Belakangan ini kembali merebak gerakan umat Islam Indonesia yang dipengaruhi oleh gerakan Islamisme di Timur Tengah. Dalam konteks historis, hubungan Islam Timur Tengah dengan Islam Indonesai bukanlah hal baru, tetapi telah terjadi sejak ratusan tahun lalu. Namun, jika dulu hubungan tersebut punya kecenderungan intelektualisme, kini hubugan itu cenderung radikalisme baik baik dalam bidang pemikiran hingga konflik di lapangan. Satu hal yang menjadi benang merah, gerakan tersebut mengusung kembali tema-tema yang digaungkan oleh salafisme dan wahabisme. Karenanya sejarah kemunculan gerakan salafisme kontemporer suatu hal yang menarik untuk ditelusuri. Pada kesempatan ini, redaksi menurunkan tulisan ahli tentang gerakan salafi dan wahabi kontemporer yang mempengaruhi gerakan radikalisme di Timur Tengah hingga Indonesia.

Salafisme

Wahabisme tidak menyebarkan dirinya sebagai salah satu aliran pemikiran atau salah satu orientasi tertentu dalam Islam, tetapi menyatakan diri sebagai “jalan lurus” Islam. Dengan menyatakan memiliki ketaatan harfiah pada teks agama Islam, dia dapat membuat klaim keautentikan yang dapat dipercaya pada saat identitas Islam sedang diperebutkan. Selain itu, para penganjur wahabisme menolak untuk disebut atau dikategorikan sebagai pengikut tokoh tertentu, bahkan termasuk (Ibn) Abdul Wahab sendiri. Para penganjurnya menegaskan diri bahwa mereka hanya sekadar mematuhi ketentuan salaf as-salih (para pendahulu yang terbimbing yaitu Nabi dan Para Sahabatnya) dan dengan demikian, kaum wahabi dapat memanfaatkan simbol dan kategori salafisme.

Ironisnya, sebagai sebuah gerakan, salafisme justru didirikan pada awal abad ke-20 oleh al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Rida sebagai teologi berorientasi liberal. Untuk merespon tuntutan modernitas, kata mereka, kaum Muslim perlu kembali pada sumber murni Alquran dan sunnah (tradisi Nabi) dan mengaitkan diri dengan penafsiran terhadap teks. Motor utama gerakan salafiyah, Muhammad Rasyid Rida (pendiri majalah al-Manar, penulis Tafsir al-manar, serta berbagai buku-buku reformis lainnya) banyak terwarnai oleh gurunya, Syekh Muhammad Abduh yang sangat terbuka terhadap gagasan Barat. Hal ini membuat Rasyid Rida tidak terlalu dilirik oleh kaum salafiyun modern. Mereka tidak memanfaatkan aliran pembaruan Rasyid Rida sebagaimana mestinya. Padahal, ia adalah pimpinan sejati dari aliran salafiyah yang tercerahkan.

Pada awal 1970-an wahabisme telah berhasil mengubah salafisme dari teologi berorientasi modernis liberal, menjadi teologi literalis, puritan dan konservatif. Harga minyak yang menaik tajam pada 1975, menjadikan Arab Saudi penganjur utama wahabisme, dapat menyebarkan doktrin wahabisme dengan wajah salafisme, yang dimaksudkan untuk kembali pada dasar-dasar autentik agama yang belum dirusak oleh berbagai tambahan praktik sejarah.

Kelompok-Kelompok Salafi

Kaum salafiyah kontemporer di Timur Tengah tidak berwujud dalam satu kelompok saja, tapi menjadi beberapa kelompok.

Pertama, kelompok salafiyah politik yang dengan alasan universalitas risalah Islam lebih menaruh perhatian pada persoalan-persoalan politik ketimbang akidah. Mereka adalah kelompok yang terpengaruh oleh pemikiran Ikhwan al-Muslimin. Mereka biasa disebut salafiyun sururiyyun dengan merujuk pada dai Syiria Muhammad Syurur Zein al-Abidin, seorang anggota IM yang memisahkan diri. Kelompok inilah yang menentang keberadaan Amerika Serikat dan intervensi militernya dalam perang Teluk ke-2. Mereka juga menentang politik Saudi Arabia yang terpaku pada banyak pertimbangan. Itulah sebabnya banyak dari mereka yang harus masuk penjara, menyulitkan para pengikut mereka, serta mempersempit ruang gerak mereka di negeri Raja Saud tersebut. Tokoh-tokoh kelompok ini antara lain Salman al-Audah, Safar al-Hwali, Aid al-Qarni, dan lain-lain. Namun mereka kemudian dibebaskan dan terjadi rekonsiliasi dengan pemerintah.

Kedua, salafiyun al-albaniyun yang mengikuti Syaikh al-Muhaddis Nasiruddin al-Albani. Mereka memerangi fanatisme mazhab fikih dan menolak taklid, sekalipun oleh kalangan awam. Namun, pada saat yang bersamaan, mereka justru mentaklidi semua pendapat Syaikh Nasiruddin al-Albani, dan mentahbiskan diri mereka sebagai “mazhab kelima”.

Ketiga, salafiyun al-jamiyun (salafiyun yang beringas). Tokoh kelompok ini adalah Syekh Rabi’ al-Madhkhali. Kelompok ini gemar menyalahkan dan menyerang semua ulama maupun dai yang bertentangan dengan mereka. Tak ada figur yang selamat dari serangan kelompok ini, baik dari zaman klasik maupun modern. Imam Nawawi dan al-Hafiz Ibn Hajar al-Asqalani, termasuk yang mereka salahkan, hanya karena mereka berdua seorang penganut Asy’ariyah. Di antara ulama modern yang sering diserang antara lain : Hasan al-Banna, Sayid Qutb, Syekh Muhammad al-Ghazali, Yusuf al-Qardhawi, Muhammad Imarah, Fahmi Huwaidi, Ali al-Tantawi, dan sebagainya. Kelompok ini menulis beberapa buku untuk menyerang mereka.

Keempat, salafiyun pengikut Syekh Abdurrahman Abdul Khalik di Kuwait.

Kelima, salafiyun pengikut Syekh Bin Bazz dan Syekh Usaimin di Saudi Arabia.

Kedua kelompok ini terakhir ini belum berbentuk organisasi yang rapi.

*Di salin dari buku “Arus Baru Islam Radikal : Transmisi Revivalisme Islam Timur Tengah ke Indonesia” hal. 71-73 oleh M. Imdadun Rahmat. (cr/liputanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*