Oleh: Dr Ja’far Umar, MA

ja'farKajian Filsafat Islam di Aceh

Adalah fakta tak terbantahkan bahwa tradisi filsafat Islam terus dilestarikan para filsuf Muslim, kendati sejak abad XVIII M, kajian-kajian filsafat secara serius lebih terbatas di Iran, Iraq, dan Anak Benua India. Aktifitas filsafat Islam ini mencapai titik klimaks tatkala dinasti Safawi (1501-1736 M) berkuasa di Iran. Priode ini ditandai oleh kemunculan para pemikir “madzhab Isfahan” seperti Mir Damad (w. 1631 M), Mir Abul Qasim Findiriski (w. 1641 M), dan Baha’uddin al-‘Amili (w. 1622 M). Namun filsuf terkemuka priode ini adalah murid ketiga filsuf itu yakni Mulla Shadra (1571-1640 M). Mulla Shadra berhasil mensistesakan syari’at (Quran-Hadits) dengan pelbagai aliran filsafat Islam seperti Kalam, Parepatetisme, Gnosisme, dan Illuminasionisme. Hasil elaborasi ini melahirkan aliran filsafat Islam terbaru bernama Hikmah Muta’aliyah. Meskipun aliran filsafat Islam selain Hikmah Muta’aliyah tetap berkembang, namun aliran ini lebih mendominasi aktifitas tradisi filsafat sejak kematian Mulla Shadra.

Pada masa ini pula, tradisi filsafat Islam sempat berkembang pesat di Aceh. Filsafat berkembang di kawasan ini ketika kerajaan Aceh Raya Darussalam (1511-1937 M) berkuasa di bumi Aceh. Kajian-kajian filsafat semakin marak diadakan tatkala sultan ‘Alauddin Ri’ayat Syah (1589-1604 M) dan Sultan Iskandar Muda (1607-1636 M) berkuasa. Perkembangan tradisi filsafat Islam pada masa ini memiliki karakteristik yang khas, bahkan mampu membentuk sebuah madzhab pemikiran, “madzhab Banda Aceh Darussalam”. Sebab Aktifitas filsafat lebih terpusat di ibukota kerajaan Islam ini, Banda Aceh Darussalam. Pada periode yang sama seperti periode kebangkitan filsafat Islam di Iran, yang ditandai dengan munculnya para pemikir “madzhab Isfahan” seperti Mir Damad dan Mulla Shadra, di kawasan Aceh muncul para komentator filsafat Gnostik Ibn ‘Arabi (w. 1240 M) seperti Hamzah Fanshuri (w. 1600 M), Syamsuddin Sumatrani (w. 1630 M), Saiful Rijal (?), dan lainnya. Para pemikir ini bisa disebut sebagai pendiri “madzhab Banda Aceh Darussalam” tersebut. Aliran filsafat Al-Fanshuri ini lebih dikenal sebagai aliran Wujudiyyah, karena aliran ini mengembangkan ajaran Gnosis Ibn Arabi.

Sedikitnya ada tiga faktor sebagai pemicu kemunculan tradisi filsafat Islam di Aceh antara abad XVI hingga XVII M.

Pertama. Keberadaan para sufi dalam skala besar di Nusantara. Kehadiran para sufi ke Aceh tidak lain karena wilayah ini memiliki pelabuhan-pelabuhan penting seperti Perlak, Pasai, dan Banda Aceh. Bahkan penguasa-penguasa Aceh berhasil membangun kekuatan politik yang cukup besar sehingga lahir sejumlah kerajaan Islam seperti kerajaan Perlak, kerajaan Samudera Pasai, dan kerajaan Aceh Raya Darussalam. Fenomena ini akhirnya memancing minat para Sufi dari Timur Tengah dan Asia Tengah mendatangi Aceh. Misalnya, pada abad XVI-XVII M, sejumlah sufi datang ke Aceh seperti Syekh Abu Khair Ibn Hajar, Syekh Muhammad Yamin, dan Syekh Muhammad Jailani bin Hasan bin Muhammad Humaidi. Syeikh Abul Khair ini mendukung ajaran Wahdatul Wujud Ibn ‘Arabi. Sementara Syekh Muhammad Yamin dan Syekh Muhammad Jailani mendukung konsep Wahdat Syuhud Syeikh Ahmad Sirhindi. Dua sufi pertama pernah terlibat diskusi alot tentang A’yan Tsabitah, bahkan diskusi ini disaksikan penguasa, intelektual, dan masyarakat Aceh. Selain mereka, para sufi Timur Tengah, Persia, dan India terus berdatangan ke Aceh secara silih berganti.

kedua, Banyak pelajar Aceh mempelajari tasawuf kepada para sufi, baik di Asia Tenggara sendiri maupun di Timur Tengah dan Asia Tengah. Tokoh-tokoh seperti al-Fanshuri, As-Sumatrani, Syaiful Rijal, dan Abdurra’uf As-Singkeli adalah figur utama dari fenomena ini. Setelah mempelajari tasawuf secara memadai di negeri lain, mereka kemudian mengembangkan ajaran-ajaran tasawuf itu secara kreatif di Aceh. Bisa dikatakan, mereka melakukan ‘Melayuisasi’ atas ajaran tasawuf di bumi Aceh.

Ketiga. Masuknya kitab-kitab tasawuf ke Aceh. Fenomena ini lahir sebagai akibat kedua faktor di atas. Para sufi dan pelajar itu selain mengajar dan belajar tasawuf, juga membawa kitab-kitab tasawuf ke Aceh. Sejumlah kitab tasawuf beredar di Aceh, terutama kitab Al-Tuhfat al-Mursalah ila Ruh Al-Nabi karya Fadhl Allah Al-Burhanpuri Al-Hindi (w. 1620 M). Tokoh ini dikenal sebagai pensyarah ulung ajaran Ibn ‘Arabi dari India. Para intelektual Aceh, selain banyak dipengaruhi oleh kitab ini, berhasil pula melahirkan karya-karya sufistik seperti kitab Asrar ‘Arifin fi Bayani Ilm Suluk wa at-Tauhid, kitab Syarab al-‘Asyiqin, dan kitab Al-Muntahikarya Al-Fanshuri; kitab Syar’ul Al-‘Arifin dan kitab Miratul Haqiqah karya As-Sumatrani; kitab ‘Umdah Al-Muhtajin ila Suluk Maslak Al-Mufridin, kitab Kifayatul Muhtajjin, kitab Bayan Tajalli, dan kitab Syai’r Ma’rifat karya As-Singkeli. Keberadaan pelbagai kitab ini tentu saja terus mendorong kajian-kajian filsafat Islam di Aceh. (hd/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL