LiputanIslam.com – Beberapa teori kedatangan Islam di Nusantara telah banyak dibahas. Sekarang pembahasan selanjutnya adalah proses penyebaran Islam itu sendiri di Nusantara. Dan mengapa Islam begitu cepat diterima? Penjelasan paling umum dan teori paling lama adalah bahwa perkenalan dan penyebaran tersebut dilakukan melalui jalur perdagangan, seperti yang dikatakan oleh Tome Pire, yang menulis sekitar tahun 1515.

Menurut buku Theories on the Introduction and Expansion of Islām in Malaysia, teori ini menjelaskan bahwa Islamisasi Nusantara dibawa secara damai oleh para pedagang yang menetap di pelbagai daerah dan menikah dengan perempuan bumiputera.

Krom menyatakan pendapat yang sama, dan dia lebih memperhatikan persamaan antara Islamisasi dan Hinduisasi di Nusantara. Dia menyatakan bahwa keduanya dibawa oleh para pedagang.

Kern juga menyatakan pendapat yang sama dan telah menambahkan bahwa sejak para pedagang menikah dari keluarga pelbagai penguasa atau raja, mereka kemudian menerima kekuasaan politik yang digunakan dalam menyebarkan Islam.

Sedangkan A.H. John dalam buku Ṣūfīsm As a Category in Indonesia Literature and History telah mengembangkan teori yang berbeda. Ia berpendapat bahwa Islam tidak mungkin dibawa ke Nusantara oleh para pedagang, karena biasanya tidak umum pertimbangan bahwa pedagang adalah pembawa agama. Namun mungkin saja jika mereka adalah para pedagang khusus yang tergabung dalam serikat dagang Ṣūfī, didampingi oleh Shaykh mereka yang membawa misi tertentu di Nusantara. S.Q. Fāṭimī dalam buku Islām Comes to Malaysia mendukung pandangan ini, bahwa Islamisasi Nusantara adalah tugas dari para Ṣūfī.

Dalam buku Theories on the Introduction and Expansion of Islām in Malaysia muncullah Van Leur yang kemudian mengembangkan teori bahwa proses Islamisasi di Nusantara ditetapkan oleh situasi-situasi politik dan motif-motif politik-ekonomi. Dasar dari proposisi ini adalah Malaka diubah menjadi Islam karena menginginkan dukungan politik dari para pedagang Muslim. Demikian pula ia mengatakan bahwa kerajaan-kerajaan pesisir Indonesia menerima Islam sebagai sebuah jalan untuk menolak pengaruh Majapahit. Dinasti-dinasti Muslim baru ini mengklaim legitimasi Islam, sehingga memperoleh dukungan Muslim. Bagi penguasa atau raja yang menginginkan pertumbuhan aktivitas perdagangan di kerajaan mereka, dengan beralih ke Islam, dapat menjamin dukungan dari pedagang Muslim. Dengan demikian, Van Leur telah mengungkapkan bagaimana alasan politik-ekonomi telah menghasilkan penerimaan Islam di banyak kerajaan kecil di Nusantara.

Ilmuan lain, Schrieke, berpendapat bahwa pernikahan para pedagang Muslim kaya dengan anggota keluarga kerajaan di Nusantara merupakan faktor yang berkontribusi terhadap penyebaran Islam secara bertahap, namun tidak langsung banyak. Cara seperti itu hanya menghasilkan peralihan atau perubahan untuk sejumlah kecil penduduk saja. Schrieke berusaha untuk menghubungkan penyebaran Islam di Nusantara dengan upaya untuk memeriksa perluasan kekristenan di belahan dunia ini. Konfrontasi antara Islam dan Kristen di Timur Tengah dan Semenanjung Iberia di Eropa berlanjut di Nusantara. Perjuangan sedang berlangsung antara Portugis, di satu sisi, dan para pedagang Muslim, pangeran Arab, Persia, dan India, di sisi yang lain. Dengan demikian, semangat ekspansi Islam di Asia Tenggara dapat dianggap sebagai tindakan balasan terhadap pengaruh kekristenan.

Akhirnya, penjelasan terbaik untuk perubahan massal penduduk Nusantara adalah daya tarik ideologis Islam. Perubahan radikal atau perubahan massal jarang terjadi di masyarakat manapun kecuali ada ketegangan dan ketidakpuasan terhadap sistem yang ada, yang memberi dorongan untuk mencari nilai atau kepercayaan baru. Ilmuan Wertheim menunjukkan bagaimana gagasan kesetaraan dan nilai individu bagi manusia di komunitas Muslim jauh lebih menarik bagi orang-orang di Nusantara daripada sistem kasta Hindu yang kaku. Konsep kesetaraan manusia Islam ini mendapat dukungan massa, baik di wilayah perdagangan Muslim maupun di kerajaan Hindu, sehingga kehadiran Islam diterima secara baik oleh masyarakat bumiputera. Mengingat akselerasi penyebarannya, memang banyak pihak terkait, sehingga berdampak cepat dan besar. [Ayu]

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*