Oleh: Dr Ja’far Umar, MA

(Dosen UIN Sumut)

ja'farSebagian Orientalis dan penulis Muslim berpendidikan Barat mengklaim bahwa tradisi filsafat telah redup di Dunia Islam. Sejumlah alasan disajikan guna mendukung klaim ini. Pertama. Karena di Dunia Islam pintu berijtihad telah ditutup. Umat Islam hanya bertaqlid kepada produk pemikiran Klasik. Kedua. Munculnya serangan al-Ghazali (1058-1111 M) terhadap filsafat Islam melalui kitab Tahafut al-Falasifah. Ketiga. Kematian Ibn Rusyd pada tahun 1198 M, seorang filsuf Muslim terbesar dari Spanyol yang dianggap sebagai simbol rasional Islam terakhir. Keempat. Invasi Mongol atas Bagdad pada tahun 1258 M yang menyebabkan hancurnya kebudayaan dan peradaban Islam di Timur, terutama aspek intelektualnya. Alasan-alasan ini bagi mereka cukup membuktikan bahwa aktifitas filsafat telah sirna di Dunia Islam.

Banyak fakta menjadi bukti bahwa klaim ini tidak benar. Sejumlah ahli belakangan menyebut bahwa tradisi filsafat Islam terus berkembang secara signifikan. Perkembangan tradisi filsafat berada pada titik klimaks tatkala Mulla Shadra (1571-1640 M) berhasil mendirikan madzhab filsafat baru bernama Hikmah Muta’aliyah. Aliran yang lahir di Persia ini dikenal sebagai aliran elaboris antara syari’at, teologi, parepatetisme, gnosisme, dan illuminasionisme. Hanya saja aliran ini berkembang secara terbatas di tiga kawasan, yakni Iran, Iraq, dan Anak Benua India. Ajaran Hikmah Muta’aliyah ini memberikan pengaruh besar terhadap perkembangan filsafat Islam di ketiga kawasan itu, bahkan hingga saat ini.

Ironinya, fenomena di atas begitu mendominasi tulisan-tulisan para ahli tentang sejarah filsafat Islam, sampai-sampai aktifitas tradisi filsafat Islam di kawasan lain kurang mendapat perhatian. Seabad dengan Mulla Shadra, sebenarnya tradisi filsafat Islam juga sedang berlangsung di Aceh secara aktif. Sebab itulah, secara geografis sebenarnya tradisi filsafat Islam terus lestari tidak hanya di wilayah Iran, Iraq, dan Anak Benua India, tetapi secara bersamaan berkembang secara kreatif di Aceh. Kenyataan seperti inil memang hampir dilupakan oleh kebanyakan penulis. Secara khusus, tulisan ini akan memotret tentang tradisi filsafat Islam di negeri yang dikenal sebagai Serambi Mekkah ini pada abad XVI-XVII M.

Makna Filsafat Islam

Kata falsafah berasal dari bahasa Yunani, yakni dari kata philosphia. Kata inimerupakan gabungan dari dua kata, yakni ‘Philo’ yang berarti ‘cinta’, dan kata ‘sophia’ yang bermakna ‘kebijaksanaan’. Secara harfiah, kata ‘falsafah’ ini bermakna ‘cinta kebijaksanaan’. Secara terminologi, pandangan filosof tentang makna falsafah terangkum seperti ungkapan Ikhwan al-Shafa “permulaan filsafat adalah cinta pada ilmu, pertengahannya adalah pengetahuan tentang realitas wujud sesuai dengan ukuran kemampuan manusia, dan puncaknya adalah kata dan perbuatan yang sesuai dengan pengetahuan tersebut”. Sebagaimana definisi ini, maka filsafat Islam menekankan hubungan integratif antara aspek teoritis filsafat dan aspek praktisnya, antara berfikir filosofis dan menuntun ke kehidupan bijak. Istilah filosof pun dipahami tidak hanya sebagai pembahas konsep-konsep mental secara cerdas, melainkan pula sebagai seseorang yang berprilaku sesuai dengan kebijaksanaan yang dipahaminya secara teoritis tersebut.

Selain kata falsafah, para filosof pun menggunakan istilah hikmah. Kata hikmah ini mereka identifikasi pula sebagai falsafah. Secara literal kata hikmah berarti ‘kebijaksanaan’. Secara terminologis, hikmah bukan hanya hasil dari kerja intelektual pada level akal saja, namun hakikat hikmah, meminjam definisi Izutsu, adalah “produk orisinil aktifitas akal analitis yang keras dan didukung oleh tangkapan intuitif yang penting tentang realitas”. Jadi, hikmah tidak saja dimaknai sebagai hasil aktifitas rasio manusia semata, namun dimaknai sebagai hasil aktifitas integratif antara rasio dan intuisi manusia dalam memahami realitas.

Pengidentikan kata falsafah dengan kata hikmah adalah sebagai upaya justifikasi ajaran Islam, sebab kata ini terdapat dalam al-Quran. Kata hikmah disebut al-Quran al-Karim sebanyak 20 kali. Oleh karena kata hikmah terdapat dalam al-Quran, sementara kata ini diidentikkan dengan kata filsafat, maka berarti al-Quran membenarkan aktifitas filsafat. Meskipun al-Quran al-Karim menyebut nama hikmah, namun para filsuf Muslim awal lebih cenderung menggunakan kata falsafah dari pada kata hikmah, sehingga kata filsafat Islam muncul. Hal ini karena pada masa itu umat Islam begitu berambisius terhadap filsafat Yunani. Ketika falsafah mendapat kecaman dari para ulama tradisionalis semacam al-Ghazali, upaya mensintesakan antara falsafah dengan aliran pemikiran lain seperti Kalam dan Tasawuf mulai dilakukan para filsuf Muslim. Sejak itulah, kata hikmah lebih banyak dipakai dari pada kata falsafah sebagai istilah baku untuk maksud dari falsafah. Kata hikmah ini mulai marak digunakan para filsuf Muslim pasca-Ibn Rusyd. Kata hikmah dijadikan sebagai istilah filsafat hasil elaborasi antara syari’at dengan pelbagai aliran pemikiran Islam seperti Kalam, Parepatetis, Gnosisme, dan Illuminasionisme.

Sejak awal sejarahnya, nuansa religius memang tidak pernah absen dalam tradisi filsafat Islam. Bahkan nuansa religius ini lebih kuat pengaruhnya terhadap filsafat pada priode pasca Ibn Rusyd. Pada priode ini, muncul sejumlah aliran filsafat Islam semisal ‘Irfan, Isyraqiyyah, dan Hikmah Muta’aliyah. Sejumlah aliran ini berhasil mengintegrasikan antara syari’at, teologi, dan mistisisme, sehingga ketiganya menjadi ramuan yang tidak terpisahkan dengan filsafat Parepatetik. Aliran-aliran tersebut tidak hanya menjadikan akal sebagai alat memahami realitas, namun menjadikan akal, intuisi, dan wahyu secara integratif guna memahami realitas. Pendeknya, filsafat Islam tidak hanya diartikan sebagai aktualisasi akal semata, namun aktualisasi secara integratif antara akal, intuisi, dan wahyu Ilahi dalam memahami realitas.

Jika pengertian filsafat ini dipakai tulisan untuk ini, maka semua aliran pemikiran Islam di Dunia Islam bisa dikategorikan sebagai aliran filsafat Islam. Sedikitnya ada lima jenis aliran filsafat yang berkembang pesat di Dunia Islam sepanjang sejarahnya, yaitu Kalam (Sunnah-Syi’ah), Parepatetisme (Ibn Sina Cs.), Sufisme/Gnosisme (Ibn ‘Arabi C.s), Illuminasionisme (Suhrawardi Cs.), serta Hikmah al-Muta’aliyah (Mulla Shadra Cs.). (hd/liputanislam)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL