ukhuwah-persaudaraan-islamKonflik horizontal Sunni-Syiah akhir-akhir ini semakin merebak di Indonesia. Fitnah-fitnah bertebaran, mengancam ukhuwah dan persatuan NKRI. Salah satu sebab utama masalah ini adalah minimnya informasi yang benar, apakah Syiah itu? Benarkan sesat sebagaimana disebarluaskan oleh berbagai ormas radikal? Berikut ini kami sajikan artikel komprehensif mengenai Syiah, ditulis oleh cendekiawan muslim dari IAIN Sumatera Utara, Candiki Repantu.

PEMBUKA

Allahumma shalli ‘ala muhammad wa aali muhammad

“Dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta Dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah. Yaitu orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi beberapa golongan. tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada golongan mereka.” (Q.S. ar-Rum/30 : 31-32)

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat. Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain, karena boleh jadi kaum yang direndahkan itu lebih baik dari mereka yang merendahkan, dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, karena boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (Q.S. al-Hujurat/49 : 10-11)

Dalam sejarah teologi Islam (ilmu kalam), dikenal banyak mazhab kalam diantaranya Qadariyah, Jabariyah, Muktazilah, Khawarij, Murjiah, Maturudiyah, Asy’ariyah, ahl al-sunnah, dan syiah. Namun, pada saat ini, semuanya nyaris hilang kecuali ahl al-sunnah dan syiah, sehingga disebutkan, pada saat ini, jika seseorang bukan kelompok syiah maka ia adalah kelompok ahl al-sunnah. Meskipun begitu, muncul pula kelompok baru di abad modern yang dikenal dengan Wahabi (didirikan oleh Muhammad bin Abdul Wahab) di Saudi Arabia dan Ahmadiyah (didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad) di India.

Mazhab syiah adalah salah satu mazhab yang sering disalahpahami oleh kebanyakan orang, padahal kini kita sudah diabad teknologi globalisasi yang bisa mengakses beragam informasi di seluruh penjuru dunia. Namun, adakalanya sekelompok orang yang tidak menginginkan persatuan umat Islam, selalu membuat propaganda untuk menghadirkan kebencian dan konflik diantara kelompok-kelompok kaum muslimin bahkan penyesatan dan pengkafiran dengan cara-cara yang jauh dari nalar akademis dan nalar islamis. Untuk itu mereka tak segan-segan melakukan manipulasi data, distorsi informasi, dan mempropagandakan kebencian. Karena itu, untuk menjaga sensitivitas keberagamaan dalam aneka mazhab dan pemikiran diperlukan suatu upaya keras yang mengedepankan dialog dan saling memahami antara berbagai mazhab yang berbeda sebagai usaha mulia untuk menjaga kerukunan beragama di Indonesia. Untuk itu penting bagi setiap orang untuk mengenal mazhab dari sumbernya langsung, dari para penganutnya dan ulama-ulamanya yang muktabar.

APA ITU SYIAH?

 Menurut kamus, kata syiah berarti pengikut, partisan, sekelompok orang yang memperlihatkan kesamaan sikap atas suatu masalah atau suatu keyakinan yang mereka dukung dan bela. al-Fairuzabadi di dalam al-Qamus menyebutkan kata sya’a dalam ‘syia’atur rajul’ berarti para pengikut dan pembela seseorang, yang dalam konteks tertentu berarti kelompok.[1] Akan tetapi, istilah itu kemudian sinonim dengan pengikut atau pendukung Imam Ali ibn Abi Thalib as. Ayatullah Sayyid Muhammad al-Musawi menyatakan bahwa kata syiah berarti pengikut dan pembela serta setiap orang yang setia kepada Ali dan Ahlul Baitnya sehingga menjadi julukan khusus bagi mereka.[2] Jadi, kata syiah dalam istilah teologi digunakan sebagai nama untuk menyebut kelompok Islam yang menjadi pengikut setia Imam Ali bin Abi Thalib as dan keturunanya atau disebut juga pengikut ahlul bait (keluarga) Nabi saaw.

Begitu pula di dalam hadits-hadits Nabi Muhammad saaw. Istilah syiah telah digunakan untuk menegaskan pengikut Imam Ali bin Abi Thalib, diantaranya adalah, “Syiah Ali adalah orang-orang yang beroleh kemenangan. Hadis lainnya dengan sanad dari Ibnu Abbas bahwa ketika turun ayat yang mulia ‘Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk’ (Q.S. al-Bayyinah/98: 7), Rasulullah Saw bersabda, “Wahai Ali, itu adalah engkau dan syiahmu. Engkau dan syiahmu akan datang pada hari kiamat dalam keadaan ridha dan diridhai”.[3] hadis ini dan hadis-hadis semisalnya diriwayatkan oleh para ulama Ahlu al-Sunnah dalam kitab-kitab mereka.[4]

Salah satu ulama terkemuka Ahl al-Sunnah, Jalaluddin al-Suyuti dalam tafsir al-Durr al-Mantsur meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah al-Anshari bahwa ia berkata; kami berada bersama Rasulullah Saaw, tiba-tiba Ali bin Abi Thalib datang. Maka Nabi Saw bersabda, “Demi yang diriku dalam kekuasaan-Nya, orang ini dan syiahnya adalah orang-orang yang beroleh kemenangan pada hari kiamat.” Kemudian turun ayat ‘sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk’ (Q.S. al-Bayyinah/98:7)”.[5] Zakariya Barkat Darwisy, telah mengumpulkan 40 riwayat tentang syiah dalam kitabnya yang berjudul “Syiah Ali bin Abi Thalib fi Ahadits Ahl al-Sunnah”.

Abu al-Hasan al-Asy’ari (pendiri Mazhab Asyariyah) menegaskan bahwa yang disebut sebagai syi’ah adalah mereka yang mengikuti (syaya’u) Ali bin Abi Thalib, dan mereka mengutamakannya dari sahabat Rasulullah yang lainnya.”[6]  Begitu pula menurut ahli kalam Al-Syahrastani dalam ensiklopedisnya al-Milal wa al-Nihal dan Ibnu Hazm dalam al-Fashl fi al-Milal wa al-Nihal, bahwa orang-orang yang melebihkan Ali bin Abi Thalib dari sahabat lainnya serta mengikuti Ali secara khusus itulah yang dikenal sebagai syiah. Kelompok syiah ini meyakini bahwa imamah dan Khilafah Ali bn Abi Thalib dan keturunannya telah ditetapkan berdasarkan nash dan wasiat Nabi saaw.[7] Dengan demikian, keyakinan mendasar seluruh kaum syiah adalah bahwa yang berhak penuh melanjutkan kedudukan Nabi Muhammad saaw sebagai pemimpin seluruh umat Islam adalah sepupu sekaligus menantunya yaitu Ali bin Abi Thalib as.

KAPAN MUNCULNYA SYIAH?

Kemunculan syiah, dalam studi para ahli ataupun sejarawan, telah di mulai benihnya sejak masa kehidupan Rasulullah saaw, dan kemudian menemukan momentumnya sesaat setelah Nabi Muhammad Saaw berpulang ke rahmatullah, tepatnya ketika terjadi perebutan kekuasaan di balai pertemuan Saqifah Bani Sa’idah. Kemudian—meskipun dengan tekanan yang keras—syiah berkembang terus hingga masa-masa selanjutnya terutama pada masa kepemimpinan Imam Ali bin Abi Thalib hingga sekarang.[8] Para pemikir syiah, ittifaq pada pendapat ini sesuai dengan fakta sejarah dan hadits-hadits yang disebutkan di atas.

Muhammad Baqir Sadr, ulama besar syiah, menegaskan bahwa golongan syiah telah hadir di tengah-tengah masyarakat Islam sejak masa hidup Rasulullah saaw yang beranggotakan orang-orang Muslim yang secara praktis telah mematuhi dengan mutlak konsep ketetapan Ali bin Abi Thalib as sebagai pemimpin setelah Rasul. Kelompok ini muncul kepermukan dengan sikap protes dan menolak keputusan sidang di Saqifah Bani Saidah yang membekukan kepemimpinan Imam Ali dan memberikannya pada orang lain.[9]

Memang, persoalan krusial antara syiah dan aliran lainnya adalah debat soal kepemimpinan pasca wafatnya Nabi Muhammad saaw pada 632 M. Posisi kenabian Muhammad saaw tidak dapat digantikan, sebab beliau adalah “Penutup Para Nabi” (khatam al-nabiyin), Nabi terakhir yang diutus oleh Allah Swt, yang membawa risalah sempurna yang berlaku secara universal bagi semua umat manusia.

Hanya saja, Muhammad saaw bukan saja Nabi, namun juga negarawan, dia menjadi pemimpin di Madinah dan seluruh Muslim di muka bumi. Ketika wafat, sebagian sahabat berpendapat bahwa Nabi tidak menunjuk penggantinya, dan umat bebas menunjuk penggantinya. Namun sebagian sahabat tidak setuju. Mereka mengatakan bahwa penggantinya sudah ditetapkan yakni Ahlu al-Bait (keluarga Nabi), yaitu Ali, sepupu Nabi saaw dan suami Fatimah as. Dari sahabat yang mendukung Ali terdapat nama-nama Ammar bin Yasir, Miqdad, Abu Zar  al-Giffari, Salman al-Farisi, Jabir bin Abdullah, dan Abdullah bin Zubair, serta lainnya. Para sahabat yang mendukung Ali inilah yang dipandang sebagai pelopor gerakan syiah, sehingga disebut syiah Ali.[10]

Sebagaimana diketahui secara luas, Ali bin Abi Thalib, seperti halnya Nabi, berasal dari suku Arab Quraisy dan termasuk anggota Bani Hasyim. Ali terkait dengan Islam sejak awal mulanya, dalam sejarah, dia dianggap sebagai remaja Islam yang pertama, kalau tidak dapat dikatakan sebagai muallaf pertama. Seorang pria yang sigap bertindak dengan keberanian yang luar biasa, selalu siap untuk bertarung dalam duel sebelum perang yang sesungguhnya dimulai, namun pada saat yang sama, dia adalah orang beriman yang rendah hati dan selalu mengedepankan akal sehat. Tak diragukan lagi, Ali benar-benar mendekati gambaran ideal manusia sempurna (alinsan alkamil).[11]

Namun, pada faktanya, pelanjut efektif Nabi Muhammad saaw pada 632 M dengan gelar khalifah[12] (pengganti atau wakil) adalah Abu Bakar, kemudian disusul dua khalifah lainnya, Umar bin Khattab dan Utsman bin Affan. Akhirnya, Ali menjadi khalifah keempat pada 656 M dan memerintah hingga terbunuh pada 21 ramadhan 661 M.

MENGAPA MENGIKUTI AHLUL BAIT?

Ada tiga alasan penting yang menjadikan muncul dan berkembangnya syiah dan menjadikan ahlul bait sebagai rujukan utama yang wajib diikuti. Pertama, karena Allah swt di dalam al-Quran al-Karim memerintahkan umat Islam untuk mengikuti ahlul bait. Kedua, karena Nabi saaw dengan sunnah atau hadits-haditsnya memerintahkan umat Islam untuk mengikuti ahlul bait sepeninggalnya. Ketiga, Karena akal menyatakan bahwa kita harus mengikuti manusia terbaik dalam setiap zaman, dan sejarah membuktikan bahwa ahlul bait adalah manusia-manusia terbaik pada setiap zaman. Ketiga hal ini akan dideskripsikan secara sederhana di bawah ini.

Syiah meyakini bahwa kepemimpinan (imamah, wilayah, khilafah dan sebagainya) merupakan kedudukan khusus ahlul bait yang terpilih, yakni Imam Ali bin Abi Thalib as dan keturunannya. Hal ini karena, mereka telah diangkat oleh Allah dan Rasul-Nya menjadi imam dan rujukan seluruh umat Islam. Adapun jaminan kebenaran mengikuti mereka disebabkan mereka adalah pribadi-pribadi yang memiliki ilmu yang sempurna dan keterjagaan dari kesalahan (maksum). Singkatnya, kepemimpinan ilahiah dalam Islam tidaklah berakhir setelah Rasulullah saw  wafat. Akan tetapi, garis imamah harus dilanjutkan, karena kebutuhan akan kepemimpinan tidak pernah berakhir. Para pemimpin (imam, khalifah, atau wali) yang terpilih harus memenuhi tiga syarat penting :

  1. Merupakan pilihan dan diangkat oleh Allah swt, bukan diangkat oleh masyarakat umum
  2. Memiliki keilmuan yang mencakup keseluruhan ilmu yang diperoleh secara ladunni dari sisi Allah swt.
  3. Maksum dari segala kesalahan dan kekeliruan serta dosa.[13]

Dengan bersandar pada nas yang shahih, syiah menegaskan bahwa orang yang memenuhi ketiga kriteria di atas adalah ahlul bait nabi yang di dalam al-Quran (Q.S. al-Ahzab: 33) diantaranya adalah Imam Ali bin Abi Thalib dan kedua anaknya, Imam Hasan dan Imam Husain.

Banyak ayat al-Quran dan hadits Rasul saaw yang menginformasikan dan memerintahkan tentang imamah dan keharusan umat untuk mengikuti kepemimpinan ahlul bait. Pada kesempatan ini, penulis akan membahas dua alasan penting. Pertama, karena ahlul bait adalah maksum dan memiliki ilmu yang sempurna. Kedua, karena ahlul bait adalah pemimpin umat yang harus diikuti sesuai dengan perintah Allah dan Rasul-Nya.

Syiah meyakini bahwa Allah swt melalui lisan Nabi-Nya telah mengangkat orang-orang yang memiliki kualitas tinggi untuk menjadi pemimpin umat setelah wafatnya Nabi Muhammad saaw, yang secara formal berhak penuh melanjutkan kedudukan menggantikan Nabi Muhammad saaw sebagai imam seluruh umat, yang orang tersebut adalah Imam Ali bin Abi Thalib as dan keturunannya.

Di antara dalil yang cukup jelas adalah firman Allah swt kepada Nabi Ibrahim as, bahwa imam akan diangkat dari keturunannya, “Dan (ingatlah) ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman, ’sesungguhnya Aku menjadikan engkau imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku.’ Allah berfirman: “Janjiku (ini) tidak berlaku untuk orang yang zalim. (Q.S. al-Baqarah: 124).

Frase terakhir dari ayat di atas menegaskan bahwa ketetapan Allah tentang imamah ini tidak akan mengenai orang-orang yang zalim dari keturunan Nabi Ibrahim as. Allamah Thabathabai menjelaskan bahwa, kelompok manusia dibagi pada empat posisi, yaitu :1). Manusia yang zalim sepanjang umurnya; 2). Manusia yang tidak zalim sepanjang umurnya; 3). Manusia yang zalim di awal umurnya, dan tidak diakhir umurnya. 4). Manusia yang tidak zalim di awal umurnya, tetapi zalim diakhirnya.[14] Merujuk pada pembagian ini, maka kelompok kedualah yang berhak mendapat dan diangkat menjadi imam, karena tidak pernah berbuat zalim alias maksum. Imam Ali bin Abi Thalib adalah orang yang tidak pernah zalim sepanjang umurnya, karena ia telah masuk Islam sejak awal usianya dan diasuh di dalam rumah Nabi saaw.

Sedangkan ayat yang secara jelas menyebutkan kesucian ahlul bait adalah ayat tathir yaitu penggalan Q.S. al-Ahzab : 33 berikut ini, “Sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Q.S. Al-Ahzab : 33)

Ayat ini dengan tegas menunjukkan sekaligus membatasi (hashr) bahwa Allah swt, dengan iradah takwiniyah-Nya (kehendak penciptaan), berkehendak mensucikan diri ahlul bait dan menghilangkan segala dosa dan kotoran (rijs) lahiriah maupun batiniah serta mensucikan mereka sesuci-sucinya sejak awal hidup mereka. Inilah mengapa ahlul bait disebut maksum (ishmah).

Ahlul bait dalam ayat ini adalah ashabul kisa’ yaitu orang-orang yang berada dalam selendang Nabi saaw saat turunnya ayat ini. al-Hakim an-Naisyaburi meriwayatkan : “..Dari Atha’ bin Yasar dari Ummu Salamah, ia berkata, ‘Di rumahku ayat ini diturunkan, ‘sesungguhnya Allah berkehendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan mensucikan kamu sesuci-sucinya’. Ia berkata, ‘Lalu Rasulullah saaw mengutus utusan untuk memanggil Ali, Fatimah, Hasan, dan Husain. Kemudian (setelah mereka datang), beliau berkata, ‘Mereka adalah ahlul baitku’.

Hadits di atas menunjukkan bahwa yang dimaksud ahlul bait adalah ashabul kisa’. Mereka adalah Rasulullah saaw, Imam Ali, fatimah, Hasan dan Husain as. Sayid Alwi bin Thahir al-Haddad al-Alawi al-Husaini dalam kitabnya al-Qaul al-Fashl menyebutkan 80 jalur riwayat hadits kisa’ ini. Sedangkan Allamah Thabathabai menyebutkan 40 jalur dari ahlus sunnah dan 30 jalur dari syiah. Diantara para sahabat yang meriwayatkannya adalah Ummu Salamah, Abu Said al-Khudri, Ibnu Abbas, Anas bin Malik, Saad bin Abi Waqqash, Aisyah, Bara bin Azib al-Anshari, Jabir bin Andillah al-Anshari, Ali bin Abi Thalib, Hasan bin Ali, Husain bin Ali, dan Fatimah az-Zahra.[15]

Selain itu, kepemimpinan ahlul bait juga disebutkan pada ayat wilayah : “Sesungguhnya wali kamu hanyalah Allah, rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan salat dan memberikan sedekah dalam keadaan rukuk. Dan barangsiapa mengambil Allah, rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi walinya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah Itulah yang pasti menang.” (Q.S. al-Maidah: 55)

Ayat ini menetapkan tiga “kewalian” yaitu Allah, Nabi Muhammad Saw, dan “orang yang beriman”. Frasa terakhir (yaitu orang yang beriman), disebutkan oleh para ahli hadits dan tafsir merujuk kepada Imam Ali bin Abi Thalib as.[16] Jadi, ayat ini mengindikasikan kewalian Imam Ali bin Abi Thalib, dan para imam lainnya yang wilayah mereka ditetapkan melalui penunjukan mereka oleh Nabi saaw.[17]

Pandangan ini diperkuat dengan penunjukan langsung Rasulullah saaw yang menjadikan Imam Ali sebagai pemimpin (maula, waliy) seluruh kaum muslimin sesaat setelah menyelesaikan haji wada’. Peristiwa bersejarah ini dikenal dengan “hadits ghadir khum” yang mencapai derajat mutawatir.

Sunni dan syiah mengakui bahwa pada 18 Zulhijjah 10 H, setelah haji wada’, Nabi saaw berhenti di Ghadir Khum. Beliau memerintahkan orang yang mendahuluinya untuk kembali dan menanti orang-orang yang tertinggal di belakang. Jumlah mereka diperkirakan mencapai 70.000 orang atau lebih, dan ada yang berpendapat 120.000 orang.[18] Saat itu, Rasulullah berbicara dengan khutbah yang sangat istimewa mengenai persaudaraan, keimanan, keutamaan Islam, dan sebagainya disampaikan nabi saaw dengan fasihnya. Hingga kemudian beliau menyampaikan keutamaan Imam Ali bin Abi Thalib, mendoakannya dan mendoakan orang-orang yang mendukung dan menjadikannya sebagai wali, serta mendeklarasikan kepemimpinan Imam Ali, dengan memproklamirkan, Barang siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali sebagai pemimpinnya juga (man kuntu maula hu fa hadza Ali maula hu).[19]

Hadits Ghadir Khum ini mencapai derajat mutawatir baik dari jalur sunni maupun syiah, sehingga mustahil untuk diragukan. Ridha al-Hakimi dalam buku Hamaseh Ghadir menyatakan “Apabila (kriteria keshahihan) hadits al-Ghadir ini tidak kita terima kebenarannya, niscaya tidak ada satupun hadits lain yang dapat kita terima”.[20] Husain Ali Mahfuz, dalam risetnya tentang Ghadir Khum, mencatat bahwa hadits al-ghadir ini telah dirawikan paling sedikit 110 sahabat, 84 thabiin, 355 ulama, 25 sejarawan, 27 ahli hadits, 11 mufasir, 18 teolog, dan 5 filolog.[21] Bahkan Al-Amini dengan tekun menelusuri sumber-sumber rujukan hadits tersebut hingga menulis 11 jilid kitab al-Ghadir.

Al-Amini menyebutkan 110 sahabat yang meriwayatkan hadits tersebut beserta kitab-kitab yang memuatnya diantaranya : Abu Bakar, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abu Hurairah, Abu Laila al-Ansari, Al-Barra’ bin ‘Azib, Jabir bin Abdullah al-Ansari, Abu Zhar al-Ghifari, Huzaifah al-Yamani, Zubair bin al-Awwam, Zaid  bin Arqam, Saad bin Abi Waqqas, Salman al-Farisi, Samurah bin Jundab al-Fazari, Talhah bin Ubaidillah, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Mas’ud, Ammar bin Yasir, dan lainnya.[22] Begitu pula, perawi dari kalangan thabiin mencapai 84 orang[23], dilanjutkan dengan 360 perawi-perawi di  kalangan para ulama sunnah sejak abad ke-2 s.d abad ke-14 yang  meriwayatkan  hadis tersebut. Bahkan terdapat 26 pengarang dari  kalangan para ulama ahl al-sunnah yang mengarang  buku secara khusus tentang hadis al-Ghadir.[24]

Selanjutnya, keyakinan syiah tentang jumlah 12 imam atau khalifah juga didukung teks-teks hadits shahih yang banyak diriwayatkan para ahli hadits seperti dalam Sahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan at-Turmuzi, Sunan Abu Daud, Musnad Ibn Hanbal, serta kitab-kitab standar lainnya yang jika ditelusuri akan mencapai ratusan riwayat, diantaranya Al-Qanduzi al-Hanafi telah meriwayatkan di dalam kitabnya Yanabi’ al-Mawaddah, Yahya bin Hasan telah menyebutkan di dalam Kitab al-‘Umdah melalui 20 jalur, dalam Sahih Bukhari melalui 3 jalur, di dalam Sahih Muslim melalui 9 jalur, di dalam Sunan Abu Dawud melalui 3 jalur, di dalam Sunan Turmudzi melalui 1 jalur, dan di dalam al-Hamidi melalui 3 jalur.

Ayatullah Ibrahim Amini meneliti hadits-hadits tentang 12 imam atau khalifah dan mengelompokkanya menjadi lima kelompok,[25] yaitu :

  1. Hadits-hadits tentang para khalifah/umara setelah nabi berjumlah 12 orang. Misalnya, Bukhari meriwayatkan dari Jabir, “Rasulullah saw telah bersabda, ‘Akan muncul sepeninggalku dua belas orang amir’, kemudian Rasulullah saw mengatakan sesuatu yang saya tidak mendengarnya. Lalu saya menanyakannya kepada ayah saya, ‘Apa yang telah dikatakannya?’ Ayahku men-jawab, ‘Semuanya dari bangsa Quraisy.‘” Di dalam Sahih Muslim berasal dari ‘Amir bin Sa’ad yang berkata, “Saya menulis surat kepada Ibnu Samrah, ‘Beritahukan kepada saya sesuatu yang telah Anda dengar dari Rasulullah saw.’ Lalu Ibnu Samrah menulis kepada saya, ‘Saya mendengar Rasulullah saw bersabda pada hari Jumat sore pada saat dirajamnya al-Aslami, ‘Agama ini akan tetap tegak berdiri hingga datangnya hari kiamat dan munculnya dua belas orang khalifah yang kesemuanya berasal dari bangsa Quraisy.”
  2. Hadits-hadits yang menyebutkan bahwa imam berjumlah 12 orang dan terakhirnya bernama al-Qaim atau Mahdi. Misalnya, “Rasulullah saaw bersabda, ‘Aku adalah pemimpin para Nabi, Ali adalah pemimpin para washi dan para washiku sepeninggalku ada 12, yang pertama Ali dan yang terakhir al-Qaim al-Mahdi.[26]
  3. Hadits-hadits yang menyebutkan jumlah 12 orang dengan disertai nama-nama setiap imam. Misalnya, “Diriwayatkan dari Jabir bin Yajid al-Ju’fy, ia berkata, ‘Jabir bin Abdillah Anshari berkata, ‘Ketika Allah swt menurunkan ayat ‘Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya dan Ulil Amri di antara kamu’ (Q.S. an-Nisa : 59). Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah! Kami telah kenal Allah dan Rasul-Nya, akan tetapi siapa ulil amri yang ketaatan kepadanya dihubungkan dengan ketaatan kepada Anda? Maka Rasulullah menjawab, ‘Hai Jabir! Mereka adalah para khalifah dan pemimpin umat Islam setelahku. Yang pertama Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan dan Husain, kemudian Ali bin Husain, kemudian Muhammad bin Ali… Kemudian As-Shadiq Ja’far bin Muhammad, kemudian Musa bin Ja’far, kemudian Ali bin Musa, kemudian Muhammad bin Ali, Kemudian Ali bin Muhammad, kemudian Hasan bin Ali, kemudian orang yang nama dan kunyahnya sama denganku, ia adalah al-Hujjah Allah di bumi-Nya, peninggalan-Nya di kalangan hamba-hamba-Nya, ia adalah putera Hasan bin Ali, Allah akan menaklukkan Timur dan Barat melalui tangannya…”[27]
  4. Hadits yang menyatakan bahwa para imam ada 12 orang dan semuanya suci. Misalnya, “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, ia berkata, ‘Aku mendengar Rasulullah saaw bersabda, ‘Aku, Ali, Hasan, dan Husain serta sembilan dari keturunan Husain adalah pribadi-pribadi yang disucikan dan dipelihara.”[28]
  5. Hadits-hadits yang menunjukkan bahwa ahlul bait akan tetap ada hingga hari kiamat. Misalnya hadits al-Tsaqalain : Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.’ Kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, ‘Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.[29]

 

Syiah meyakini bahwa tafsiran yang paling tepat mengenai dua belas khalifah yang ditentukan Nabi Muhammad saaw itu adalah para Imam maksum as yang dimulai dari Imam Ali bin Abi Thalib as hingga Imam Muhammad al-Mahdi afs. Secara berurutan, ImamImam Syiah yang dua belas orang adalah, Ali bin Abi Thalib (23 SH-40 H/579-661 M), Hasan bin Ali (3-50 H/624-670 M), Husein bin Ali (4-61 H/625-680 M), Ali Zain al-Abidin (38-95 H/658-713 M), Muhammad al-Baqir (57-114 H/676-732 M), Ja‘far as-Sadiq (83-148 H/702-765 M), Musa al-Kazim (128-183 H/745-799 M), Ali al-Rida (148-203 H/765-818 M), Muhammad al-Jawwad (195-220 H/811-835 M), Ali al-Hadi (212-254 H/828-868 M), Hasan al-Askari (232-260 H/846-873 M), dan Muhammad al-Mahdi al-Muntazar (lahir 255 H/869 M).[30]

Poin-poin di atas menegaskan kepada kita bahwa ahlul bait telah mencapai suatu tingkatan yang tinggi yang membuat mereka memiliki kesucian menyeluruh yang lebih dikenal dengan istilah kemaksuman (ishmah). Karena itulah maka ahlul bait (imam-imam syiah), merupakan sumber ajaran Islam yang valid. Inilah mengapa, mereka harus diikuti dan menjadi acuan dalam beragama.

Jadi, ahlul bait layak untuk  dijadikan rujukan dalam keagamaan sesuai dengan keinginan Allah swt dan Rasulullah saaw. Bahkan dalam salah satu hadits yang mutawatir, yang dikenal dengan hadits al-tsaqalain, Rasulullah saaw bersabda, “..wahai manusia, sesungguhnya aku ini manusia yang hampir didatangi oleh utusan Tuhanku, maka aku pun menghadap-Nya. Sesungguhnya aku tinggalkan padamu dua perkara yang amat berharga, yang pertama adalah Kitab Allah, yang merupakan tali Allah. Barangsiapa yang mengikutinya maka dia berada di atas petunjuk, dan barangsiapa yang meninggalkannya maka dia berada di atas kesesatan.’ Kemudian Rasulullah saw melanjutkan sabdanya, ‘Adapun yang kedua adalah Ahlul Baitku. Demi Allah, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku, aku peringatkan kamu akan Ahlul Baitku.” [31]

Hadits tsaqalain ini mewasiatkan kepada umat untuk menjaga dua hal yang ditinggalkannya yaitu ‘kitab Allah (al-Quran) dan itrah/ahlul bait (keluarga nabi)’. Nabi mengingatkan jika kita berpegang teguh pada keduanya maka, kita tidak akan sesat selama-lamanya.[32]

Sayid Mujtaba Musawi Lari menyimpulkan tiga poin penting dari hadits tsaqalain ini yaitu :

  1. Perbuatan dan tindakan para imam maksum merupakan teladan yang harus di contoh oleh semua umat Islam. Pesan Nabi saaw ini menegaskan bahwa hanya dengan mengikuti al-Quran dan ahlul bait umat akan selamat di dunia dan di akhirat. Ini berarti ahlul bait sudah pasti berada pada kebenaran, karena jika tidak, maka mustahil mereka menjadi pegangan yang dapat mencegah umat dari kesesatan.
  2. Nabi saaw menyatakan bahwa al-quran dan itrah-nya tidak akan pernah berpisah hingga hari kiamat. Dengan semikian, selama keabadian al-Quran tetap dijamin, maka keharusan adanya imam juga terjamin hingga hari kiamat.
  3. Hadits at-tsaqalain ini juga menegaskan bahwa Itrah Nabi saaw merupakan sumber pengetahuan dan rujukan keagamaan bagi kaum muslimin kapanpun dan di manapun.[33]

 

Saya ingin menambahkan beberapa poin lagi :

  1. Hadits ini menunjukkan tanggung jawab dan kesadaran Nabi saaw sebagai pembimbing umat, sehingga perlu untuk mewasiatkan tempat rujukan (yakni al-Quran dan ahlul bait) kepada umat agar tidak mengalami kesesatan dan kebingungan sepeninggalnya. Karena, meskipun hadits ini disampaikan Nabi kepada para sahabatnya. Namun gaya bahasa yang digunakan, pesan tersebut untuk seluruh umat pada setiap zaman, ‘Sesungguhnya aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang sangat berharga’.
  2. Dengan menyebut al-tsaqalain, berarti Nabi saaw ingin menegaskan bahwa keduanya sangatlah berharga dan agung yang mencukupi kebutuhan umat sepanjang masa serta menjamin keselamatan di dunia dan akhirat. Kedua tsaqal ini memiliki sifat yang melengkapi yakni Alquran sebagai sosok yang diam, dilengkpi oleh Ahlul Bait sebagai sosok yang berbicara.
  3. Hadits ini menggambarkan perbuatan timbal balik. Artinya, keduanya (kitabullah dan ahlul bait) merupakan pembimbing umat, dan umat harus rela menerima dan menjaga bimbingan tersebut. Ini juga berarti, kedudukan ahul bait, sama persis dengan kedudukan Nabi saaw di tengah umat, dimana ia harus diikuti dan dipatuhi oleh umat Islam. Sebab Ahlul bait berfungsi menggantikan posisi Rasul saaw sebagai juru bicara Alquran.
  4. Hadits ini juga menunjukkan bahwa ahlul bait menjadi pendamping al-Quran dalam melakukan berbagai fungsinya, baik sebagai penjelas (al-bayan), petunjuk (huda), dan pemisah antara yang hak dan batil (al-furqan). Ini berarti ahlul bait tidak pernah bertentangan dengan al-Quran, apa yang diajarkan oleh ahlul bait pasti selaras dengan ajaran al-Quran.

 

Di tinjau dari ilmu hadits, maka hadits al-tsaqalain ini mencapai derajat mutawatir karena diriwayatkan dari banyak jalur periwayatan dalam setiap abadnya, baik dari jalur ahlussunnah dan juga syiah. Dari kalangan sahabat hadits diriwayatkan sedikitnya 35 orang, diantaranya adalah : Zaid bin Arqam, Abu sa’id al-Khudri, Jabir bin Abdullah, Hudzaifah bin Usaid, Khuzaimah bin Tsabit, Zaid bin Tsabit, Ummu Salamah, ‘Amir bin Abi Laila (al-Ghifari), Abdurrahman bin ‘Auf, Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Umar, Ali bin Abi Thalib, Abu Dzar al-Ghifari, Abu Rafi’, Abu Hurairah, Abu Hatsim bin Taihan, dan lainnya. Adapun setelahnya, sejak abad ke-2 s.d abad ke-14 dari jalur ahlus sunnah mencapai 323 orang sedangkan dari syiah sekitar 306 orang.

 

Tabel Jumlah Perawi Hadits al-Tsaqalain[34]  

 

JALUR

AHLUS SUNNAH

JALUR SYIAH

Abad Ke Jumlah Perawi Abad Ke Jumlah Perawi

2

36 orang

1

31 orang

3

69 orang

2

82 orang

4

38 orang

3

75 orang

5

21 orang

4

67 orang

6-14

159 orang

5

18 orang

   

6-15

33 orang

Jumlah

323 orang

Jumlah

306 orang

Dengan demikian, pandangan syiah yang menegaskan bahwa ahlul bait (Imam Ali bin Abi Thalib as dan keturunannya) merupakan pemimpin (wali, khalifah, washi, imam) dan rujukan pasca Nabi saaw disahkan dengan dalil-dalil yang kuat baik secara syari (al-Quran dan sunnah nabi) maupun penilaian akal yang akurat.

Secara kronologis, kepemimpinan umat pasca Nabi Muhammad saaw, menurut perspektif syiah, dimulai oleh Imam Ali bin Abi Thalib, kemudian anak beliau yakni Imam Hasan al-Mujtaba, Imam Husain, dan dilanjutkan sembilan keturunan dari Imam Husain yaitu Ali Zainal Abidin, Muhammad al-Baqir, Ja’far Shadiq, Musa Kazhim, Ali Ridha, Muhammad al-Jawad, Ali al-Hadi, Hasan al-Askari, dan Muhammad al-Mahdi afs. Hanya saja, Imam yang terakhir ini, meskipun telah lahir (tanggal 15 sya’ban 255 H), tetapi mengalami kegaiban hingga waktu yang tidak diketahui.[35] Dan selama Imam Mahdi afs gaib, maka kepemimpinan didelegasikan kepada ulama yang memenuhi syarat-syarat tertentu untuk secara formal memimpin, membimbing, dan menjelaskan syariat Islam kepada kaum muslimin, hingga hadirnya Imam kedua belas. Konsepsi inilah yang dikenal dengan istilah wilayah al-faqih.

BAGAIMANA PRINSIP AJARAN SYIAH?

Pokok-pokok ajaran Syi’ah pada dasarnya sama dengan ahlussunnah wal jamaah dan mazhab lainnya di dalam Islam. Seperti mazhab lainnya, Syiah meyakini prinsip-prinsip dasar (ushuluddin) dalam Islam yakni ketuhanan (Tauhid), kenabian (al-Nubuwah), dan hari akhir (al-Maad). Sebagai tambahannya yang khas syiah memasukkan keadilan (al-Adl) dan kapemimpinan (al-imamah) sebagai bagian dari prinsip-prinsip ajarannya. Beberapa pokok keyakinan syiah dapat diringkaskan di bawah ini :

 

  1. a.    Tauhid (Ketuhanan). Dalam tauhid syiah meyakini bahwa Allah tidak merupakan jism, substansi, atau tubuh, tidak berbentuk, tidak terikat dengan ruang dan waktu. Dia adalah esa dari segala sisinya baik dari sisi zat, sifat maupun perbuatannya (tauhid zat, tauhid sifat, dan af’al) serta tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Dia tidak beranak dan tidak diperanakan, Dia memiliki sifat-sifat yang sempurna, seperti Qudrah (Maha Kuasa), Iradah (Maha Berkehendak), Hayat (Maha Hidup), Alim (Maha Berilmu), Sami’ (Maha Mendengar), Bashir (Maha Melihat), serta sifat-sifat sempurna lainnya. Sifat-sifat-Nya tersebut diyakini oleh syiah bukanlah sesuatu yang lain yang ditambahkan kepada zat-Nya, melainkan identik dengan zat-Nya itu sendiri.

 

  1. b.    AnNubuwah (Kenabian). Dalam hal kenabian syiah memegang teguh keyakinan bahwa Allah swt telah mengirim utusan-Nya sebagai Nabi dan Rasul untuk menyampaikan dan menjelaskan syariat Allah swt. Para Nabi itu seluruhnya bersifat maksum (terpelihara dari dosa) dan memiliki berbagai mukjizat. Nabi pertama yang di utus oleh Allah swt adalah Nabi Adam as dan yang terakhir adalah Nabi Muhammad saaw. Syiah meyakini secara bulat, bahwa pintu kenabian telah tetutup setelah Nabi Muhammad saaw, dan beliau adalah khatam al-nabiyin (penutup para nabi) serta membawa agama Islam yang sempurna. Syiah meyakini bahwa Nabi saaw telah menerima berbagai wahyu dari Allah swt melalui malaikat-Nya, dan wahyu-wahyu tersebut dihimpun dalam sebuah kitab yang bernama al-Quran. al-Quran merupakan kitab paling sempurna yang diturunkan Allah yang terjaga dari segala jenis perubahan. Ini berarti syiah meyakini bahwa al-Quran yang ada di hadapan kita, sama persis dengan yang ada di hadapan Rasulullah saaw, tanpa ada pengurangan ataupun penambahan di dalamnya.

 

  1. c.    Al-Imamah (Kepemimpinan Setelah Nabi). Syiah meyakini bahwa pasca wafatnya Nabi Muhammad saaw kepemimpinan berlanjut dengan diangkatnya Imam Ali bin Abi Thalib as oleh nabi sebagai penggantinya. Bukan hanya Imam Ali bin Abi Thalib, syiah juga meyakini sebelas Imam keturunannya sebagai pemimpin yang telah digariskan Allah swt melalui rasul-Nya. Para imam tersebut mendapatkan kemuliaan dari Allah dan merupakan manusia-manusia terbaik sepanjang zaman yang harus ditaati sebagaimana kaum muslimin menaati Nabi Muhammad saaw.

 

  1. d.    Al-Adl (Keadilan). Syiah juga meyakini bahwa Allah Maha Adil, karenanya, Dia akan menghukum siapa yang berdosa dan mengganjar siapa yang berpahala. Dengan prinsip keadilan ini, syiah meyakini bahwa Allah tidak akan menzalimi makhluk-Nya, bahkan Allah senantiasa mencurahkan karunia-Nya kepada setiap makhluk sesuai dengan ketentuan alam yang berpijak di atas kebijaksanaan-Nya. Keadilan juga menjadi prinsip kebertanggungjawaban manusia di hadapan Allah swt. Artinya, melalui takdir, manusia diberikan kebebasan oleh Allah, sehingga harus bertanggung jawab atas segala tindakannya, dan akan mendapatkan pahala atau dosa atas tindakannya tersebut.

 

  1. e.    Al-Ma’ad (Hari Kebangkitan). Syiah meyakini bahwa setelah akhir dunia (kiamat), manusia akan dikumpulkan dan dibangkitkan oleh Allah di alam akhirat untuk bertanggungjawab atas segala tindakannya di dunia semasa hidupnya. Jika manusia memiliki amal ibadah yang baik maka Allah akan mengganjarnya dengan surga, dan sebaliknya, jika amalnya buruk, maka Allah akan menghukumnya dengan neraka. Syiah mengakui segala proses di alam akhirat seperti kematian, alam kubur atau alam barzakh, shirat, mizan, penerimaan buku catatan, dan lainnya, yang semuanya di bawah kekuasaan Allah.

 

  1. f.     Ibadah. Dalam ibadah, syiah meyakini kewajiban salat lima waktu, zakat, puasa ramadhan, dan naik haji ke Ka’bah, Baitullah di Mekah. Hanya saja dalam syiah ada kewajiban mengeluarkan khumus (seperlima bagian) bagi kelebihan harta kekayaan yang dimiliki oleh penganut syiah setelah dipotong seluruh keperluan biaya hidupnya. Kemudian, syiah juga mengajarkan jihad, amar ma’ruf nahi munkar, dan amalan-amalan lain berdasarkan pada al-Quran dan sunnah. Jika terjadi perbedaan dalam cabang-cabangnya (furuiyyah), hal itu adalah keniscayaan yang berlaku dalam tradisi Islam itu sendiri. Dalam bidang hadis, pada dasarnya pandangan syiah sama dengan sunni, yaitu diambil dari kata-kata Rasulullah yang diucapkan untuk pengembangan dan penjelas dalam masalah agama dalam Islam, bedanya, syiah menganggap bahwa ajaran yang diterima dari Imam maksum juga dianggap sunnah.[36] Dalam bidang fiqh merujuk pada Mazhab Ja’fari yang dibangsakan kepada Imam Ja’far al-Shadiq, Imam keenam Syiah.[37]

 

  1. g.    Politik. Syiah meyakini bahwa agama diturunkan untuk mengatur seluruh dimensi kehidupan, yang bersifat ritual, personal maupun sosial-kemasyarakatan. Karena itu, agama dan politik (al-din wa al-siyasah) adalah satu kesatuan yang utuh. Agar tujuan kehidupan manusia terealisasi secara baik, maka pemerintahan sebagai suatu sarana untuk mengatur kehidupan bermasyarakat umat manusia, tidak dapat dipungkiri sebagai bagian dari persoalan krusial keagamaan, bahkan merupakan bagian penting untuk terealisasinya pelaksanaan hukum Tuhan di bawah kendali manusia-manusia pilihan-Nya agar keadilan tercipta, kedamaian dan kebahagiaan dunia dan akhirat di dapat. Karena mengimplementasikan syariat merupakan kewajiban dan hal itu dapat terealisasikan melalui pendirian sebuah sistem politik, maka mendirikan pemerintahan Islam juga merupakan kewajiban (ma la yatim al-wajib illa bihi fahuwa wajib). Imam Khumaini berkata: “Menjaga dan membela pemerintahan merupakan kewajiban yang sangat ditekankan, sementara merusak urusan-urusan kaum muslimin merupakan perbuatan yang sangat dibenci. Kedua-dua kondisi ini hanya dapat terealisir dan terenyahkan dalam kehidupan kaum muslimin dengan adanya seorang wali (penguasa) dan pemerintahan… Menjaga dan membela wilayah teritorial kaum muslimin dari serbuan musuh adalah sebuah keharusan, baik secara akal maupun syariat. Kondisi ini mustahil dilakukan tanpa membentuk sebuah pemerintahan. Semua itu merupakan kebutuhan kaum muslimin.”[38] Tetapi, bagaimana bentuk negaranya? syiah tidak menyebutkannya secara baku dan kaku. Dalam setiap zaman dan setiap tempat bisa saja mengambil bentuk negara yang sesuai dengan situasi dan kondisinya selama keadilan dapat ditegakkan di tengah-tengah umat.

 

  1. h.    Konsep Hukum. Seperti halnya ahlussunnah, dalam syiah sumber hukum Islam adalah al-Quran, sunnah, ijma, dan akal (metode ijtihad). Dengan keempat sumber hukum itu, para ulama syiah merumuskan hukum Islam secara cermat, dan terus membuka pintu ijtihad bagi para faqih dalam setiap masa. Kemudian, dalam strata sosial-keagamaan masyarakat Islam syiah terbagi pada tiga golongan, yaitu: pertama, kelompok ulama yang disebut mujtahid (ahli hukum). Kedua, kelompok menengah yang disebut muhtath (pengkaji), dan ketiga, kelompok awam yang disebut muqallid (pengikut). Mujtahid adalah orang yang memiliki kemampuan berijtihad. Yaitu pribadi yang memiliki kemampuan untuk mengistinbath (mengeluarkan) hukum Islam dari sumbernya. Dalam konsep Syiah, ijtihad selalu terbuka, tetapi tidak semua orang dipandang mampu melakukannya. Orang yang tidak mampu inilah yang disebut para muqallid. Karena muqallid adalah orang yang tidak mampu berijtihad, maka harus menyerahkan urusannya kepada ulama mujtahid yang disebut marja’. Kepada marja’, mereka bukan saja menyerahkan keputusan-keputusan agama, melainkan juga mempercayakan pengurusan zakat dan khumus. Sistem ini melahirkan ulama yang secara alami terseleksi, bebas dari penguasa, dan berakar di masyarakat. Adapun muhtath adalah lapisan tengah yang memilki kemampuan untuk memilih dan memilah pandangan para mujtahid (marja’).

 

FATWA PARA ULAMA TENTANG SUNNI DAN SYIAH[39]

 

  1. A.    Pendapat Ulama Sunni Tentang Syiah

 

Berikut ini adalah beberapa fatwa para ulama dan mufti dari kelompok ahlussunnah tentang mazhab syiah, sebagai berikut :

  1. Rektor Universitas al-Azhar, Syeikh al-Akbar Mahmud Syaltut saat di tanya tentang syiah mengeluarkan fatwa sebagai berikut : “Mazhab Ja’fari, yang juga dikenal sebagai syiah imamiyah itsna asyariyah (syiah 12 imam) adalah mazhab yang secara agama benar untuk diikuti dalam ibadah sebagaimana mazhab sunni lainnya. Kaum Muslim mestinya mengetahui hal ini, dan seyogianya menghindarkan  diri dari prasangka buruk terhadap mazhab tertentu manapun, karena agama Allah dan syariatnya tidak pernah dibatasi pada mazhab tertentu. Para mujtahid mereka diterima oleh Allah Yang Maha Kuasa, dan dibolehkan bagi yang bukan mujtahid untuk mengikuti mereka dan menyepakati ajaran mereka baik dalam hal ibadah maupun muamalah.” (Fatwa dikeluarkan pada 06 Juli 1959)
  2. Fatwa resmi dari Mufti Agung Mesir, Prof. Dr. Nashr Washl mengenai mengikuti mazhab ahlul bait, sebagai berikut : “Bismillahirrahmanirrahim. Sudah maklum bahwa setiap musliim yang beriman kepada Allah swt, bersyahadat atas tauhid, mengakui misi Nabi Muhammad saw, tidak menyangkal perintah-perintah agama dan orang yang dengan sepenuhnya sadar akan rukun-rukun Islam dan salat dengan tata cara yang benar, maka niscaya juga tepat baginya sebagai imam salat jamaah bagi yang lain dan juga mengikuti imamah orang lain ketika melakukan salat sehari-hari meskipun ada perbedaan-perbedaan (paham) keagamaan di antara imam dan makmumnya. Prinsip ini pun berlaku bagi syiah ahlul bait as. Kita bersama mereka (syiah ahlul bait) menyangkut Allah, Rasulullah saw, ahlulbait as, juga para sahabat Nabi Muhammad saw. Tidak ada perbedaan di antara kita dan mereka menyangkut prinsip-prinsip dan dasar-dasar syariah Islam juga kewajiban-kewajiban agama. Katika Allah swt memberikan rahmat-Nya kepada kami sehingga bisa hadir di Republik Islam Iran di kota-kota seperti Teheran dan Qum. Ketika kami menjadi imam salat berjamaah, mereka bermakmum kepada kami, begitu juga ketika mereka menjadi imam, kami bermakmum kepada mereka. Karena itu, kami memohon kepada Allah swt untuk melahirkan persatuan di antara umat Islam, menghapus setiap permusuhan, kesulitan, perbedaan di antara mereka dan mengangkat kesulitan-kesulitan yang ada di antara mereka sekaitan dengan fikih dan kewajiban-kewajiban agama yang sekunder” (Fatwa dikeluarkan pada 1 Desember 2001)
  3. Fatwa Mufti Agung Suriah, Syeikh Ahmat Kaftaroo, saat ditanya tentang syiah, memberikan jawaban sebagai berikut : “…sudut pandang mazhab-mazhab ini dalam cabang-cabang fikih berbeda. Meskipun demikian, mazhab-mazhab fikih ini berjalan di atas prinsip-prinsip Islam dan begitu juga di dalam prinsip-prinsip yang dapat diperdebatkan, perbedaan-perbedaan yang ada di antara para fukaha menyangkut cabang-cabang dari mazhab Islam adalah untuk memudahkan orang-orang dan menghilangkan berbagai kesulitan mereka…Karena itu, mazhab Zaidiyah digolongkan sebagai salah satu mazhab Islam termulia…dan syiah imamiyah adalah mazhab Islam yang paling dekat dengan mazhab Imam Syafii. Perbedaan fikihnya dengan fikih ahlussunnah hanya terkait pada tujuh belas permasalahan.
  4. Ktua MUI Pusat, Prof. Dr. Umar Shihab saat ditanya tentang sikap MUI terhadap syiah, beliau menjawab : “… Kita berdiri disemua pendapat bahwa semua mazhab itu benar. Begitu juga terhadap mazhab lain, mazhab syiah misalnya, MUI berprinsip, bahwa kalau dunia Islam sudah mengakui syiah sebagai mazhab yang benar, lalu kenapa MUI harus menolak?” Selanjutnya Prof. Umar Shihab melanjutkan : “sekali lagi, kita (MUI) tidak pernah menyatakan syiah itu sesat. Kita menganggap syiah itu salah satu mazhab dalam Islam yang dianggap benar. Mengapa saya katakan demikian? Karena dunia Islam sendiri mengakui keabsahan mazhab syiah…MUI menganggap syiah adalah mazhab yang benar sebagaimana diakui oleh Rabithah ‘Alam Islami (persatuan ulama Islam sedunia) dan itu diakui oleh al-Azhar. Bukti konkritnya, jamaah haji syiah boleh masuk ke Masjidil Haram. (Lihat Majalah Syiar edisi Dzulhijjah 1428 H/Des 2007 M)

 

  1. B.    Fatwa Ulama Syiah Tentang Sunni.

 

Berikut ini adalah fatwa para ulama syiah saat ditanya tentang mazhab ahlussunnah wal jamaah dan kebolehan salat bersama  mereka, sebagai berikut :

  1. Marja’i taklid syiah Ayatullah al-Udzma Sayid Ali Sistani menegaskan bahwa siapapun yang mengucapkan dua kalimat syahadat atas nama Allah Yang Maha Kuasa, tidak melakukan suatu perbuatan yang berlawanan dengannya dan siapapun yang bukan musuh ahlul bait adalah seorang Muslim.
  2. Imam Khumaini, Syeikh Ali Araki, Sayid Ali Khamenei, Fadhil Lankarani, Yusuf Shanai, dan Syeikh Makarim Syirazi mengatakan bahwa salat bersama ahlusunnah (sunni) adalah cukup (sah).
  3. Ayatullah Bahjat berfatwa bahwa adalah tepat mengambil bagian dalam salat berjamaah bersama kelompok ahlussunnah.
  4. Ayatullah Golpaygani menfatwakan bahwa mendirikan salat dengan kaum sunni ketika itu diperlukan adalah tepat. Sebaliknya, adalah baik untuk ikut serta dalam salat berjamaah mereka, tetapi salat harus dilakukan dengan tata cara syiah sepenuhnya dengan penuh ketaatan.

 

PENUTUP

 

Syiah merupakan salah satu mazhab Islam yang telah tumbuh dan berkembang sejak awal dakwah Rasulullah saaw hingga saat ini. Syiah memiliki khazanah intelektual Islam yang besar dan sangat bermanfaat bagi kemajuan Islam. Sebab itu, jika Islam mampu memanfaatkan segala potensinya tanpa terlalu mempertimbangkan sensitivitas kemazhaban, maka kita akan melihat wajah Islam di masa mendatang yang lebih maju, jaya, dan tercerahkan. Semoga!. Wallhu a’lamu bi al-shawab.(candiki repantu)

 


[1] Di dalam al-Quran, kata syiah disebut sebanyak empat kali dalam arti golongan atau kelompok. “Kemudian pasti akan Kami tarik dari tiap-tiap golongan (syiiatin) siapa diantara mereka yang sangat durhaka kepada Tuhan yang Maha Pemurah” (Q.S. Maryam: 69). “Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka didapatinya dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golonganya (syiatihi) (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum firaun). Maka orang yang dari golongannya (syiatihi) meminta pertolongan kepadanya untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu.” (Q.S. al-Qasas: 15). “Dan sesungguhnya Ibrahim benar-benar termasuk golongannya (syiatihi) Nuh. (Q.S. as-Saffat: 83).

[2] Sayyid Muhammad al-Musawi. Mazhab Syi’ah. (Bandung: Muthahari Press, 2005), h. 53. Seyyed Hossein Nasr. et. al. Ensiklopedi Tematis Filsafat Islam. (Bandung: Mizan, 2003), h. 146.

[3]  Zakaria Barakat Darwisy. Syiah Ali bin Abi Thalib fi Ahadits Ahl al-Sunnah (Kul al-Huquq Mahfuzhah, 2006), h. 10.

[4] Lihat Zakariya Barakat Darwisy. Syiah Ali, h.9-39.

[5]  Sayid Muhammad al-Musawi. Mazhab, h. 56-57.

[6]  Abul Hasan al-Asy’ari, Maqalat Islamiyyin, jilid 1, hal. 65.

[7]  Al-Syahrastani, al-Milal wa al- Nihal, hal. 118; Ibn Hazm, Al-Fashl Fi al-Milal wa al-Nihal jilid 2, hal 113.

[8] Sebagian sejarawan yang lain berpendapat bahwa syiah lahir pada masa kekhalifahan Usman bin Affan berakhir (35 H/656 M), atau pada awal kepemimpinan Ali bin Abi Thalib. Pendapat lain lagi menyatakan bahwa syiah lahir bersamaan dengan Khawarij, yakni setelah kekalahan diplomatik Ali dari Mu‘awiyah. Selain itu ada juga yang berpendapat, bahwa syiah muncul setelah peristiwa Karbala yang mengakibatkan syahidnya cucu kesayangan Rasul, Imam Husain as. Lihat Taufik Abdullah. et. al. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam jilid III. (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hoeve, 2002), h. 344 dan lihat Muhammad Abu Zahrah. Tarikh al-Mazahib al-Fiqhiyah. (Kairo; Ma’had al-Dirasah al-Islamiyah, tt), h. 53. Lihat Philip K. Hitti. History of the Arabs (Jakarta: Serambi, 2003), h. 237.

[9] Muhammad Baqir as-Sadr. Kemelut Kepemimpinan Setelah Rasul. (Jakarta: Yayasan as-Sajjad, 1990), h. 62.

[10] Muhammad Baqir as-Sadr. Kemelut, h. 62.

[11] Murad W. Hofmann. Menengok Kembali Islam Kita.(Bandung: Pustaka Hidayah, 1999), h. 136.

[12] Kata khalifah, yang bentuk pluralnya khulafa` dan khala`if, yang berasal dari kata khalafa berarti pengganti, yaitu seseorang yang menggantikan tempat orang lain dalam beberapa persoalan. Belakangan dimaknai sebagai kepala negara atau pemimpin tertinggi umat Islam sebagai pengganti Rasulullah Saw. Lihat Taufik Abdullah. et. al. Ensiklopedi, h. 204-206.

[13] Lihat Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi. Iman Semesta: Merancang Piramida Keyakinan (Jakarta: al-Huda, 2005), h. 290.

[14]  Allamah Thabathabai. al-Mizan fi Tafsir al-Quran jilid I. (Beirut: Muassasah al-a’lami li al-mathbuat, 1991), h. 270.

[15] Lihat ulasan jalur-jalur hadits tersebut dalam Ali Umar al-Habsyi, Keluarga Suci Nabi saaw (jakarta: Ilya, 2004), hal. 66-97. Jadi para ulama ahli hadis, tafsir, dan sejarawan sepakat bahwa ayat di atas menunjukkan kesucian ahlul bait yang meliputi lima orang yaitu Nabi Muhammad Saw, Ali bin Abi Thalib, Fatimah, Hasan dan Husein. Hal ini dapat ditemukan dalam banyak literatur baik di kalangan sunni maupun syiah seperti Musnad Ahmad bin Hanbal, Mustadrak al-Hakim, Sunan alTurmizi, Tafsir al-Tabari, Tarikh Baghdadi dan lain-lain. Bahkan beberapa buku ditulis khusus untuk menguraikan ayat tersebut, diantaranya : Sayid Nurullah al-Tusturi, Al-Sahab al-Mathir fi Tafsiri Ayat Tathir; Allamah Baha’uddin al-Isfahani, Tathir at-Tathir; Sayid Abdul Baqi al-Husaini, Syarhu Tathir at-Tahir; Syekh Ismail bin Zainal Abidin, Tafsir Ayat at-Tathir; Syekh Muhammad Ali al-Bahrain, Jala’ul Dhamir fi Halli Musykilat Ayat Tathir; Syekh Abdul Husain, Aghlab ad-Dawain fi Tafsiri Ayat Tathir; Syekh Luthfullah Shafi, Risalah Qayyimah fi Tafsiri Ayat Tathir; Ja’far Murtadha al-Amili, Ahlulbait fi Ayat at-Tathir; Muhammad Mahdi ash-Shifi, Kitab fi Maqal Ayat Tathir; Sayid Ali al-Muwahhid al-Abthahi, Ayat Tathir fi Ahadits al-Fariqain; Syekh Ja’far Subhani, Ayat at-Tathir; Sayid Kamal haydari, al-Ishmah.

[16] Lihat diantaranya : ats-Tsa’labi. Tafsir al-Kasyf wa al-bayan ‘an Tafsir al-Qur’an. al-Hakim al-Hiskani. Syawahid at-Tanzil  jilid 1 (Beirut), h. 171-177. Jalaluddin as-Suyuthi. Tafsir ad-Durr al-Mantsur. al-Muttaqi al-Hindi. Kanz al-‘Ummal jilid 1, h. 305 dan jilid 15, h. 146. (bab keutamaan Ali); al-Khawarizmi. Kitab al-Manaqib, h. 187. Ibnu ‘Asakir. Tarikh Dimasyq jilid 2, h. 409. Ibnu Hajar al-‘Asqalani. al-Kaff asy-Syaf fi Takhrij Ahadits al-Kasysyaf. Mesir, h. 56; al-Baladzari. Ansab al-Asyraf jilid 2 diperiksa oleh Mahmudi (Beirut), h. 150. Al-Wahidi. Asbab an-Nuzul, 1389 , h. 192.

[17] Abdulaziz A. Sachedina. Kepemimpinan Islam Perspektif Syiah. (Bandung: Mizan, 1994), h. 165.

[18] Sayid Muhammad Al-Musawi. Mazhab Syiah. (Bandung: Muthahari Press, 2005), h. 460.

[19] Teks khutbah ini dikumpulkan dengan baik dari berbagai sumber oleh Ali Akbar Shadeqi. Khutbah al-Nabi fi Ghadir Khum 18 Dzulhijjah 10 H. (Bandung: Pustaka Pelita, 1998). h. 58. lihat juga Al-Mustdrak li al-Hakim juz 3, h. 109. Musnad Ahmad juz 4, h. 437-438. Sunan al-Tirmizi juz 5, h.297. Husain Al-Habsyi. Sunnah, h. 37. Sayid Muhammad Al-Musawi. Mazhab, h. 460-461. Muhammad Baqir al-Majlisi. Bihar al-Anwar Juz al-Hadi wa al-’Isyrun,  (Beirut: Muassasatu al-Wafa’, 1983), h. 387.

[20]  Ali Akbar Shadeqi. Khutbah, h. 18.

[21] Sayid Husain Muhammad Jafri. Dari Saqifah Sampai Imamah (Bandung: Pustaka Hidayah, 1995), h. 51.

[22]  Lihat secara lengkap dalam Abdul Husain  Ahmad al-Amini al-Najafi. al-Ghadir fi al-Kitab wa al-Sunnah wa al-Adab Jilid I. (Beirut: Muassasah al-a’lami lil mathbuat, 1994), h. 35-87.

[23] Lihat al-Amini. al-Ghadir, h. 89-101. Diantaranya Abu Rasid al-Habrani as-Syami, Abu Salamah, Abu Sulaiman al-Muazzin, Abu Salih al-Madani, Abu Abdurrahim al-Kindi, Abul Qasim Ashbagh, Abu Laila al-Kindi, Iyas bin Nuzair, Jamil bin Imarah, Harisah bin Nashir, Habib bin Abi Tsabit al-Asadi al-Kufi, al-Husain bin Malik al-Huwairis, Rabiah al-Jurasi, Abul Mutsanna Riyah bin Harits, Abu Maryam Zirri, Salim bin Abdullah bin Umar, Said bin Abi Huddan, Said bin Musayyab, Ad-Dhahak bin Mazahim al-Hilali, Amir bin Said bin Abi Waqqas, Abdurrahaman bin Tsabit,  Abdullah bin Ya’la, Ali bin Zaid al-Bisri,  Umar bin Ali bin Abi Thalib, dan lain-lain.

[24] Lihat Al-Amini. Al-Ghadir, h. 191-197. Diantaranya al-Thabari, al-Wilayah fi Thariq Hadits al-Ghadir; Ibn Salim at-Tamimi, Man Rawi Hadits Ghadir Khum; Abu Thalib Abdullah al-Anbari, Thariq Hadits al-Ghadir; Abu Fadhl Muhammad al-Syaibani, Man Rawi Hadits Ghadir Khum; Syaikh Muhsin al-Naisyaburi, Bayan Hadits al-Ghadir; Abu Abdillah al-Husain al-Khadhairi, Kitab Yaum al-Ghadir; Abul Fatah Muhammad al-Karajaki, ‘Iddat al-Bashir fi Haj Yaum al-Ghadir; Ali bin Bilal al-Mahlabi, Hadits al-Ghadir; Syaikh Manshur al-La’i al-Razi, Hadits al-Ghadir; Abdullah bin Syah Manshur al-Qazwini at-Thusi, al-Risalah al-Ghadiriah; Sayid Sabt al-Hasan al-Jaisy, Hadits al-Ghadir; Sayid Mahdi al-Bahrani an-Najafi, Hadits al-Wilayah fi Hadits al-Ghadir; Syaikh Abbas al-Qummi, Faidh al-Qadir fi Hadits al-Ghadir; Syaikh Muhammad Ridha, al-Ghadir fi al-Islam; Sayid Murtadha al-Tabrizi, Ihda’ al-Haqir fi Ma’na Hadits al-Ghadir.

[25] Lihat Ayatullah Ibrahim Amini. Para Pemimpin Teladan, (al-Huda: Jakarta). h, 319-321; Ali Umar al-Habsyi, Dua Pusaka Nabi saaw (Jakarta : Pustaka Zahra, 2002), hal. 205-210.

[26] Ali Umar al-Habsyi, Dua Pusaka, ha. 209; Al-Qunduzi al-Hanafi, Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 445.

[27] Lihat Ali Umar al-Habsyi, Dua Pusaka, hal. 210-211, mengutip kitab Ikmaluddin I, hal. 365; Ilzam an-Nashib I, hal. 55, dan Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 465.

[28] Ali Umar al-Habsyi, Dua Pusaka, ha. 209; mengutip Yanabi’ al-Mawaddah, hal. 258 dan 445; Mustakhab al-Atsar, hal. 65.

[29]  Muslim bin Hajjaj, Sahih Muslim juz 4, (Beirut : Dar al-Ma’arif), hal. 123.

[30] Lihat riwayat hidup mereka masing-masing dalam Syaikh al-Mufid. Al-Irsyad terjemahan Indonesia berjudul, Sejarah Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan Para Imam Ahlul Bait Nabi Saw. (Jakarta: Lentera, 2007)

[31] Muslim bin Hajjaj, Sahih Muslim juz 4, (Beirut : Dar al-Ma’arif), hal. 123. Banyak kitab yang meriwayatkan hadits al-tsaqalain, diantaranya : Sahih Muslim; al-Hakim an-Naisaburi, Mustadrak Al-Hakim; Ahmad bin Hanbal, Musnad Ibn Hanbal jilid 3; al-Turmudzi, Sunan al-Turmudzi jilid 5; al-Muttaqi al-Hindi, Kanz al-‘Ummal juz I; Al-Hafidz ath-Thabrani, al-Mu ‘jam ash-Shaghir; Syeikh Ibrahim bin Muhammad bin Abi Bakar al-Himwani, Fara’id as-Simthain; Ibnu Sa’ad, ath-Thabaqat al-Kubra; Al-Hafidz as-Suyuthi, Ihya al-Mayyit bi Fadhail Ahl al-Bait; Al-Hafidz al-‘Asqalani, al-Mawahib al-Ladunniyyah; ad-Darimi, Sunan al-Darimi; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra; Ibn Hajar al-Haitsami, ash-Shawa’iq al-Muhriqah. lihat Asadullah al-Tusturi , ‘Ihqaq al-Haq’ jilid 9, h. 311.

[32] Namun ada hadits lain yang populer yaitu : “Rasulullah saaw bersabda : ‘Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya, yaitu kitabullah dan sunnah nabi-Nya”. Hadits ini diriwayatkan hanya sekitar tiga jalur dalam beberapa kitab seperti Imam Malik dalam al-Muwatha’; al-Hakim an-Naisyaburii dalam Mustadrak al-Hakim; al-Baihaqi dalam Sunan Baihaqi; al-Suyuthi dalam Jami’ as-Saghir, Muttaqi al-Hindi dalam Kanzul Ummal I; Ibnu Abdil Bar dalam kitab Tamhid; Ibnu Hisyam dalam Sirah Ibnu Hisyam, dan Qadhi Iyad dalam kitabnya al-Ilma. Hadits ini merupakan hadits lemah. Beberapa catatan bisa diajukan untuk membuktikannya : (1). Hadits ini tidak diriwayatkan dalam kitab-kitab hadits yang dikenal sebagai As-Shihah dan juga tidak terdapat dalam kitab-kitab Musnad; (2). Para ulama yang meriwayatkan hadits ini menilainya sebagai lemah, diantaranya al-Hakim sendiri yang menyatakan bahwa penyebutan perintah berpegang pada sunnah dalam khutbah Nabi saaw tersebut cukup aneh. (3) Imam Malik meriwayatkan hadits ini tanpa sanadnya, begitu pula dengan riwayat Ibnu Hisyam. (4). Adapun dalam riwayat al-Hakim yang berasal banyak dari Ibnu Abbas dan Abu Hurairah, terdapat sanad yang lemah dan tercela diantaranya adalah Ismail bin Abi Uwais dan Saleh bin Musa ath-Thalhi al-Kufi yang dikatakan sebagai lemah, pembohong, dan kacau hapalannya oleh para ulama Jarh wa Ta’dil seperti Ibnu Ma’in, An-Nasai, Ibnu Abdi, Darquthni, Ibnu Jauzani, Ibnu Abi Hatim, Imam Bukhari, dan Abu Nuaim  sebagimana disebutkan oleh Ibnu Hajar di dalam kitab Tahzib at-Tahzib juz I, hal. 271. (5). Sedangkan riwayat dari Ibnu Abdil Bar disebut olehnya sebagai riwayat yang lemah. Ibnu Abdil Bar mengatakan, di dalam hadits tersebut terdapat sanad yang lemah diantaranya adalah Katsir bin Abdulah yang dikatakan oleh para ulama Jarh wa Ta’dil –seperti Ahmad bin Hanbal, Ibnu Main, Abu Nuaim, al-Hakim, Ibnu Hibban, dan Ibnu Sakkan— sebagai orang yang suka membuat hadits munkar dan lemah dalam periwayatan. (6). Riwayat dari Qadhy Iyadh juga mengandung para perawi yang lemah, tidak dikenal dan tercela seperti Syuaib bin Ibrahim, Aban bin Ishak al-Asadi, dan Saleh bin Muhammad al-Ahmasyi. 7). Adapun riwayat dari Baihaqi, al-Suyuthi, dan Muttaqi al-Hindi juga berdasarkan sanad-sanad yang telah disebutkan.Lihat ulasan lebih detail dalam Ali Umar al-Habsyi, Dua Pusaka Nabi, hal. 335-349.

[33] Sayid Mujtaba Musawi Lari, Ushul Aqaid fi al-Islam jud 4 (Qum : Markaz al-Tsaqafah al-Islamiyah fi al-Alam) hal. 181.

[34] Untuk lebih jelas nama-nama dan sumbernya lihat kitab ‘Abaqat al-Anwar’,  juz I dan 2.

[35] Kegaiban Imam Mahdi terbagi dalam dua tingkatan. Pertama, kegaiban kecil (minor occultation/ghaibah ash-shugra) selama 74 tahun (255-329 H). Ketika itu Imam Mahdi mewakilkan posisinya kepada empat wakilnya yaitu Abu ‘Ammar Usman bi Sa’id, Abu Ja’far Muhammad bin Usman, Abu al-Qasim al-Husain bin Ruh dan Abu al-Hasan ‘Ali bin Muhammad Samari. Kedua, kegaiban besar (major occultation/ghaibah al-kubra), yaitu pasca meninggalnya empat wakil di atas hingga datangnya kembali Imam Muhammad al-Mahdi pada akhir zaman. Dalam periode “kegaiban besar” ini kepemimpinan didelegasikan kepada para faqih.

[36] Ali Miskini. Sunnah Dalam Pandangan Syi’ah dan Sunni. dalam Jurnal Studi-Studi Islam Al-‘Ibrah, Vol. 1 No. 2, h. 81.

[37] Mazhab di sini tidak sama dengan pemakaian istilah mazhab dalam fiqih Sunni. Mazhab dalam pandangan Sunni menunjuk pada kumpulan ijtihad imam-imam mazhab. Namun, istilah mazhab Ja’fari bukanlah mencerminkan kumpulan pendapat atau hasil ijtihad Imam Ja’far al-Shadiq. Sebab dalam pandangan syiah, Imam Ja’far al-Shadiq, dan kesebelas Imam lainnya, bukan seorang mujtahid, tapi imam maksum yang memiliki otoritas penetapan atau pembuatan hukum. Lihat Umar Shahab. Sebuah Pengantar. dalam Muhammad Jawad Mughniyah. Fiqih Ja’fari. (Jakarta: Lentera, 1995), h. vii.

[38]  Imam Khomeini. Kitab Al-Bai’ juz II, hal 461-462.

[39]  Disadur dari Majalah Syiar edisi Dzulhijjah 1428 H/ Desember 2007 M.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL