al quranOleh: AM Ali Akbar

Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa setiap Nabi dan Rasul yang diutus oleh Allah Swt dibekali dengan mukjizat. Mukjizat dalam arti bahasa adalah “yang melemahkan” (mu’jiz). Mukjizat ini diberikan oleh Allah Swt kepada para utusan-Nya, bertujuan untuk memberikan bukti langsung di hadapan mata bagi siapa saja yang tidak mempan diberikan argumen verbal melalui akal dan nalar. Pada situasi itulah mukjizat diperlukan.

Kita saksikan bahwa Nabi dan Rasul terbanyak diutus oleh Allah Swt kepada Bani Israel. Bahkan Bani Israil didatangi oleh lebih dari 1 Nabi dan Rasul pada masa yang sama, sebagaimana masa ketika diutusnya Nabi Ismail, Ishaq dan Ya’qub, Musa, dan Harun serta Zakaria dan Isa alaihumussalam. Bani Israel pada zaman para Nabi sering menyaksikan mukjizat di hadapan mata kepala mereka.

Al Quran mengisahkan bagaimana Nabi Musa as yang dibesarkan di kerajaan Firaun padahal setiap bayi laki-laki yang lahir dibunuh sebelum dewasa. Tetapi Allah Swt melindungi Nabi-Nya d itempat paling berbahaya sekalipun. Kita juga saksikan bagaimana setelah dewasa Nabi Musa as dibekali tongkat yang mampu mengalahkan para tukang sihir, sekaligus menyadarkan mereka akan kekuasaan Allah SWT. Namun, kebanyakan umat bani Israel tak mau beriman.

AlQuran juga mengisahkan bagaimana Nabi Isa as diutus oleh Allah Swt dari seorang ibu yang suci yaitu Maryam as yang melahirkan Isa as tanpa ayah. Kita saksikan apa yang diucapkan dan dilakukan oleh umat Nabi Isa as? Mereka mengolok-olok dan menuduh secara keji Maryam as sebagai wanita keji dan pezina. Allah Swt akhirnya menampakkan Mukjizat-Nya. Nabi Isa as yang masih bayi dalam buaian tiba-tiba berbicara aku hamba Allah, aku diberikan Al Kitab oleh-Nya. Ketika dewasa, Nabi Isa mampu menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang buta. Namun Bani Israel tetap tak beriman.

Marilah kita telusuri jejak-jejak Nabi kita Muhammad Saw. Allah Swt hendak menyempurnakan ajaranNya dengan mengutus Rasulullah Muhamad saw sebagai kekasihNya yang dianugerahi Mukjizat berupa kitab suci teragung, Wahyu dan Kalam Nya untuk membimbing ummatnya disetiap tempat dan masa sampai akhir zaman. Mukjizat terbesar Nabi kita Muhammad Saaw adalah AlQuran. Nabi Muhammad Saaw disebut juga sebagai AlQuran yang berjalan (berbicara).

AlQuran diturunkan sebagai mukjizat Nabi terakhir karena ummatnya pada saat diutusnya Beliau Saaw sampai akhir zaman dapat dikatakan sebagai ummat yang telah mengenal dan cukup matang dalam berfikir dan mengenali perkataan yang merupakan jalan-jalan petunjuk. Bukankah kita saksikan bahwa dimasa Nabi Muhammad saaw sastra dan kata-kata dapat menjadi pedang tajam yang menggerakkan peperangan dan juga dapat meredam suatu pertumpahan darah? Sastra dan kefasihan dijunjung tinggi ketika itu. Pada saat itulah Allah Swt menurunkan AlQuran sebagai Mukjizat yang mengatasi seluruh kata dan sastra saat itu. Sehingga banyak masyarakat dan para ahli ketika itu menilai bahwa AlQuran bukanlah kalimat dan kata-kata manusia tetapi berasal dari Kekuatan yang Maha Agung.

Di sinilah kita tahu bahwa mukjizat selalu diturunkan relevan dengan zamannya. Zaman Firaun sihir sangat dipuja dan masyarakat takluk dengannya oleh karena itu Musa as diberikan tongkat untuk mengatasinya. Di zaman Isa as ilmu pengobatan menjadi sesuatu yang paling hebat dan berharga. Sehingga Isa as diberikan kemampuan menyembuhkan orang lepra, buta dan bahkan menghidupkan orang mati dengan izin Nya.

Tetapi apatah hendak dikata sejarah ummat manusia selalu berulang, hingga banyak pengalaman umat terdahulu diabadikan dalam al Quran untuk mengingatkan kita. Apakah kita ummat Muhammad Saw mengulangi perilaku dan tindakan Bani Israil dalam menghadapai petunjuk dan hidayah dari Allah Swt. Tidakkah dapat kita simpulkan bahwa kisa-kisah Bani Israil dalam AlQuran diwahyukan untuk kita dan untuk pelajaran berharga bagi kita juga? Bukankah pesan-pesan bagi Bani Israil untuk menaati Tuhan, utusan dan kitab suciNya juga berlaku bagi kita? Tetapi kita saksikan dan jumpai cukup banyak ayat suci-Nya yang merupakan mukjizat di hadapan kita tetapi kita langgar secara nyata dalam kehidupan kita?

Marilah kita urai sedikit pelanggaran-pelanggaran dan penentangan nyata yang mungkin kita lakukan terhadap mukjizat Nabi kita Muhammad Saw:

1. Orang-orang beriman itu sesungguhnya ber- saudara. Sebab itu, damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurât [49]: 10)

Sudahkah kita mempraktekkan ayat ini atau justru kita menentangnya dengan menciptakan permusuhan bahkan tuduhan dan kebencian kepada sesama?

2. “Dan berpeganglah kamu semuanya dengan tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mem- persatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang ber- saudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu men- dapat petunjuk.” (QS. Âli ‘Imrân [3]: 103)

Kaum muslimin kita saksikan saat ini bercerai berai dan telah menyia-nyiakan nikmat Allah Swt berupa hidayah Islam dan rasa persaudaraan yang Allah Swt anuegarahkan, tapi justru sebagian dari kita memutuskan persaudaraan di antara kaum muslimin dengan mengklaim saudara-saudaranya tersesat, bahkan kafir. Akankah kita kembali ke masa jahiliah dulu?

3. “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS. Al-Nahl [16]: 125)

Seruan pada kebaikan dan jalan Allah Swt kepada non muslim saja diperintahkan untuk dilakukan secara baik dan santun. Tapi apa yang kita saksikan, terdapat sebagian dari dalam tubuh kaum muslimin yang dengan kasar dan keji melempar tuduhan, fitnah dan bahkan tindakan yang jauh sekali dari ajaran Islam dan wahyu. Kita saksikan sebagian yang mengaku Islam dengan enteng mengkafirkan bahkan merenggut nyawa muslimin lainnya hanya karena perbedaan pemahaman yang seolah-olah mereka sebagai yang punya otoritas penafsiran wahyu sementara yang lainnya dipaksa untuk mempercayai dan menggunakan tafsirnya, yang bahkan para Nabi sebagai utusan Nya tidak pernah melakukan hal tersebut dan jauh dari perilaku dan tindakan serta petunjuk mereka?

Marilah kembali pada al Quran. (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL