wilayah Champa yang kini telah menjadi Vietnam dan Kamboja dan sebagian wilayah Siam jatuh ke bangsa Thai dibantu Inggris yang kemudian mendirikan negara Thailand

Oleh: Sofia Abdullah*

Sejarah Nama India

Berdasarkan data yang kami temukan, nama India sebenarnya telah dikenal oleh bangsa Eropa sejak era Herodotus, seorang sejarawan Yunani yang hidup kurang lebih 400 tahun sebelum Masehi.

Nama India yang dikenal bangsa Yunani berasal dari bahasa Parsi tua, yaitu Hindia. Nama ini yang diambil dari kata Hindhu, yang berasal dari bahasa Sanskerta ‘Sindhu’, yang berarti ‘Sungai’ .

Pada masa Yunani dan Romawi, bangsa Eropa adalah bangsa yang maju peradabannya. Namun pergantian penguasa demi penguasa, serta menurunnya kualitas moral para penguasa, menyebabkan peperangan antar suku dan bangsa-bangsa di Eropa. Pemimpin yang serakah telah menuntut rakyatnya terus berperang dengan mengatasnamakan agama, sehingga pendidikan dan ilmu pengetahuan pun ditinggalkan.

Kondisi ini telah menjadikan bangsa Eropa memasuki era kegelapan, yaitu menurunnya kualitas pendidikan bangsa hingga pada titik yang terendah. Akibatnya segala bidang keilmuan yang mereka miliki hilang dan berpindah menjadi milik bangsa lain.

Selama berabad-abad bangsa Eropa mengalami masa kegelapan. Dunia yang mereka ketahui hanya Eropa dan sekitarnya. Bangsa Eropa juga mengatakan bumi adalah datar; laut adalah ujung dunia. Karenanya mereka tidak pernah melakukan pelayaran. Perjalanan yang mereka lakukan semuanya melalui darat. Masa kegelapan bangsa Eropa mulai memudar setelah terjadi kontak dengan bangsa Arab dan Islam yang melakukan invasi hingga ke perbatasan Eropa. Dari sinilah mereka mulai menggali kembali ilmu warisan nenek moyang mereka yang saat itu telah berada di tangan bangsa Arab dan Islam.

Sekitar abad ke-14 dan 15 nama ‘India’ muncul kembali di kalangan sejarawan Eropa setelah terjadi hubungan dengan kaum Muslim melalui buku-buku sejarah klasik yang ada, terutama setelah era Perang Salib yang terjadi selama ratusan tahun. Perang Salib walaupun mengatasnamakan agama pada dasarnya adalah perang perebutan kekuasaan antara bangsa Arab yang mengatasnamakan Islam dan bangsa Eropa yang mengatasnamakan Kristen.

Tahun 1453 Konstantinopel jatuh ke tangan Turki Usmani. Kondisi ini telah mendesak bangsa Eropa untuk melakukan penjelajahan dan menemukan ‘Dunia Baru’ untuk mereka tempati. Dunia baru yang mereka ketahui saat itu, adalah dunia baru bernama Hindia atau India. Negeri ini digambarkan dalam buku sejarah klasik sebagai negeri yang kaya dengan emas dan hasil bumi lainnya.

Pencarian India inilah yang kemudian membuat bangsa Eropa setiap kali menemukan benua baru mereka katakan sebagai ‘India’. Kesalahan bangsa Eropa membuat nama ‘India’ semakin jauh dari makna wilayah yang sebenarnya, karena setiap kali mereka menemukan ‘dunia baru’ mereka katakan sebagai ‘India’ dan penduduknya dikatakan sebagai ‘Indian’. Karena kesalahan demi kesalahan inilah wilayah India menurut pandangan bangsa Eropa saat itu pun menjadi sangat luas.

Luasnya wilayah Hindia menurut pandangan bangsa Eropa saat itu, menyebabkan wilayah ‘Hindia’ pun dibagi menjadi 2, yaitu Hindia Barat dan Hindia Timur. Hindia Barat adalah sebutan bagi wilayah-wilayah di laut Karibia yang terbentang antara Amerika Selatan hingga Amerika Tengah. Sementara Hindia Timur adalah wilayah yang terbentang mulai dari anak benua India, Pakistan dan sekitarnya, hingga wilayah-wilayah yang kini menjadi negara-negara di Asia Tenggara, termasuk di antaranya adalah kepulauan Indonesia.

Ketika akhirnya bangsa Eropa menemukan wilayah India yang sebenarnya, bukannya mereka mengoreksi kesalahan mereka, malah sebaliknya mereka menetapkan nama ‘India’ sebagai nama resmi wilayah jajahan baru bangsa Eropa di benua Asia dan Afrika.

Wilayah India yang mereka temukan ini diberi nama baru berdasarkan pembagian wilayah diantara negara negara Eropa yang menjadi pemiliknya atau yang memiliki saham terbesar di negara yang bersangkutan, sebagai contoh, misalnya Hindia Belanda (Netherlands India) atau British East India, Spanish East Indies (Philipina), dan sebagainya, padahal tiap-tiap negara tersebut memiliki namanya masing-masing sebelum era pemerintah kolonial Belanda.

Ketika akhirnya negara-negara yang dijajah ini merdeka dari bangsa Eropa, sebagian besar nama wilayah yang diberikan oleh para penjajah masih berlaku berlaku hingga saat ini. Contohnya, Phiphina diambil dari nama raja Spanyol, Philip. Sebutan untuk penduduk asli Amerika hingga saat ini tetap Indian, atau sebutan India bagi negara India saat ini, padahal nama resminya dan sebutan penduduknya bagi negara ini adalah ‘Bharat’ (1).

Lalu Dimanakah Lokasi India yang Sesungguhnya?

Berdasarkan keterangan di atas dapat di simpulkan bahwa kata ‘India’ yang digunakan Herodotus sekitar 400 SM adalah perubahan dari kata ‘Hindu’ yang diambil dari bahasa Persia kuno yang digunakan sekitar 850-600 SM. Kata Hindu sendiri adalah perubahan dari kata sanskrta ‘Sindhu’ yang usianya jauh lebih tua, yang berarti ‘Sungai’.

Pada masa kekuasaan kaisar Persia Xerxes (Ahasuerus, 486-465 SM) atau sekitar 2500 tahun yang lalu, nama Hindu adalah sebutan bagi wilayah-wilayah di sebelah Timur sungai Indus. (2)

Baik dari wilayah Persia atau India saat ini, posisi wilayah sebelah Timur adalah Indonesia. Dan bila kita telusuri dari sejarah nama bangsa ini, nama Indonesia sendiri diambil dari kata Indus (India atau Hindia) dan Nesos (Kepulauan) bila digabungkan keduanya berarti Kepulauan India. Indonesia juga pernah bernama East Indies atau ‘India Timur’.

Sementara yang sekarang kita kenal sebagai negeri India yang berlokasi di anak benua India, nama asli negerinya adalah ‘Bharat’, yang kini memiliki nama resmi Republik India.

Dari penjabaran di atas dapat disimpulkan bahwa yang dikatakan sebagai India yang sesungguhnya adalah Indonesia.

Perubahan-perubahan nama wilayah yang dilakukan bangsa Eropa terhadap negara-negara jajahannya tentunya menimbulkan dampak kerancuan dalam sejarah baik disengaja maupun tidak. Contohnya ketika peneliti sejarah menemukan naskah kuno yang menceritakan tentang India, tentunya akan terjadi kerancuan, lokasi India mana yang dimaksudkan dalam naskah tersebut.

Untuk meminimalisir kesalahan tersebut sangat penting bagi peneliti sejarah untuk mempelajari sejarah nama tempat atau lokasi yang dimaksud naskah kuno tersebut, karena kesalahan memahami lokasi sejarah dapat mengubah seluruh sejarah yang ada. (LiputanIslam.com)

(Tamat)

*Sofia Abdullah adalah peneliti sejarah independen, tinggal di Bandung

Baca bagian pertama

Referensi :
1. Madhav Deshpande, Sanskrit & Prakrit: Sociolinguistic Issues, Motilal Banarsidass Publ., 1993, p. 85.
2. Sharma, Arvind (2002), “On Hindu, Hindustan, Hinduism and Hindutva”, Numen, 49 (1): 1–36, JSTOR 3270470

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL