Oleh : Sofia Abdullah

“…dan bagi setiap kaum ada orang yang memberi petunjuk.” (QS Ar ra’ad: 7)

“Kami tidak mengutus seorang rasul pun melainkan dengan menggunakan bahasa kaumnya, supaya ia dapat
memberikan penjelasan yang terang pada mereka.” (QS Ibrahim: 4)

“Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (QS Al Hadid: 25)

Allah SWT mengutus nabi-nabi kepada setiap kaum, sehingga jumlah nabi sangat banyak sesuai dengan jumlah kaum saat itu. Dalam berbagai hadits mutawattir tentang jumlah nabi dan rasul, baik dari perawi Ahlussunnah maupun Ahlulbait, di antaranya diriwayatkan jumlah nabi semuanya 124.000 dan jumlah rasul 313 orang.

Mereka yang mengikuti ajaran nabi walaupun telah terjadi distorsi disebut ahlul kitab (golongan yang berpegang atau memiliki kitab). Dalam kisah sejarah Rasulullah SAWW, kita mengenal diantaranya 3 tokoh sahabat nabi yang Ahlulkitab yang berasal dari negeri diluar Jazirah Arab, mereka adalah Bilal bin Rabah, Abu Dzar al Ghiffari dan Salman al Farisi.

Bilal ibn Rabah adalah sahabat nabi yg berasal dari Habasyah, sekarang lokasinya sekitar wilayah Afrika. Sebelum dijual sebagai budak, di negerinya Afrika, Bilal berasal dari keluarga yang beragama tauhid dan seorang Ahlulkitab.

Kedatangan Bilal ke Mekkah adalah untuk bertemu Sang Nabi Terakhir, Muhammad SAWW, yang tertulis dalam kitabnya. Bilal datang ke Mekah pada masa awal Islam, namun dalam perjalanannya ke Mekah, beliau dirampok dan dijual sebagai budak, lalu dibeli oleh Umayyah bin Khalaf, seorang tokoh kaum musyrik di Mekah.

Ketika utusan Rasulullah mendatangi Umayyah untuk melakukan syiar Islam, Umayyah mencela dan menghardik utusan tersebut, bahkan memerintahkan Bilal untuk mencambuknya. Bilal menolak perintah tuannya karena ia menyimak perbincangan Umayyah dengan utusan Rasul itu sejak awal, dan ia memutuskan untuk menjadi muslim. Bilal mengetahui bahwa dengan menjadi muslim, ia akan terancam kematian, namun ia tetap bertahan dalam keimanannya karena inilah tujuan utama ia datang ke Mekah.

Bilal kemudian disiksa, namun siksaan tidak melunturkan imannya, bahkan bertambah kuat. Ketika berita penyiksaan ini sampai kepada Nabi Muhammad SAWW, beliau segera memberikan sejumlah uang dan memerintahkan Abu Bakar untuk membeli Bilal dari Umayyah. Setelah dibeli oleh Rasul, Bilal pun dimerdekakan. Sejak itu, Bilal tidak pernah berpisah dari Rasul hingga Rasul saw wafat pada tahun 632 M.

Kisah perjalanan Bilal ibn Rabah untuk menemukan Islam memiliki kesamaan dengan kisah Salman al Farisi yang datang ke Madinah untuk bertemu Nabi Muhammad SAWW karena memang berita tentang kedatangan Muhammad Rasulullah tertulis dalam kitab nabi terdahulu dengan jelas.

Salman al Farisi adalah putra seorang penguasa wilayah dari Persia. Ayahnya adalah seorang Majusi yang memiliki tempat peribadatan sendiri, seperti umumnya para pemimpin saat itu. Namun jiwa Salman selalu memberontak pada keyakinan keluarganya.

Suatu hari ketika kafilah dagang Nasrani mengunjungi daerahnya, beliau pun pun lari dari istana ayahnya dan membaktikan dirinya pada agama Nasrani. Ia pun diangkat anak oleh pendeta agung Nasrani saat itu. Saat itulah Salman al Farisi mempelajari kitab dan mengetahui tentang akan datangnya nabi terakhir bernama Ahmad, yang akan berhijrah ke Madinah.

Sebelum wafat, ayah angkat Salman itu berpesan kepada Salman untuk menyambut kedatangan nabi terakhir yang lahir di Mekah dan hijrah ke Madinah. Setelah ayah angkatnya meningga, Salman pun melaksanakan pesan itu dengan melakukan perjalanan ke Madinah.  Namun seperti Bilal, dalam perjalanan menuju Madinah, Salman dirampok dan dijual sebagai budak kepada keluarga Yahudi Madinah.  Kemudian, Rasul membebaskan Salman dari perbudakan dan sejak itu Salman menjadi sahabat setia Rasulullah SAWW.

Kisah sahabat Abu Dzar al Ghiffari pun demikian. Ia adalah seorang Ahlulkitab yang disegani dari Bani Ghiffar. Abu Dzar sengaja datang ke Mekah karena ingin bertemu sang nabi terakhir yang tertulis dalam kitabnya. Karena suku Ghiffar adalah suku yang ditakuti di tanah Arab, Abu Dzar tidak mengalami nasib seperti Bilal dan Salma. Ia tidak dijadikan budak dan ia dapat kembali ke kaumnya dengan selamat, lalu melakukan syiar Islam kepada suku-suku Arab yang lain.

Bilal ibn Rabah dari Habasyah-Afrika,  Salman al Farisi dari Persia, dan Abu Dzar al Ghiffari dari suku Ghiffar adalah kisah yang menunjukkan bahwa banyak orang yang berdatangan dari dalam dan luar jazirah Arab dengan tujuan bertemu Rasulullah yang namanya mereka dapati dalam kitab-kitab terdahulu. Bilal, Salman, dan Abu Dzar adalah sahabat nabi yang berasal dari kalangan Ahlulkitab.

Bagaimana dengan Indonesia? Jauh sebelum kelahiran Nabi Muhammad SAWW, Indonesia dikenal sebagai negeri yang mayoritas penduduknya beragama tauhid dan Ahlulkitab (memiliki kitab dari nabi terdahulu). Sebagaimana para Ahlulkitab yang lain, tentunya ada tokoh dari Indonesia yang juga ingin bertemu dengan Sang Nabi Terakhir, Muhammad saw.

Di antara kisah pertemuan antara penduduk Nusantara (yang waktu itu masih bernama Sunda) dengan Rasulullah adalah kisah pertemuan Rakeyan Sancang. Diceritakan bahwa ia bertemu langsung dengan Nabi Muhammad dan Imam Ali. Setelah masuk Islam, Rakeyan Sancang kembali ke Sunda dan melakukan syiar Islam. Rakeyan Sancang kembali lagi ke Madinah ketika Rasul wafat dan dalam Perang Shiffin, Rakeyan Sancang berada di barisan Imam Ali as.

Dari berbagai sumber yang saya pelajari, banyak sahabat yang berlatar belakang kisah seperti mereka. Bila diumpamakan, penantian para pemeluk Ahlulkitab pada saat itu menunggu kedatangan Rasul sama seperti umat masa kini yang sedang menanti kedatangan Imam Mahdi shohibuz zaman wa ajjil farrajahum, sang Ratu Adil.(LiputanIslam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*