Belakangan ini kembali merebak gerakan umat Islam Indonesia yang dipengaruhi oleh gerakan Islamisme di Timur Tengah. Dalam konteks historis, hubungan Islam Timur Tengah dengan Islam Indonesai bukanlah hal baru, tetapi telah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Namun, jika dulu hubungan tersebut punya kecenderungan intelektualisme, kini hubugan itu cenderung radikalisme baik baik dalam bidang pemikiran hingga konflik di lapangan. Satu hal yang menjadi benang merah, gerakan tersebut mengusung kembali tema-tema yang digaungkan oleh salafisme dan wahabisme. Karenanya sejarah kemunculan gerakan salafisme kontemporer suatu hal yang menarik untuk ditelusuri. Pada kesempatan ini, redaksi menurunkan tulisan ahli tentang gerakan salafi dan wahabi kontemporer yang mempengaruhi gerakan radikalisme di Timur Tengah hingga Indonesia.

——-

Salafisme

Persentuhan awal para aktivias Gerakan Salafi  di Indonesia dengan pemikiran salafisme terjadi pada tahun 1980-an bersamaan dengan dibukanya Lembaga Pengajaran Bahasa Arab (LPBA) di Jakarta. Lembaga yang kemudian berganti nama menjadi LIPIA ini memberikan sarana bagi mereka untuk mengenal dan mendalami pemikiran-pemikiran para ulama salafi. LIPIA adalah cabang dari Universitas Muhammad Ibnu Saud di Riyadh. Pada awal tahun 1980 Imam Muhammad bin saud University di Riyadh yang telah memiliki cabang di Djibouti dan Mauritania memutuskan membuka cabang ketiga di Indonesia.

Pembukaan cabang baru di Indonesia ini terkait dengan gerakan penyebaran ajaran wahabi yang berwajah salafi ke seluruh dunia Islam yang dilakukan oleh pemerintah Arab Saudi pasca bom minyak pada pertengahan tahun 1970-an. Sejak masa booming minyak itu, terdapat berbagai lembaga Islam di dunia termasuk di Indonesia yang memperoleh  bantuan keuangan maupun bentuk lain dari pemerintah Arab Saudi. Di Indonesia, sebagian besar bantuan ini diterima oleh lembaga-lembaga dakwah yang berafiliasi secara ideologis kepada organisasi  puritan, seperti : Persis, Al-Irsyad maupun organisasi puritan modernis seperti Muhammadiyah dan DDI (Dewan Dakwah Islamiyah).

Selain menyediakan beasiswa studi di Arab Saudi bagi mahasiswa Indonesia,Salafisme pemerintah Arab Saudi mendirikan lembaga pendidikan di Indonesia yang memiliki misi menyebarkan ajaran wahabiyah/salafiyah dan penyebaran bahasa Arab pada pertengahan tahun 1980-an. Pada awalnya lembaga pendidikan yang memberikan beasiswa penuh kepada semua mahasiswanya ini bernama LPBA (Lembaga Pendidikan Bahasa Arab). Setelah membuka fakultas syariah dan program diploma, lembaga ini mengubah namanya menjadi LIPIA. Lembaga ini telah melahirkan ribuan alumni yang pada umumnya berorientasi wahabi-salafi dan berbagai variannya. Sebagian menjadi aktivis Partai Keadilan (sekarang PKS—peny) dan sebagian lain menjadi penganjur dakwah salafi. Oleh karena itu bisa dikatakan bahwa dari semua agen penyebaran salafisme di Indonesia, tak satu pun yang lebih penting dari LIPIA.

Upaya membuka cabang di Indonesia ini di awali dengan datangnya Syekh Abdul Aziz Abdullah al-Ammar, seorang murid tokoh paling penting salafi di seluruh dunia Syekh Abdullah bin Baz ke Jakarta. Oleh bin Baz, ia disuruh bertemu dengan Muhammad Natsir sesampainya di Jakarta. Muhammad Natsir menyambut baik rencana pendirian lembaga ini dan bersedia menjadi mediator dengan pemerintah Indonesia. Selanjutnya, Natsir dan DDII memegang peran penting dalam rekruetmen mahasiswa-mahasiswa baru. Maka sejak awal berdirinya lembaga ini, sebagian besar mahasiswa LIPIA berasal dari lembaga-lembaga pendidikan yang memiliki jaringan dengan DDII, misalnya : PERSIS, Muhammadiyah dan al-Irsyad.

Lembaga baru ini mengikuti kurikulum lembaga induknya dan di fakultas-fakultasnya terdapat ulama-ulama salafi yang dikirim Saudi Arabia. Lembaga ini memberikan beasiswa penuh mencakup buku-buku, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup yang standar 100-300 real, setara dengan 27-82 dollar. Terdapat sejumlah mahasiswa yang memperoleh beasiswa melanjutkan studinya di prgram Master dan Doktor di Riyadh. Di antara lulusan pertama lembaga ini menjadi tokoh-tokoh terkenal gerakan salafi. Di antara mereka adalah Abdul Hakim Abdat, Yazid Jawas, Farid Okbah, Ainul Harits, Abu Bakar M. Altway, Abu Nida, Ja’far Umar Thalib, dan Yusuf Usman Baisa.

Setelah lulus dari LIPIA, Abdul Hakim Abdat secara otodidak mengkaji ilmu hadis dan pemikiran para ulama salafi yang tersedia lengkap di perpustakaan LIPIA. Pendalaman intensif ilmu hadis ini mengantarkan ia terkenal sebagai ahli hadis di kalangan gerakan salafi, khususnya di Jakarta. Sedangkan Yazid Jawas, Farid Okbah, Ainul Harits, dan Abu Bakar M. Altway selepas dari LIPIA langsung mendirikan berbagai lembaga dakwah.

Menurut Abdul Hakim Abdat, ia mengenal pemikiran salafi sejak menjadi mahasiswa di LIPIA. Ia adalah siswa LIPIA angkatan pertama. Melalui persentuhan dengan LIPIA ia berkenalan dengan pemikiran para ulama salafi  yang diajarkan  para dosen. Selanjutnya ia mempelajari secara intensif pemikiran salafi yang tersedia banyak di perpustakaan LIPIA. Bahkan hingga kini, perpustakaan LIPIA tetap ia kunjungi secara teratur. Maka ia mendalami kitab-kitab karya Abdullah bin Baz, Syekh Nasir, Syekh al-Albani dan sebagainya. Selain itu, ia juga memiliki hubungan khusus dengan para dosen LIPIA, karena sesungguhnya LIPIA bermazhab dan bermisi salafi.

Sebagaimana yang dikatakan Abdul Hakim, lembaga ini memang mengajarkan pemikiran-pemikiran ulama salafi. Dari materi kuliah ini para mahasiswa menerima ajaran salafi dari dosen, buku-buku rujukan dan nadwah-nadwah (kuliah umum). Pemikiran-pemikiran lebih mendalam dari para ulama salafi juga bisa didapatkan dari membaca sejumlah besar buku di perpustakaan kampus.

Selain menerima pengajaran di kampus, para mahasiswa juga mendapatkan mater-materi kesalafian di nadwah-nadwah yang diselenggarakan di asrama. Nadwah-nadwah ini menghadirkan para dosen yang sebagian besar dari Arab Saudi. Kelompok-kelompok diskusi kecil dengan bimbingan senior (mahasiswa semester akhir) juga dibentuk di kamar-kamar asrama. Kelompok diskusi ini dirasakan lebih efektif, karena bisa mengontrol langsung perilaku, ucapan dan bahan bacaan para mahasiswa. Jika ada mahasiswa yang dianggap menyimpang dari ajaran salafi baik tindakan, pemikiran maupun buku-buku yang dibaca, sang senior langsung menegur dan meluruskan.

Pembentukan keyakinan, pandangan, sikap dan tindakan yang sesuai dengan ajaran salafi menjadi orientasi utama. Dalam perkuliahan sehari-hari, mahasiswa ditekankan untuk memahami, menghayati dan menghapal materi-materi kuliah yang berbasis faham salafi itu. Di kelas tidak berkembang suasana mendorong olah pemikiran. Atmosfer indoktrinasi lebih mewarnai perkuliahan. Menyampaikan pemikiran lain apalagi menyangkal ajaran-ajaran utama salafi khususnya soal akidah (teologi) sangat tidak dikehendaki. Jika didapati mahasiswa yang memiliki pandangan dan keyakinan lain, maka ia terancam mendapatkan nilai buruk dan pada akhirnya akan tereliminasi pada kenaikan tingkat berikutnya.

Susana resistensi terhadap pemikiran-pemikiran non-salafi juga sangat terasa di asrama. Para mahasiswa tidak dibenarkan mengikuti kajian-kajian Islam yang lain termasuk kegiatan organisasi ekstra kampus, seperti : PMII, HMI maupun IMM. Organisasi-organisasi ini dianggap menyebarkan pandangan-pandangan Islam yang menyimpang, karena mengedepankan rasionalisme dalam agama. Pada awal 1990-an, masih memungkinkan sebagian kecil dari mahasiswa yang secara diam-diam bergabung dengan PMII dan HMI. Namun, pada akhir 1990-an, hingga sekarang tidak lagi dimungkinkan mahasiswa mengikuti kegiatan organisasi ekstra kampus. Satu-satunya kajian Islam di luar salafi yang bisa berkembang di LIPIA adalah pengkajian tarbiyah Ikhwanul Muslimin.

Selain dari LIPIA, beberapa tokoh gerakan salafi juga menimba ilmu di Arab Saudi, Yaman, Afghanistan dan Pakistan. Yusuf Usman Baisa dan Abu Nida misalnya, selepas dari LIPIA melanjutkan studinya di Universitas Islam Imam Muhammad Ibn Saud di Riyadh, universitas induk LIPIA. Selepas dari Riyadh, Yusuf Usman Baisa mendirikan pesantren al-Irsyad di Salatiga. Adapun Abu Nida—yang bernama asli Chamzah Sofwan—selama berada di Riyadh, atas bantuan Ustadz Abdul Wahid (Kepala Kantor DDII di Riyadh) menjalin hubungan banyak dengan organisai di Timur Tengah, sehingga memiliki kontak yang luas, khususnya dengan organisasi funding Islam. Melalui DDII Riyadh pula Abu Nida berkenalan dengan organisasi Kuwait Jamiat Ihya al-Turats al-Islami.

Setelah lulus pada 1985, ia pergi ke perbatasan Pakistan-Afghanistan untuk bergabung dengan Jamil al-Rahman selama tiga bulan. Lalu ia kembali ke Indonesia untuk mengajar di Pesantren Ngruki pimpinan Abu Bakar Ba’asyir. Pada 1986 ia menikah dengan santri Ngruki dan pindah ke Sleman Yogyakarta, di mana ia mengajar di Pesantren DDII, Ibnul Qayyim, dan mulai menyebut dirinya guru salafi. Dia dikenal orang yang berjuang untuk menyebarkan Islam di Yogyakarta yang telah dirusak oleh “pembaharuan dan modernisasi”.

Sedangkan Ja’far Umar, sebelum lulus dari LIPIA ia bertengkar dengan salah seorang gurunya dan pergi ke Institut Maududi di Lahore dengan bantuan beasiswa dari DDII pada 1986. Ia juga bertengkar dengan gurunya di Institute Maududi, dan pada 1987 ia bergabung dengan perjuangan melawan Uni Soviet di Afghanistan. Selama dua tahun ia belajar dan di training oleh Jamil al-Rahman di perbatasan Pakistan-Afghanistan. Ia kemudian menyatakan mengadopsi manhaj salafi pada januari 1990. Setelah mengajar di Pesantren al-Irsyad yang dipimpin oleh Yusuf Baisa selama dua tahun, ia kemudian tinggal di Yaman pada tahun 1991 untuk belajar kepada tokokh salafi Syekh Mukbil ibn Hadi al-Wadi di Dammaz.

Dari penjelasan intelektual para tokohnya terlihat jelas bahwa sistem pengajaran timur Tengah menjadi faktor penting perkenalan lebih mendalam, internalisasi dan pendalaman ajaran salafi di kalangan aktivis salafi di Indonesia. Namun demikian pengaruh pemikiran dari organisasi puritanis, seperti : DDII, Muhammadiyah, al-Irsyad dan Persis yang menjadi latar belakang dari mana mereka berasal juga memberikan dasar-dasar yang tidak bisa diabaikan.

*Di salin dari buku “Arus Baru Islam Radikal : Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia” hal. 102-107 oleh M. Imdadun Rahmat. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL