pendidikan

Sudah menjadi keputusan yang disepakati secara umum bahwa pendidikan merupakan sektor vital bagi kehidupan manusia, tetapi pelanggaran terhadap kesepakatan ini  tak dapat dikatakan jarang. Mulai dari tidak diberinya kesempatan untuk berpendidikan, orientasi gelar bukan keilmuan, sampai kriminalitas dalam dunia pendidikan. Ini adalah ancaman serius yang bukan hanya melanda dunia pendidikan secara umum, tetapi juga pendidikan Islam.

Memang ironis, sampai detik ini lembaga pendidikan masih menjadi konsumsi yang mahal, sehingga kebanyakan kita tak memiliki akses untuk memasukinya. Terlebih lagi, lembaga-lembaga pendidikan yang mendapat label favorit dan bergengsi. Sehingga yang memasukinya hanyalah yang berkantong tebal daripada yang cerdas akal. Lebih ironisnya lagi, sekarang ini, pendidikan diperalat menjadi sarana mobilisasi sosial-politik-ekonomi. Dominasi sikap yang seperti ini dalam dunia pendidikan telah melahirkan patologi psiko-sosial, terutama dikalangan peserta didik dan orang tua, yang disebutkan Wan Daud terkenal dengan istilah penyakit gelar (diploma disease), yaitu usaha dalam meraih suatu gelar pendidikan bukan karena kepentingan pendidikan melainkan karena nilai-nilai ekonomi, politik dan sosial. Maka wajar berkembang ijazah palsu dan lembaga-lembaga pendidikan yang tidak bertanggung jawab atau bahkan para sarjana yang tidak mendalami secara serius ilmu yang dimilikinya kecuali kebanggaan atas gelar yang diperolehnya.

Gelar telah menjadi “jimat” keramat dalam menghadapi kehidupan. Dengan gelar yang dimilikinya menjadikan seseorang seolah-olah pemilik tunggal kebenaran yang berhak menghakimi orang lain dan boleh bertindak apapun untuk mendiskriminasi pesaingnya. Dengan bermodalkan “jimat” tersebut seseorang muncul bak  ahli segala ilmu tapi minus pikiran inovatif dan tindakan kreatif untuk melakukan analisa kritis terhadap fenomena kehidupan yang sedang dihadapi. Budaya praktis dan pragmatis, serta instan telah melahirkan manusia yang suka mencari “jimat  gelar” ini untuk memperbaiki kehidupan material, intelektual dan spiritualnya. Budaya pesantren yang mengedepankan “nyantri” kini dibuat “nyentrik”. Bayangkan beberapa waktu lalu, jagad Indonesia dihebohkan dengan tindakan anarkis seorang ustadz “nyentrik” yang menjadi “ulama” melalui kontes audisi. Sebelumnya, muncul perdebatan panas di media-media karena bayaran tinggi yang diminta seorang ustadz seleb papan atas untuk dakwah-dakwahnya.  Seorang pejabat membuat kontes salat berjamaah yang berhadiah mobil ratusan juta rupiah. Tak pelak pula, di sisi lain, sebagian orang yang mendapat gelar ulama, kyai atau ustadz, menjadikan isu perbedaan mazhab sebagai sarana untuk mengusir Ustadz saingannya dari kampungnya sendiri karena ia mulai populer sekaligus populis, seperti yg dialami Ustadz Tajul Muluk di Sampang, Madura. Sehingga ada pengamat yang berkomentar bahwa yang terjadi di Sampang bukanlah soal perbedaan pendapat, tetapi perbedaan pendapatan. Ini menggambarkan, orientasi ilmu yang mengedepankan kualitas kemanusiaan telah bergeser menjadi orientasi nilai kuantitas keuangan. Membawa jargon Islam tetapi jauh dari nilai-nilai yang islami, seperti pernah diisyaratkan Imam Ja’far Shadiq yang berkata, betapa banyak orang yang membawa fiqih tetapi dia tidak faqih.’   

gelarSistem pendidikan yang masih dikotomis mulai dari lembaga, kenseptualisasi ilmu, kurikulum, pendidik dan peserta didik, serta faktor lainnya menjadikan pendidikan Islam tak mampu bersanding apalagi bertanding. Misalnya, adanya pembagian ilmu menjadi ilmu agama dan ilmu non agama. Ini berakibat pada bias tentang orang yang menuntut dan mencari ilmu. Ulama yang fasih membaca kitab kuning untuk menemukan keinginan Tuhan dipandang lebih agamis dan tinggi kedudukannya daripada ilmuan yang cermat membaca alam semesta untuk menemukan jejak ilahi. Dari sini, ilmu ‘naqliyah’ lebih dikedepankan dan mendapat tempat terhormat daripada ilmu-ilmu ‘aqliyah’ yang mendapat tempat di pinggiran. Kita lebih mengenal al-Ghazali dengan kitab Ihya ulumuddin ketimbang tahafut al-falasifah atau misykat al-Anwar. Bahkan Ibnu Rusyd lebih kita kenal sebagai faqih dengan kitab bidayatul mujtahid ketimbang tahafut al-tahafut atau fashl maqal yang ditulisnya.

Ini berimbas lagi pada dimensi praktisnya, yang mana kita memandang lebih berpahala mendirikan mesjid daripada laboratorium atau pusat-pusat penelitian, lebih afdhal menahan kantuk malam untuk tahajjud daripada menahan kantuk di laboratorium, mahasiswa yang rajin ke mesjid lebih mulia daripada yang rajin mendatangi pusat penelitian dan perpustakaan, padahal suatu penyelidikan biasanya untuk kebaikan umat sejagad sedangkan ibadah ritual seringkali hanya untuk kebaikan pribadi. Sewajarnya kita menghargai keduanya yang barangkali memiliki kelebihan disamping kelemahan-kelemahannya. Semua ini meyadarkan kita akan pentingnya aktualisasi pendidikan Islam untuk menciptakan masyarakat berperadaban.

Secara khusus kita melihat bahwa pendidikan Islam saat ini mencoba merangkak bangun untuk mengejar ketertinggalannya. Kesadaran ini sebenarnya telah bangkit sekitar seperempat abad yang lalu dengan digelarnya konferensi pertama umat Islam sedunia tentang pendidikan Islam di Mekkah pada tahun 1977 dan terus berlanjut sampai hari ini. Konferensi-konferensi ini setidaknya memberikan angin segar bagi kebangkitan Islam yang digembar gemborkan pada abad ke-15 H ini, atau paling tidak memberikan gairah dalam situasi akut ‘impotensi’ intelektual umat Islam.

Namun, Pendidikan Islam akan dapat maju dan berkembang harus didukung penuh oleh konseptualisasi ilmu pengetahuan karena ilmu merupakan jantung bagi pendidikan Islam, sebaliknya ilmu pengetahuan membutuhkan sistem dan lembaga pendidikan yang kondusif dan memungkinkan baginya untuk tumbuh dan berkembang. Pendidikan Islam merupakan raga yang jantungnya adalah ilmu pengetahuan. Karena itu, aktualisasi pendidikan Islam setidaknya harus memperhatikan beberapa hal berikut ini :

  1. Rekonstruksi makna sains/ilmu yang membahas seputar paradigma ilmu, hierarki ilmu, pembagian ilmu, dan sebagainya.
  2. Berkaitan dengan yang pertama maka perlu menerapkan epistemologi Islam sebagai tindak mengetahui, status ontologis ilmu sebagai objek yang diketahui, dan aksiologis sebagai penerapan ilmu.
  3. Merumuskan nilai dan kerangka kebenaran secara akurat.
  4. Menciptakan suasana kondusif dan efektif bagi perkembangan ilmu dan pendidikan. Di sini mencakup pembangunan lembaga-lembaga riset, memperbesar anggaran pendidikan/penelitian, memberikan penghargaan yang cukup atas hasil karya seseorang, memberikan kebebasan akademik dalam berpikir dan berpendapat.
  5. Membangun sistem bimbingan minat dalam lembaga pendidikan Islam sebagai upaya pendalaman ilmu di luar kurikulum.
  6. Menbentuk jaringan kerja sama antar lembaga pendidikan seperti dalam hal tenaga ahli, pengembangan literatur/perpustakaan, kesempatan belajar, dan bimbingan.
  7. Membina mentalitas ilmuan agar memiliki nilai-nilai religius dan mentalitas ‘ulama’ agar siap menerima nilai kebenaran ilmu dan keragaman pengetahuan hasil capaian insan.

Dengan memperhatikan hal-hal di atas, maka aktualisasi pendidikan Islam yang berorientasi kemanusiaan, keummatan, persatuan, dan peradaban merupakan agenda raksasa yang menjadi keharusan umat Islam untuk merealisasikannya. Kita jangan berpikir pada level fardhu kifayah atau fardhu ain untuk mencari alasan penghindaran diri (dosa). Kita tidak berharap semua umat Islam menjadi ulama atau ilmuan, akan tetapi harapan kita setiap orang berpartisipasi menciptakan ulama dan ilmuan, baik dengan tenaga, pikiran, keahlian, atau harta kekayaannya. Dengan semangat gotong royang kita berharap akan terealisasikannya agenda besar tersebut. (CR/liptanislam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL