Berikut ini adalah lanjutan dari artikel Mengapa Jihadi-Takfiri Mengancam Demokrasi Indonesia yang merupakan tanggapan untuk tulisan Ustadz Fuad al-Hazini (Majelis Syariah JAT)

 

NKRI Terancam oleh Jihadi-Takfiri

thoghutSeperti telah disebutkan bahwa salah satu ciri utama gerakan jihadi adalah sikap takfir (pengkafiran) terhadap orang-orang yang tidak sealiran yang dinilainya setengah-setengah dalam memeluk Islam. Bagi mereka, penguasa yang tidak menerapkan syariat Islam secara total (kaffah) boleh dijadikan sebagai target jihad yang sah. Konsekuensinya, masyarakat muslim dinilai memiliki kewajiban menggulingkan pemerintahan Indonesia melalui jihad dan kekerasan. Tidak mau melakukan jihad ini, dipandang sebagai bentuk dukungan terhadap negara Indonesia yang thaghut dan kafir, dan mendukung negara thaghut seperti Indonesia adalah bentuk kekafiran pula. Karenanya, mayoritas rakyat Indonesia terutama aparat pemerintahan disebut oleh gerakan jihadi ini sebagai Ansharut Thaghut (pendukung tirani kekafiran) sebagai lawan dari Ansharut Tauhid (pendukung ketauhidan).

Setelah menyebutkan gejala saling kafir mengkafirkan antara sesama gerakan jihadi, berikutnya Ustad Fuad menarik persoalannya kepada akar perdebatan antar gerakan jihadi yakni persoalan pengkafiran Negara Indonesia yang berlandaskan Pancasila. Dalam kasus ini, perdebatan di antara sesama kaum jihadi-takfiri ini berkisar pada tiga hal yaitu : 1. Tentang status Anshorut Thoghut : Apakah Kafir secara umum (Aam) atau per individu ( Mu’ayyan). 2. Masalah Demokrasi apakah masalah khofiyyah ataukah zhohiroh. 3. Masalah jihad fardy apakah sudah saatnya atau belum.

Gerakan jihadi di Indonesia baik yang soft seperti HTI maupun yang keras seperti JI, MMI, dan Jamaah Ansharut Tauhid (JAT), memiliki pandangan yang sama, bahwa Negara Indonesia adalah tidak islami, karena menerapkan sistem demokrasi Pancasila dan UUD 1945 buatan manusia daripada syariat Islam. Dengan demikian, Indonesia adalah negara kafir (negara thaghut) dan pendukungnya adalah ansharut thaghut yang juga kafir dan sah diperangi. Itulah makanya, pada poin pertama di atas, Ustadz Fuad mengindikasikan kekafiran Ansharut thaghut.

Perlu diketahui, yang dimaksud dengan Ansharut Thaghut (pendukung tirani kafir) oleh Ustadz Fuad adalah mayoritas penduduk Indonesia, baik ulama, cendekiawan, politikus, aparat keamanan, aparat pemerintahan dari yang tertinggi seperti Presiden hingga ketua RT, ataupun masyarakat awamnya, karena mendukung Negara Indonesia dalam bentuk demokrasi Pancasila dan menolak pendirian Negara Islam. Dan karena Indonesia adalah negara kafir, maka mendukungnya (ansharut thaghut) adalah juga bentuk kekafiran. Hal ini juga terlihat pada pernyataan Ustadz Fuad pada saat beliau membahas Solusi Alternatif dengan mengatakan :

“Lalu mengapa kita malah sibuk debat tanpa ujung pangkal padahal kita sudah sepakat tentang kekufuran Anshorut Thoghut dan wajibnya melakukan perlawanan?

Hal ini diperkuat oleh Aqidah dan Manhaj Jamaah Ansharut Tauhid (JAT) pada poin ke-23, sebagai berikut :

(23). Kami berkeyakinan bahwa suatu negara… apabila yang berlaku di sana bukan hukum Islam atau sengaja memberlakukan di dalamnya sebagian saja dari hukum Islam dan penguasanya kafir atau yang mengaku muslim (murtad), maka Negara tersebut adalah negara kafir. (lihat http://ansharuttauhid.com/read/jamaah/182/aqidah-dan-manhaj/#sthash.E6JwjPkr.dpuf)

Kemudian pada Aqidah dan Manhaj ke-31 dan 34 disebutkan bahwa mendukung nasionalisme, demokrasi, dan tidak menegakkan hukum Islam, adalah bentuk kekafiran, berikut pernyataanya :

(31). Kami meyakini bahwa ajaran Islam itu semua adalah kebenaran mutlak…ajaran yang menyelisihinya, antara lain sekulerisme, pluralisme dan liberalisme dalam berbagai bentuknya dan benderanya, serta macam-macam alirannya, seperti nasionalisme, komunisme, sosialisme dan demokrasi adalah kekafiran nyata yang bertentangan dengan Islam dan mengeluarkan penganutnya dari Islam.

(34). Kami berkeyakinan bahwa hukum Islam itu wajib dijadikan sebagai satu-satunya landasan hukum, dan barang siapa tidak memutuskan perkara dengan hukum Islam maka ia kafir, zhalim dan fasik. (lihat:http://ansharuttauhid.com/read/jamaah/182/aqidah-dan-manhaj/#sthash.E6JwjPkr.dpuf)

Jadi, Negara Indonesia adalah negara kafir dan semua yang mendukungnya baik aparat maupun masyarakat, pejabat maupun rakyat, ulama atau awam—semuanya menurut Ustadz Fuad dan disepakati oleh gerakan jihadi lainnya—adalah Ansharut Thagut dan kafir. Bedanya hanyalah persoalan penetapannya saja, apakah kekafiran itu diarahkan secara umum kepada ansharut thagut atau diarahkan pada setiap individunya? Menurut pendapat pertama, kafir secara umum, dan untuk menentukan individualnya perlu penyelidikan. Sedangkan bagi kelompok mu’ayyan, setiap individu dipastikan kekafirannya tanpa perlu penyelidikan. Tapi intinya mereka sepakat atas kekafirannya.

Ini bukanlah hal baru, sejak Khawarij muncul di masa klasik, dilanjutkan oleh Ibnu Taimiyah, hingga oleh pemikir modern seperti al-Mawdudi, Sayid Quthb, Abdus Salam Faragh, Abdullah Azzam, Osama bin Laden, Ayman al-Zawahiri, Kartosuwiryo, Abdullah Sungkar, hingga Abu Bakar Ba’asyir, pemikiran dan gerakan jihadi dielaborasi sedemikian rupa sehingga menghasilkan gerakan jihadi-takfiri radikal. Awalnya mereka mengkafirkan suatu sistem, misalnya demokrasi. Di sini, sistem Islam dibenturkan dengan sistem demokrasi. Karena demokrasi itu kafir, maka berubahlah menjadi Islam versus kafir. Berikutnya kekafiran harus diubah atau dimusnahkan, maka gerakan berlanjut untuk mengubahnya. Maka, tujuan gerakan jihadi-takfiri ini adalah untuk mengubah sistem yang tidak Islami menjadi sistem Islam di seluruh dunia. Dalam konteks Indoensia, karena sistem selain Islam adalah sistem kafir (thaghut), maka apapun negara yang bukan negara Islam adalah negara kafir. Karena Indonesia menerapkan sistem demokrasi Pancasila, maka Indonesia adalah negara kafir (thaghut).

Tidak hanya sampai di situ, bagi gerakan jihad, siapa saja yang tidak sejalan dengan mereka apapun agamanya adalah kafir. Karenanya jika ada tokoh, ulama, pemikir, atau umat Islam yang berbeda pendapat dengan mereka dan mendukung sistem demokrasi Pancasila, maka akan dinilai sesat, buruk, ahli bid’ah, bahkan dipandang pendukung thaghut (Ansharut Thaghut) yang dihukumi kafir. Keyakinan akan kekafirannya Negara Indonesia dan pendukungnya semakin diperkuat mereka dengan bukti adanya tindakan refresif, tekanan, penangkapan hingga pembunuhan terhadap aktivis jihadi. Oleh sebab itu, menurut mereka, Negara thagut Indonesia layak diperangi dan digulingkan melalui perjuangan Jihad untuk kemudian diganti dengan Negara Islam. (Nur el-Fikri/LiputanIslam.com)

 

Bersambung ke bagian ketiga. Baca bagian pertama di sini.

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL