Oleh: Sofia Abdullah*
Berdasarkan penelitian Pramoedya Ananta Toer dalam buku Biografi Kartini; ‘Panggil Aku Kartini Saja’, ia mengatakan diterbitkannya buku Doot Duisternis tot Licht (DDTL) di Belanda, salah satu penyebabnya terkait erat dengan persaingan pemerintah Kolonial Belanda dengan pemerintah kolonial Inggris yang berhasil ‘memakmurkan’ negara jajahannya, dengan mengangkat tokoh kesetaraan gender dari India, didikan pemerintah kolonial Inggris bernama Pandita Ramabai (1858-1922), yang berasal dari kasta Brahma yang akhirnya berpindah keyakinan menjadi pemeluk agama Kristen.

Pemerintah kolonial Inggris membantu Ramabai mendirikan sekolah-sekolah dan yayasan sosial untuk wanita dan anak-anak perempuan serta mengadakan penghimpunan dana sosial dan pendidikan menggunakan namanya; Ramabai Fonds.

Singkatnya untuk menyaingi ‘kebaikan’ pemerintah kolonial Inggris di tanah jajahannya, dan menyaingi popularitas Ramabai dan Ramabai Fonds serta memperlihatkan superioritas Belanda di tanah jajahannya, Belanda ingin menjadikan sosok Kartini sebagai ‘Ramabai’-nya pemerintah kolonial Belanda.

Namun fakta berkata lain, Kartini bukanlah ‘Ramabai’ atau sosok yang diinginkan Belanda untuk menunjukkan ‘kebaikannya’ sebagai pemerintah kolonial. Kartini adalah Kartini, sosok wanita muda yang kritis dan sangat peduli dengan bangsanya, terutama kaum wanita dan anak-anak.

Pada sisi kedua kehidupan Kartini, pemahamannya tentang agama Islam, sebagai agama leluhurnya pun banyak berubah, karena telah menemukan sosok guru-guru yang mumpuni yang selama ini dicarinya, beriringan dengan pemahaman akan negerinya, dan Politik kolonial yang terjadi pada bangsanya, pandangannya tentang Eropa, lingkungan dan agamanya banyak berubah dan mencapai puncaknya pada usia 20 tahun, pandangannya tentang Belanda dan Eropa menjadi terbalik, besar kemungkinan karena pengaruh ayahnya, Sosroningrat dan kakaknya, Sosrokartono, yang banyak berjuang lewat jalur diplomasi dan politik.

Perubahan sikap Kartini bisa di baca dalam surat-suratnya antara tahun 1901-hingga menjelang wafatnya 1904.

Kematian Kartini diusia muda telah meredam semua cita-cita mulianya yang telah ia rencanakan dengan suaminya yang ia pilih tanpa paksaan dan kesadaran penuh. Pada saat itu Kartini bukanlah siapa-siapa, dan sosoknya hanya dikenal oleh orang-orang terdekatnya dan mereka yang bersinggungan langsung dengan Kartini.

Pemerintah kolonial tentunya tidak mengira hal ini akan terjadi, sikap Kartini yang ‘berbalik’ arah bukan hanya membuktikan ‘kegagalan’ pemerintah kolonial untuk ‘mendidik’ Kartini menjadi ‘Ramabai’-nya Belanda namun juga sebagai pengakuan bahwa pemerintah kolonial Belanda tidak dapat memakmurkan tanah jajahannya dan ‘mendidik’ pribuminya agar mencintai Belanda dan negara Eropa sebagai bangsa superioritas.

Dari sinilah urgensitas membentuk tokoh wanita yang pro kolonial itu muncul dikalangan tokoh Politik etis Belanda, Belanda tidak mungkin menggunakan tokoh-tokoh wanita lain yang jelas-jelas menyerang kedudukannya sebagai pemerintah kolonial.

Satu-satunya cara untuk memenuhi urgensitas ini adalah dengan mengambil tokoh wanita sebagai pejuang kesetaraan gender yang didukung dan di danai oleh pemerintah kolonial, seperti yang terjadi pada Pandita Ramabai, dari sinilah awal mula diterbitkannya surat-surat Kartini oleh J. H Abendanon, yang surat-suratnya banyak mengalami proses pengeditan hingga sesuai apa yang dibutuhkan pemerintah kolonial pada saat itu.

Kartini Mati Dibunuh?

Wafatnya Kartini pada usia 25 tahun, 4 hari setelah kelahiran putranya RM Singgih Soesalit, memang bukan hal yang aneh, namun asumsi Kartini tewas dibunuh pun bermunculan karena 2 sebab :

  1. Proses kelahiran sangat sulit, hingga dokter Belanda yang membantunya menggunakan ‘alat bantu’ yang tidak di jelaskan apa yang dijadikan alat bantu tersebut, hingga proses kelahiran berhasil, namun Kartini mengalami pendarahan hebat, namun pendarahan ini pun berhasil dilalui, dan Kartini pun sehat kembali.
  2. Pada tanggal 17 September tepat hari ke empat pasca melahirkan, menurut penelitian dr Bouman, Kartini pun masih sehat, hingga sebelum pulang kerumahnya dr. Ravetijn memberikan obat untuk kesehatan Kartini, namun tidak lama kemudian Kartini mengalami Kram perut dan sekitar setengah jam setelah minum obat tersebut Kartini pun wafat. Dari sinilah asumsi dibunuhnya Kartini pun bermunculan, namun sayangnya tidak ada penelitian lebih lanjut tentang kasus ini.

Bila pun Kartini dibunuh, bukanlah satu hal yang aneh mengingat sosok Kartini adalah orang yang diharapkan oleh pemerintah kolonial dapat menjadi sosok seperti ‘Ramabai’ dan mengharumkan pemerintah Kolonial, yang terjadi justru berbalik, bukannya mengharumkan nama pemerintah kolonial seperti Ramabai mengharumkan nama inggris, Kartini justru menjadi pejuang yang menentang pemerintah kolonial melalui jalur pendidikan dan tulisan-tulisan

nya yang sudah mulai dimuat di majalah-majalah dan koran-koran yang terkenal saat itu.

Rencana-rencana Kartini bersama suami dan saudara-saudara perempuannya dianggap berbahaya bagi kelangsungan pemerintah kolonial, walaupun baru berencana, tapi dengan dukungan kuat dari pengaruh dan kedudukan suaminya tentunya dengan mudah cita-cita Kartini akan terlaksana. inilah menurut pandangan saya yang memperkuat asumsi dibunuhnya Kartini dengan cara di racun oleh dokter yang membantu proses kelahiran putranya RM Singgih Soesalit.

Kesimpulan

  1. Kartini memang bukan pahlawan seperti Cut Nyak Dien yang terjun kelapangan mengusung senjata bersama suaminya Teuku Umar atau pahlawan pendidikan dan diplomasi seperti Dewi Sartika dan Hajjah Rasuna Said, Kartini hanyalah sosok wanita bangsawan pada umumnya yang memiliki kemampuan untuk bersekolah dan melalui surat-suratnya dapat diketahui bahwa ia memiliki rasa empati dan kepedulian yang tinggi pada masyarakatnya terutama kaum wanita dan anak-anak sebagai generasi penerus negeri, dan tentu saja rasa peduli dan empati sangat tidak sebanding bila di sejajarkan dengan para pahlawan wanita yang lain yang turun langsung berjuang untuk memperbaiki nasib negeri ini dengan segenap tenaga dan kemampuan mereka dan semestinya hari Kartini di ubah menjadi Hari Pahlawan Wanita untuk mengenang jasa para pahlawan wanita bukan hanya Kartini saja.
  2. Seperti layaknya manusia yang terus belajar, Kartini pun akhirnya mendapat ilmu yang memberikan penjelasan padanya dari yang tidak mengerti apapun menjadi mengerti, hingga ia banyak menyebut kata-kata “dari kegelapan menuju cahaya” yang kemudian di terjemahkan menjadi “Dot Duisternis Tot Licht” yang menandakan dua sisi Kehidupan Kartini dalam pemahaman agama-nya dan negerinya yang pada awalnya tidak mengerti menjadi mengerti.
  3. Setelah membaca dan mempelajari sosok Kartini dari buku-buku referensi yang saya gunakan untuk menulis artikel ini, dan mempelajari sejarah penerbitan buku edisi Belanda-nya dan edisi melayu-nya semakin jelas adanya kepentingan Belanda yang turut di propagandakan untuk mempercepat dilaksanakannya politik Etis yang hasil akhirnya akan menguntungkan pemerintah kolonial juga, salah satu program politik etis adalah mempermudah beasiswa pendidikan tinggi ke Belanda dengan tujuan menciptakan generasi pribumi baru yang pro-pemerintah kolonial dan sekuler.
  4. Kepentingan Belanda untuk merendahkan Islam di mata pemeluknya, juga terlihat dalam surat-surat Kartini mengenai pandangannya tentang Islam pada masa kanak-kanak dan remaja, namun ketika Kartini akhirnya menemukan guru dan medapatkan penjelasan-penjelasan tentang Islam yang selama ini ia pertanyakan dengan detail pada awal suratnya, bagian surat Kartini yang berisi penjelasan tersebut seakan sengaja di hilangkan dan yang dikisahkan hanya proses perubahan pada diri Kartini setelah mengenal Islam lebih dalam melalui buku-buku berbahasa Arab pegon yang diberikan gurunya.
  5. Sosrokartono adalah sosok kakak yang paling dekat dengan Kartini, setelah sekolah di Belanda, Sosrokartono sering kali melakukan korespondensi dengan adiknya ini, namun anehnya dalam buku kumpulan suratnya tidak satupun surat dari Kartini yang ditujukan untuk kakaknya Sosrokartono. Ditambah lagi bila membaca isi surat Kartini yang dikatakan sebagai surat kepada tokoh-tokoh politik Belanda dan istrinya yang belum pernah ditemui oleh Kartini, karena surat-surat tersebut memperlihatkan hubungan yang sangat akrab dan sangat terbuka, akan lebih cocok bila surat itu ditujukan kepada seorang kakak dari adiknya.
  6. Melihat sepak terjang pemerintah kolonial Belanda dalam memalsukan bukti-bukti sejarah dari mulai buku hingga prasasti (lih. Postingan saya sebelumnya tentang pemalsuan sumber sejarah tertulis di Ind), besar kemungkinan buku ‘Dot Duisternis Tot Licht’ adalah memoar sosok Kartini yang ditulis oleh sang kakak yang jenius dan ahli bahasa Sosrokartono dalam bentuk roman epistolary atau novel epistolary yang memang sedang populer pada awal 1900-an, novel Epistolary adalah novel yang berbentuk surat menyurat atau kisah perjalanan.
  7. Sosok Sosrokartono yang tidak dikenal selama ini dan tidak pernah dipublikasikan dalam buku–buku sejarah menambah kecurigaan saya bahwa kumpulan surat Kartini yang kemudian di bukukan adalah karya R.M.P Sosrokartono sebagai memoar untuk mengenang sang adik, Kartini, yang kemudian di edit dan di cetak oleh J.H Abendanon.

Referensi

  1. Satu Abad Kartini 1879-1979 : bunga rampai karangan mengenai Kartini/koordinator, Ariestides Katoppo, cet.ke-4 Jakarta: Pustaka Sinar Harapan 1990
  2. Pramoedya Ananta Toer, Panggil Aku Kartini Saja, Jakarta: Lentera Dipantara 2003
  3. Pane, Amijn, Habis Gelap Terbitlah Terang, cet. Ke 23, Jakarta: Balai Pustaka 2006
  4. TEMPO, Gelap Terang Hidup Kartini, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) 2013
  5. https://en.wikipedia.org/wiki/Kartini
  6. https://en.wikipedia.org/wiki/Pandita_Ramabai
  7. https://en.wikipedia.org/wiki/Epistolary_novel
  8. https://mampirjepara.wordpress.com/tag/rmp-sosrokartono/ (liputanislam.com)

 

*Sofia Abdullah adalah peneliti sejarah independen, tinggal di Bandung, blognya: sofiaabdullah.wordpress.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL