Kesultanan Siam (Thailand sekarang)

Oleh: Sofia Abdullah*

Seperti yang kita ketahui bersama, sejarah adalah ilmu yang mempelajari segala hal dan peristiwa yang terjadi pada masa lalu. Tujuan mempelajari sejarah adalah jelas, yaitu untuk mengetahui siapa nenek moyang kita dan asal usul bangsa dan negara tempat kita dilahirkan. Ilmu sejarah juga dipelajari dengan tujuan agar kita dapat menemukan solusi bagi segala masalah yang ada pada masa kini dan masa yang akan datang.

Dalam penelusuran sejarah yang kami pelajari 5 tahun terakhir, seringkali kami menemukan beberapa fakta sejarah penting yang terlewatkan, yaitu: perubahan geopolitik.

Geopolitik adalah ilmu yang mempelajari pengaruh kekuasaan terhadap wilayah atau geografi suatu bangsa atau negara, baik pengaruh fisik yaitu manusia, budaya dan wilayah, baik darat, laut, udara ataupun non fisik yaitu ideologinya.

Ilmu geopolitik dalam penelusuran sejarah menjadi amat penting mengingat luasnya pengaruh geopolitik yang telah menyebabkan bukan hanya perubahan nama, namun juga luas wilayah, bahkan ideologi suatu negara.

Wilayah di Asia Tenggara yang mengalami perubahan geopolitik sangat banyak, seiring dengan pergantian penguasa dari masa ke masa. Dua di antaranya adalah wilayah Champa atau kesultanan Champa yang kini menjadi Vietnam dan wilayah Siam atau kesultanan Siam yang kini menjadi Thailand.

Baik Champa maupun Siam selama berabad-abad adalah negara dengan mayoritas penduduknya adalah Muslim. Pada tahun 1470, Champa diserang oleh bangsa Khmer dan Dai Viet. Wilayah Champa kemudian terbagi dua menjadi Kamboja dan Vietnam. Seiring dengan perubahan geografi,  ideologinya pun berubah. Pada awalnya Islam adalah agama mayoritas, menjadi minoritas. Agama Budha menjadi mayoritas dan sebagian kecil lainnya menganut agama Brahmanik.

Perubahan ini terjadi bukan karena penduduk muslimnya mengubah agamanya menjadi Budha tapi karena mayoritas kaum Muslim Champa bermigrasi ke wilayah-wilayah sekitarnya, seperti Malaysia dan Indonesia.

Kesultanan Siam pun mengalami nasib yang kurang lebih sama dengan negara tetangganya Champa. Setelah Siam dikalahkan oleh serangan bangsa China, suku Thai, dan dibantu oleh Inggris, jumlah kaum muslim di wilayah Siam menurun drastis, mayoritas mereka bermigrasi ke Indonesia, tepatnya ke pulau Jawa.

Migrasi bangsa Champa dan Siam ke Indonesia ini dapat dilihat dari asimilasi penduduk, budaya (bangunan, makanan dan busana), bahasa dan sebagian ada yang tercatat dalam naskah-naskah kuno.

Kedatangan bangsa Eropa ke negara-negara Asia juga telah mengubah geopolitik negara-negara Asia yang terjajah. Negara-negara di dunia yang ada saat ini, baik nama maupun wilayahnya, adalah negara-negara yang umumnya dihasilkan dari pembagian wilayah yang dilakukan oleh negara-negara yang awalnya tergabung dalam VOC atau EIC setelah mereka berkerjasama mengalahkan wilayah-wilayah yang ingin mereka kuasai.

Setelah Perang Dunia I ditandai dengan jatuhnya kesultanan Turki Usmani disusul Perang Dunia II, geopolitik pun berubah lagi menjadi negara-negara yang kita kenal sekarang.

Jadi bila kita mempelajari sejarah negara-negara yang ada sekarang, sekitar 2 atau 3 abad sebelum PD I dan II tentunya berbeda sekali dengan apa yang kita lihat sekarang, baik nama maupun wilayahnya. Perubahan geopolitik yang terjadi pada wilayah Siam dan Champa adalah salah satu contoh perubahan geopolitik yang mempengaruhi sejarah Indonesia dalam skala kecil. Dalam skala besar kita akan menjumpai perubahan geopolitik yang terjadi pada kata ‘Hindia atau India’. (LiputanIslam.com)

(bersambung)

*Sofia Abdullah adalah peneliti sejarah independen, tinggal di Bandung

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL