LiputanIslam.com – Kehadiran Islam di Selandia Baru sudah lebih dari seabad lamanya. Sehingga jumlah muslim di Selandia Baru pun banyak dan bertambah setiap tahunnya. Lalu bagaimana bisa Islam masuk ke negara yang dominasi masyarakatnya berkulit putih tersebut? Dan muslim dari mana yang masuk ke negara tersebut untuk pertama kalinya?

Dalam buku New Zealand’s Muslims and Multiculturalism, Erich Kolig mengatakan bahwa muslim pertama yang masuk ke Selandia Baru berasal dari Cina. Mereka datang untuk bekerja di sebuah tambang emas tahun 1874. Ada sekitar 17 Muslim laki-laki, 15 di antaranya bekerja di tambang emas Otago yang letaknya di Dunstan dekat Dunedin. Jumlah tersebut masuk dalam catatan sensus negara. Namun kemudian tidak terdeteksi apakah mereka tinggal permanen di Selandia Baru atau kembali lagi ke Cina. Dan tidak terdeteksi pula apakah mereka menikah dan memiliki keturunan di sana sehingga bisa mewariskan keyakinan agamanya atau tidak. Menurut Erich, masa kehadiran muslim Cina di sana berlalu begitu saja tanpa meninggalkan jejak. Bahkan berdirinya komunitas Cina-Selandia Baru pun tidak ada.

Namun, majalah Panji Masyarakat mampu menjawabnya. Panji Masyarakat No. 598 Tahun XXX, 1-10 Januari 1989 menuliskan bahwa beberapa Cina muslim di Selandia Baru ada yang menjadi kaya dan kembali ke Cina, ada pula yang kemudian pindah ke negara lain. Komunitas cina muslim Selandia Baru sedikit demi sedikit menghilang tanpa bekas karena tidak ada keturunan.

Dalam buku Muslims in New Zealand, Erich pun melaporkan bahwa catatan sensus muslim pertama yang dimakamkan di Dunedin Selandia Baru tahun 1888 adalah seorang pelaut Jawa bernama Mohamed Dan. Dari laporan ini, menunjukkan bahwa ada beberapa pelaut muslim dari Asia Tenggara yang menghuni Selandia Baru, baik secara permanen maupun sementara. Namun ada laporan tertulis dan jelas mengenai beberapa muslim imigran dari Gujarat India pula. Pertama, namanya adalah Ismael Ahmed Bhikoo. Ia datang ke Selandia Baru pada tahun 1909. Ia membangun toko di Auckland bersama putra dan saudara-saudaranya yang semuanya muslim. Kedua, Essop Moosa yang tinggal pula di Auckland. Ketiga, Muhammad Suleiman Kara yang tinggal di Christchurch.

Mereka tinggal selama bertahun-tahun. Mereka mendirikan komunitas muslim di sana. Mereka pun membawa istri dan kerabat sehingga muslim bertambah menjadi 44 orang. Erich mengatakan bahwa Bhikoo dan Moosa menjadi pendiri inti komunitas muslim yang terus aktif sampai saat ini.

Dalam bab lain di buku yang sama, pernyataan tersebut disanggah bahwa bukan Bhikoo melainkan Sheikh Mohamed Din dari Punjab India yang datang pertama kali ke Canterbury Selandia Baru pada tahun 1890 bersama komunitas imigran Muslim Punjabi. Kemudian pada tahun 1905, datang muslim Turkmenistan bernama Saleh Mohamed. Dan tahun 1907, baru datang Ismail Kara.

Masuknya Muslim ke Selandia Baru berlanjut tahun 1951. Ada sekitar 50-an muslim Balkan (Albania dan Bosnia), Turki, dan beberapa negara tetangga datang ke Selandia Baru. Hadirnya mereka, jumlah muslim pun meningkat menjadi 205 orang.

Pada tahun selanjutnya, tepatnya 1971, muslim di sana menjadi 779 orang. Kemudian pada tahun 1986, jumlah muslim terus meningkat mencapai 2.500 orang. Dalam 20 tahun terakhir, jumlahnya meningkat 10 kali lipat. Sehingga pada tahun 2001, jumlah muslim sudah mencapai 23.500 orang.

Menurut sensus penduduk Selandia Baru pada tahun 2006 lalu, populasi muslim di sana sudah mencapai satu persen. Sekitar 36.000-45.000 orang. Mayoritas muslim tinggal di daerah Auckland, kemudian sisanya tinggal di Wellington, Hamilton, Christchurch, dan Dunedin. (Ayu/historia.id)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*