logo-NULiputanIslam.com–Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) adalah partai dan ormas yang kerap mengangkat wacana takfirisme, yaitu menuduh pihak lain yang tak segolongan dengan mereka sebagai pihak kafir; atau “minimalnya” mereka tuduh liberal. Tuduhan yang kerap disampaikan para kader PKS dan HTI sampaikan kepada kalangan NU biasanya adalah tuduhan ‘liberal’.  Menurut Savic Ali, aktifis muda Nahdlatul Ulama, tuduhan liberal adalah satu-satunya senjata yang dimiliki PKS dan HTI dalam menghadapi kalangan intelektual muda Nahdlatul Ulama (NU).

“Senjatanya kader/simpatisan PKS dan HTI dlm menghadapi anak muda NU progresif itu cuma satu: cap liberal,” tulis Savic dalam akun twitternya, (3/11/2014)

Menurut Savic, satu-satunya senjata orang PKS dan HTI itu dikarenakan mereka tidak memiliki kemampuan dalam forum yang ilmiah seperti bahtsul masaail.
“Soale nek bahsul masail kalah”, tambah Savic, seperti dikutip muslimedianews.com.

Di pesantren, kata Savic, santri-santri terbiasa bahas masalah atau menggelah bahtsul masail. Mereka berdebat tentang berbagai hal dari perspektif kitab, tanpa pretensi paling benar. (baca: Begini Sikap NU Terhadap Khilafah)

Pandangan NU Terhadap Liberalisme

Pada tahun 2009, (mantan) Ketua Umum PBNU Hasyim Muzadi mengatakan, NU bukan liberalisme dan liberalisme bukan NU. Keislaman NU didasarkan pada kaidah-kaidah yang sudah ditentukan.

“Pengembangan pemikiran NU harus melalui manhaj (kaidah yang sudah ditentukan),” katanya, seperti dikutip beritajatim.com (14/5).

Apa yang diyakini ormas Islam terbesar di Indonesia itu, lanjut Hasyim, tentu saja berbeda dengan yang diyakini kelompok Islam liberal. Kelompok liberal dinilainya membuat pemikiran sendiri yang mengkritisi semua, termasuk Al-Quran. Hasyim setuju dengan kritisisme, asal sesuai dengan koridor.

Pandangan NU Terhadap Takfirisme

Khatib Aam PBNU, K.H. Malik Madani, mengatakan bahwa dalam pandangan NU, fenomena mudah mengkafir-kafirkan orang atau takfiri itu merupakan perwujudan dari sikap intoleran. Takfirisme merupakan sikap tidak adanya tasamuh dalam menghadapi perbedaan pendapat.
“Kami, sebagai pengusung paham Ahlusunnah wal Jamaah, sudah dikenal sebagai pengusung paham yang moderat, paham yang toleran. Kami tidak mudah mengkafir-kafirkan sesama Muslim hanya karena adanya perbedaan di antara kita,” demikian kata KH Malik Madani, seperti dikutip situs ahlulbaitindonesia.org.

“Kita memegang teguh apa yang ditegaskan oleh para ulama Sunni terkemuka semacam Hujjatul Islam, Abu Hamid al-Ghazali, yang menyatakan la yukaffiru ahadan min ahlil kiblat. Kami tak bisa mengkafirkan seorang pun dari kalangan ahlul kiblat. Yaitu orang yang sama shalatnya menghadap ke kiblat. Tidak mungkin kami mengkafirkan orang yang seperti itu,” lanjutnya.

Kyai Muda NU, KH. Alawi Al Bantani mengatakan, sejak zaman dulu, bahkan sebelum Indonesia merdeka, yang dibutuhkan adalah sosok yang agamis dan nasionalis, sebab dengan terkumpulnya dua karakter ini tidak akan berusaha memecah belah umat.“Kalau cuma beda madzhab tak usah saling mengkafirkan. Harusnya kita meniru Rasulullah. Rasul saja sangat ramah kepada orang yang beda agama apalagi cuma beda madzhab. Ulama mesti memiliki visi ukhuwah Islamiyah,” tegas KH. Alawi, seperti diberitakan liputanislam.com.“Jika ada ulama yang senang dengan perpecahan tandanya pemahaman agama mereka belum mencapai level yang mapan dan mantap. Mereka hanya ingin kita ikut Islam gaya mereka dan membuat Islam kacau balau,” lanjutnya. (fa)
DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL