fatimah-az-zahra-1Imam Ali berkisah, “Aku menikah dengan Fatimah. Ketika pindah ke rumahku, Rasulullah saw membawakan selimut, bantal kulit berisi serabut kurma, dua gilingan tepung, satu gelas, dan kantong susu. Kami tidak memiliki tempat tidur, yang ada hanya selembar kulit domba, yang dimalam hari menjadi alas tidur ami, dan siangnya kami pun menjemurnya.

Kami tidak memiliki pembantu, pekerjaan rumah di tangani oleh Fatimah, begitu seringnya ia menggiling tepung, sampai kulit tangannya terkelupas, meninggalkan bekas kasar di telapak tangannya. Begitu seringnya ia memikul air, sampai menyisakan bekas pada punggungnya. Begitu seringnya membersihkan rumah sehingga pakaiannya dipenuhi debu. Dan begitu seringnya menyalakan tungku api pemanggang roti, sampai-sampai pakaiannya juga dipenuhi arang dan menghitam”

Begitulah Imam Ali mengisahkan tentang kehidupan isteri terkasihnya, Fatimah putri Rasulullah saw, kisah terindah saat bersamanya, dalam suka dan duka bersama membina rumah tangga.

Imam Ali merasa bersalah pada isterinya. Ini putri Rasulullah saw, manusia termulia di jagat raya, tapi penderitaan demi penderitaan terus melandanya. Sejak masih balita ia melihat ayahnya disakiti para musuhnya, keluarganya di boikot hingga terdampar di lembah Abu Thalib pamannya, tak boleh ada yang memberi bahkan menjual makanan kepada mereka, untuk menyambung hidup merekapun memanfaatkan daun-daun kurma, sekedar pengganjal perut ketika terasa lapar mendera, mereka terasing dari masyarakatnya sekitar tiga tahun lamanya.

Kini setelah menikahpun, kebahagiaan belum menghampirinya, rasa lapar masih sering terasa diperutnya, gaun indah tak pernah dikenakannya, duduk santai tak ada dalam kamus kehidupannya, malah tanggung jawab semakin besar diembannya, sebab, dia tidak hanya menjadi ibu bagi ayahnya (ummu abiha), tetapi juga menjadi ibu bagi anak-anaknya dan isteri bagi suaminya. Ia bertanggungjawab penuh mengelola rumah tangga suci ahli bait nabi.

Imam Ali merasa iba, ia ingin meringankan beban isteri tercinta, tapi apa mau dikata, dirinya juga tak memiliki apa-apa. Tetapi terbersit senyum ceria, mengingat Nabi baru saja menerima hadiah berupa budak dari orang-orang azam yang dilindunginya, mungkin Fatimah bisa meminta seorang budak untuk membantu rumah tangganya.

Imam Ali menyampaikan usul pada isterinya, untuk meminta pembantu yang bisa meringankan beban, untuk secedar memasak makanan, mengambil air, menggiling tepung, atau mengasuh anak-anaknya.

Namun Fatimah malu, karena ia juga tahu, dalam hati ia berata syahdu “ayahu tidak boleh hanya memperhatikan diriu, ada juga keluarga mukmin diseelilingu, yang hidup tak berbeda jauh seperti keluargau”. Biarlah beban ditanggung sendiri, karena di dalamnya ada kebahagiaan sejati, yaitu mengabdi pada ayah dan suami, serta anak-anaknya yang menjadi pelanjut tradisi Nabi. Fatimah juga menyadari, Rasul dan Ali telah mengabdikan diri untu melayani umat atas perintah ilahi.

Tapi, Imam Ali tetap mendesaknya, seolah ada rahasia dalam permintaannya, akhirnya Fatimah pun mengabulkannya, ia pun menghadap Sang Ayah, Rasul yang mulia. Sesampainya di masjid nabawi, ia melihat para sahabat mengelilingi Sang Nabi. Ia tak ingin mengganggunya, lalu pulang dengan tangan hampa, bahkan tak sempat menyampaikan apa hajatnya.

Namun, Rasul sudah melihat anak tercintanya, dan tahu Fatimah punya eperluan padanya. Maka keesokan harinya, Rasul saw pun datang berkunjung ke tempat Fatimah, “Salam atas kamu wahai ahlal bait nubuwah” sapa Sang Rasul di depan rumah putrinya. Jawaban tak terdengar, Rasul mengulang kembali salamnya hingga ketiga kalinya.

Mengetahui Rasul yang datang, Sayidina Ali dan Fatimah pun segera menyambutnya, “Salam atasmu wahai Rasulullah”sambilbertanya-tanya di dalam hati, gerangan apakah yang membuat nabi singgah di rumah ini? Tak menunggu waktu lama, Rasul pun bersabda, “Wahai Fathimah, kemarin aku melihat engkau ingin menemuiku, terihat ada keperluan yang ingin engkau sampaikan?

Fathimah tak mampu menjawabnya. Ia merasa malu telah mengganggu ayahnya. Imam Ali bertindak menjadi juru bicaranya, “Wahai utusan Allah, aku sampaikan sesuatu padamu, Fathimah begitu sering mengangkat air, sehingga tampak berbekas hitam di dadanya, beliau juga selalu menyapu rumahnya, sehingga banyak debu melekat di bajunya, beliau sering di depan tungku dengan api yang menyala, sehingga baju yang dipakai menghitam warnanya, ia sudah seperti seorang yang sedang ditimpa musibah. Aku usul padanya agar meminta seseorang padamu yang dapat membantu meringankan pekerjaannya, hal itu akan lebih baik dan sangat bermanfaat”

Nabi mendengar dengan terharu, ia tahu penderitaan putrinya, tak pernah hidup dalam mewahnya, meskipun ayahnya sudah menguasai jazirah Arabia, dengan suara lembut Rasulpun bersabda, “Wahai Fatimah aku akan berikan sesuatu, yang lebih bernilai dari pada seorang pembantu, bahkan lebih baik dari pada dunia dan seluruh isinya. Yaitu, setelah melaksanakan solat harianmu, bacalah “Allahu Akbar” 34 kali, dan “Alhamdulillah” 33 kali, serta “Subhanallah” 33 kali, dan tutuplah dengan membaca “La ilaha illallah”, maka hidupmu senantiasa dipenuhi rahmat-Nya”

Ali dan Fatimah merasa gembira, mendapat hadiah yang tidak terkira, mereka mengamalkannnya senantiasa, sehingga populerlah zikir itu dengan nama “Tasbih Fatimah Zahra” yang diwariskan juga kepada kita semua. Inilah hadiah terindah dari Sayidah Fatimah, jangan lupa untuk mengamalkan seumur hidup kita, dan sebagai balasannya, pada hari ini, saat kelahirannya, mari kita semua sampaikan salam penghormatan padanya,

 

Salam atasmu wahai putri Rasulillah

Salam atasmu wahai putri Nabiyillah

Salam atasmu wahai putri Habibillah

Salam atasmu wahai putri Khalilillah

Salam atasmu wahai putri Shafiyillah

Salam atasmu wahai putri Aminillah

Salam atasmu wahai putri Khairil bariyyah

Salam atasmu wahai wanita penghulu sejagat raya

 

Salam atasmu wahai isteri wali Allah

Manusia terbaik setelah Rasulullah

Salam atasmu wahai ibu dari al-Hasan dan al-Husain

Pemimpin para pemuda di dalam surga

Salam atasmu wahai Fatimah warahmatullahi wabarakatuh

Shalawat Allah kepadamu bersama ruhmu serta jasadmu

Wahai wanita yang mulia di sisi Allah

Syafaatilah kami di sisi-Nya

(hd/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL