperti Wahdatul Wujud dan Insan Kamil. Selain dipengaruhi ajaran Ibn ‘Arabi, Al-Fanshuri pun memiliki ‘hutang intelektual’ kepada sufi lainnya semacam Abu Yazid Bustami, Al-Hallaj, Al-Jilli, ‘Atthar, Al-Qunawi, Rumi, ’Iraqi, al-Baghdadi, Maghribi, Jami’, ‘Ain Qudlat Hammadani, Ahmad Ghazali, dan Syabistari. Ajaran kesemua sufi ini berperan besar terhadap pembentukan intelektualitas dan spiritualitas Al-Fanshuri dan eksponen aliran Wujudiyah.

Keberadaan aliran Wujudiyyah sempat membawa kritikan dari sejumlah sufi ortodoks, bahkan kekerasan atas nama agama muncul sebagai puncak dari kritikan itu. Pengkritik aliran Wujudiyah Al-Fanshuri bisa dibagi atas dua kelompok, kelompok ekstrim dan moderat. Kelompok pertama diwakili oleh Nuruddin al-Raniri (w. 1658 M). Sementara Abdurrauf al-Singkeli (1615-1693 M) dikenal sebagai representasi dari kelompok kedua. Kendati begitu, pandangan sufistik kedua kelompok ini sebenarnya dipengaruhi oleh ajaran Gnosis Ibn ‘Arabi, hanya saja mereka menafsirkan ajaran Ibn Arabi secara moderat. Hal ini dilakukan karena mereka ingin mengharmoniskan antara tasawuf dan syari’at. Meskipun demikian, kedua kelompok ini tetap dapat disebut sebagai pelestari filsafat Islam di Aceh.

Kendati antara abad XVI-XVII M, Iran dan Aceh telah menjadi ‘ladang’ tradisi filsafat, namun ada sejumlah perbedaan antara tradisi filsafat Islam di kedua wilayah ini. Pertama, jika di Iran lahir madzhab filsafat terbaru bernama Hikmah Muta’aliyah, sebagai hasil ‘kerja intelektual’ Mulla Shadra, maka di Aceh baru berkembang tradisi Gnosis yaitu filsafat Ibn ‘Arabi, salah satu komponen utama pembentuk aliran filsafat Hikmah Muta’aliyah. Di kawasan Iran, berbagai aliran filsafat Islam seperti Kalam, Parepatetik, Isyraqiyyah, dan Gnostik sukses disintesakan para pemikir “madzhab Isfahan”, terutama Mulla Shadra, sehingga melahirkan aliran filsafat Islam yang baru bernama Hikmah Muta’aliyah tersebut. Sementara di kawasan Aceh, tradisi filsafat yang dikembangkan barulah tradisi Gnosis, yakni filsafat Ibn ‘Arabi, sehingga terbentuklah aliran Wujudiyah. Para pemikir Islam Aceh abad XVI M, yang membentuk “madzhab Banda Aceh Darussalam” itu, tampaknya belum memikirkan upaya mensintesakan pelbagai aliran filsafat Islam sebagaimana yang dilakukan para pemikir “madzhab Isfahan”.

Kedua, jika tradisi filsafat di Iran terus dilestarikan pasca wafatnya Mulla Shadra, bahkan sampai saat ini, namun tradisi filsafat di Aceh yang dibangun Al-Fanshuri, lambat laun mulai redup bahkan ‘mati’. Hal ini diawali ketika Al-Raniri memfatwakan kesesatan aliran Wujudiyah, layaknya Al-Ghazali yang memfatwakan kesesatan sejumlah pandangan filsuf Parepatetis. Fatwa “Al-Ghazali dari Gujarat” (Baca: Al-Raniri) ini tampaknya benar-benar ampuh ‘mematikan’ kajian-kajian filsafat Islam di bumi Aceh. Kemandegan filsafat Islam di Aceh terus berlangsung sejak penjajah asing datang ke negeri ini, mulai dari Portugis, Belanda, hingga Jepang. Bahkan ketika daerah Aceh menjadi provinsi di negara Indonesia, tradisi filsafat Islam menjadi benar-benar ikut terkubur bersama Al-Fanshuri, tokoh pertama pembangkit tradisi filsafat Islam di bumi Serambi Mekkah ini.

Penutup

Artikel ini tentu saja tidak dapat menguak secara luas aktifitas filsafat Islam di Aceh pada abad-abad XVI-XVII M. Tetapi setidaknya, uraian umum ini bisa menjadi bukti bahwa tradisi filsafat Islam tetap terus berkembang, tidak hanya di Iran saja sejak dinasti Safawi berkuasa, namun berkembang pula secara signifikan di Aceh pada era kerajaan Aceh Raya Darussalam. Ketika Mulla Shadra dipandang berjasa mengembangkan tradisi filsafat Islam di Iran, bahkan berhasil mendirikan madzhab filsafat baru bernama Hikmah Muta’aliyah, maka pada abad yang bersamaan, sudah seharusnya Al-Fanshuri dipandang sebagai filsuf yang ikut melestarikan khazanah filsafat Islam di Aceh. Hal ini dikarenakan Al-Fanshuri sempat berhasil menghidupkan tradisi filsafat Gnostik Ibn ‘Arabi di Aceh pada abad-abad XVI-XVII M.

Sebagai penutup, karena sebuah kebudayaan dan peradaban besar hanya ditopang oleh budaya intelektual yang tinggi, maka sudah menjadi tugas pemerintah dan intelektual Nanggroe Aceh Darussalam menghidupkan kembali khazanah filsafat Islam di bumi Serambi Mekkah. Hal ini dilakukan agar rakyat Aceh mampu mengangkat kebudayaan dan peradaban Aceh kembali ke puncaknya. Tidakkah rakyat Aceh merindukan sosok seperti Al-Fanshuri, As-Sumatrani, dan As-Singkeli di masa-masa mendatang ?. Wallahu A’lam bi al-Shawab. (hd/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL