Science without religion is lame Religion without science is blind (Albert Eisntein)

Tidak ada seorang ilmuwan muslim yang menuntut ilmu hanya karena rasa ingin tahu,  tetapi mereka menuntut ilmu dalam rangka mencari jejak ilahi (Syed Hossein Nasr)

sainsPada awal 1980-an Pakistan di bawah kepemimpinan Ziaul Haq mencanangkan islamisasi disegala bidang, dan diantaranya adalah mencoba mengkaji penciptaan sains Islam atau islamisasi sains. Para ilmuwan Pakistan kemudian membuat gebrakan bagi terealisasinya agenda besar tersebut. Diantaranya adalah ide untuk menghadapi krisis energi di dunia Islam dengan jalan mengendalikan jin.

Dalam ayat-ayat al-Quran disebutkan jin terbuat dari api. Dengan premis ini pakar energi ada yang menawarkan alternatif yaitu: menangkap jin sebagai sumber energi yang gratis. Ada yang mengkaji secara kimia, bahwa jin kemungkinan besar terbuat dari gas metan dan hidrokarbon jenuh sehingga bila terbakar tidak mengeluarkan asap. Bila jin ini dapat ditangkap dan dikendalikan maka kita akan mempunyai cadangan energi yang tidak habis-habisnya. Bagaimana semua ini dapat teraplikasi? Tidak ada penjelasan yang konkrit. Itulah contoh upaya menjelmakan sains Islam yang dinilai saintis tidak realistis dan memalukan, ungkap Pervez Hoodboy (1992).

Lantas bagaimana sebenarnya hubungan sains dan agama? Paling tidak dalam sejarahnya ada empat mazhab yang diajukan:

  1. Konflik, yaitu pandangan yang menganggap sains dan agama adalah dua kutub yang bertentangan dan saling menghancurkan satu dengan lainnya.
  2. Independensi, yaitu para pemikir yang berkeyakinan bahwa sains dan agama memiliki kemandirian masing-masing dan terpisah dikarenakan berurusan dengan wilayah yang berbeda. Jika beroperasi pada wilayahnya masing-masing, maka tidak akan terjadi konflik.
  3. Dialog, yang berpendapat bahwa sains dan agama adalah mitra dalam melakukan refleksi kritis atas berbagai persoalan dengan tetap menghormati integritas masing-masing.
  4. Integrasi, yaitu pandangan yang bersikap dengan baik terhadap sains dan agama dengan kemitraan yang lebih sistematis dan ekstensif dalam mencari titik temu antara keduanya. (Ian. G. Barbour, Juru Bicara Tuhan, 2002: 40-42)

Dari keempat model relasi sains dan agama di atas, integrasi tampaknya model yang ideal bagi sebagian besar pemikir muslim yang mendukung proyek islamisasi sains.

Secara historis, perbincangan tentang hubungan sains dan Islam telah ada sejak masa klasik. Namun isu itu kembali mencuat pada zaman modern di sekitar abad ke-19. Menurut Leif Stenberg (1996), awal dari pembahasan hubungan sains dan Islam dimulai saat Ernest Renan (w.1892) pada tahun 1883 di Paris menyebutkan bahwa antara Islam dan sains itu bertentangan (incompatible). Pernyataan Renan ini kemudian direspon oleh jamaluddin Al-Afghani (w.1897) dengan menunjukkan keselarasannya. Dari sini perdebatan berlanjut sampai saat ini, dengan melahirkan tiga tanggapan ilmuwan muslim terhadap sains modern. Yang kemudian masing-masing pendapat ini akan menentukan bagaimana pandangan mereka pula terhadap ide islamisasi ilmu.

Ziauddin Sardar seperti disebutkan M. Damhuri (Republika, 26 mei 2000) mencatat  ketiga pandangan ini. Pertama, kelompok muslim apologetik. Kelompok ini menganggap sains modern bersifat netral dan universal. Mereka berusaha melegitimasi hasil-hasil penemuan sains modern dengan mencari padanan ayat-ayatnya yang sesuai dengan teori dalam sains tersebut. Karena sebagai apologia saja, maka pandangan kelompok ini hanya sebagai penyembuh luka bagi umat islam secara psikologis, bahwa umat Islam tidak ketinggalan zaman. Kedua, kelompok yang mengakui sains Barat, tetapi berusaha mempelajari sejarah dan filsafat ilmu agar dapat menyaring elemen-elemen yang “tidak islami.” Dan ketiga, kelompok yang percaya dengan adanya sains Islam dan berusaha membangun islamisasi diseluruh elemen sains.

Ketiga kelompok ini jalan dengan idenya masing-masing dan didukung oleh kelompoknya pula, baik dari kalangan agamawan maupun ilmuan. Padahal, tak jarang sains dan tafsiran agama bersekutu dalam melanggengkan keburukan. Sains telah mampu menciptakan senjata yang digunakan untuk dan atas doktrin keberagamaan. Karenanya diperlukan kebeningan hati dan kecerdasan nalar dalam merealisasikan agenda islamisasi yang luar biasa dahsyatnya, dan ini bukanlah suatu khayalan dan kemustahilan.

Kemungkinan untuk terjadinya islamisasi sains ini terlihat dari beberapa karakter yang bersinggungan antara sains dan agama seperti yang terlihat dibawah ini :

  1. Adanya karakter yang sama dalam sains dan Islam seperti koherensi, kekomprehensipan, kemanfaatan, dan kebenaran.
  2. Sains dan Islam sama-sama dibentuk dan bergantung pada paradigma dan pada dasarnya ada kemungkinan untuk menyatukan paradigma sains dan Islam.
  3. Adanya kesejajaran metodologis yang signifikan antara sains dan agama
  4. Adanya kesejajaran konseptual antara sains dan Islam
  5. Adanya saintis yang religius dan religius yang saintis
  6. Kuatnya anjuran wahyu untuk melakukan pengkajian yang menghasilkan ilmu
  7. Penafsiran sains dan agama sama-sama berasal dari pemahaman manusia sehingga bukanlah harga mati.

Umat Islam terkadang melakukan apologetik kepura-puraan yang mendua dengan menyatakan bahwa Islam adalah agama rasional dan menghargai ilmu pengetahuan, namun disisi lain sangat takut atau bahkan marah saat keyakinan agamanya (yang seringkali merupakan penafsiran sepihak) bertentangan dengan hasil-hasil sains yang faktual. Seharusnya hal ini tidak terjadi, sebab seperti dikatakan Muthahhari, dari satu sudut, setiap ilmu alam merupakan cabang dari kosmologi. Tetapi, dari sudut lain dan cara melihat sesuatu yang lebih dalam, setiap ilmu alam merupakan cabang dari pengetahuan, pengenalan, atau pengakuan tentang Tuhan (Muthahhari, Manusia dan Alam Semesta: 63)

Hanya saja, seperti pernah dikatakan Zainal Abidin Bagir yang dikhawatirkan, pada saat ini, kecenderungan sains sangat mempengaruhi agama, tetapi jarang sekali agama mempengaruhi sains. Ini berarti, ada masalah mendasar menyangkut sains secara umum. Sebagai suatu upaya kognitif—lebih mendasar daripada persoalan pencarian implikasi metafisis—yaitu bahwa secara metodologis, sains memiliki kerancuan fundamental yang bersumber pada metafisikanya sendiri sehingga hasilnya kerap tampak menyudutkan agama. Sains tak dapat mengklaim universalitas dan objektivitas karena ia—meski jarang diakui—dilandaskan pada metafisika tertentu. Lebih jauh, metafisika inilah yang pada dasarnya kerap bertentangan dengan kebenaran-kebenaran yang diakui agama. Sebagai akibatnya, apa yang tampak sebagai konflik antara temuan-temuan empiris sains dan agama sesungguhnya bersumber pada metafisika ini.

Dengan demikian, kita mesti menyadari, baik kalangan ilmuan maupun agamawan bahwa, sains bukanlah alat untuk menjustifikasi kebenaran atau kesalahan agama, tetapi lebih sebagai alat bantu yang dipertimbangkan untuk dapat menafsirkan agama dengan benar, aktual, dan fugsional. Ini bukanlah usaha apologetis tetapi ijtihadis. (CR/liputanisalm.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*