lailatul qadarDalam QS Al Qadr:1, Allah berfirman, yang artinya, “Kami telah menurunkannya [Al Quran] pada Lailatulqadar [malam kemuliaan].

Sulaiman Marwazi bertanya kepada Imam Ridha as mengenai apa itu Lailatul Qadar. Imam Ridha (Imam keturunan Rasulullah SAW)  menjawab, “Wahai Sulaiman, pada malam Lailatul Qadar, Allah menetapkan apa yang akan terjadi pada tahun itu hingga tahun berikutnya, berupa hidup atau mati, baik atau buruk, atau rezeki. Apa yang ditetapkan Allah pada malam itu tergolong hal-hal yang pasti terjadi (mahtum).”

Hal ini mungkin akan memunculkan pertanyaan dalam diri kita, bila kehidupan di dunia ini sudah ‘ditetapkan’, untuk apa manusia berupaya dan berikhtiar? Tidakkah ini menunjukkan adanya ajaran fatalistik, atau manusia hanya bisa diam dan pasrah saja dalam hidup?

Muhammad Taqi Mudarrisi, ulama terkemuka di Iran, menulis bahwa Islam adalah ajaran yang moderat, atau berada di tengah-tengah. Dalam pandangan Islam, manusia bukanlah makhluk yang pasif dan tidak mampu melakukan apapun bagi dirinya. Justru sebaliknya, manusia punya daya upaya untuk memilih dan menetapkan apa yang baik bagi dirinya. Bukankah kita makan atau minum, sholat, bekerja, adalah keputusan kita? Kita bisa saja memutuskan untuk tidak makan, tidak minum, tidak sholat, dan tidak bekerja.

Namun di sisi lain, kekuasaan manusia sebagai makhluk adalah kekuasaan yang terbatas. Ia bisa saja memutuskan untuk pergi bekerja, namun bila tiba-tiba saja terjadi hujan yang sangat lebat dan banjir besar, tak ada pilihan lain baginya, ia terpaksa tinggal di rumah hingga hujan dan banjir surut. Atau, tiba-tiba saja nyawanya diambil Tuhan. Semua ini adalah wilayah kehendak dan kekuasaan Allah, manusia tidak punya kekuasaan untuk melawannya.

Di sini artinya, manusia berada di ‘tengah-tengah’. Sampai batas-batas tertentu, nasibnya ada di tangannya sendiri, namun ada faktor kekuasaan dan kasih sayang Allah yang menggenapkan garis nasib itu. Misalnya, seseorang atas pilihannya sendiri untuk berbuat baik atau berbuat jahat. Namun, kelak di akhirat, Allah-lah yang berkuasa memasukkannya ke surga atau neraka. Karena Allah Mahaadil, Dia pasti akan memasukkan orang baik ke surga, sesuai janji-Nya dalam Al Quran. Sehingga, apakah kita mau masuk surga atau neraka, adalah keputusan manusia sendiri. Bila ia ingin masuk surga, selama hidupnya di dunia, ia melakukan kebaikan sebanyak-banyaknya, sambil terus berharap rahmat dan kasih sayang Allah, agar kelak Dia membalasnya dengan surga.

Lalu, bagaimana dengan Lailatul Qodar? Bila pada malam itu ditetapkan segala urusan, bukankah itu artinya manusia tidak punya pilihan atau ikhtiar?

Allamah Taqi Mudarrisi menjawab sebagai berikut.

  1. Takdir atau ketetapan yang ditetapkan pada malam itu tidak menyentuh seluruh aspek kehidupan, tetap ada aspek ikhtiar manusia. Misalnya, ditetapkan si Fulan sakit. Nah, menyikapi sakit ini, si Fulan punya pilihan, apakah ia bersabar atau putus asa? Bila ia bersabar, sudah pasti balasannya adalah rahmat Allah (ada hadis bahwa sabar menghadapi penyakit akan menggugurkan dosa-dosa di masa lalu). Dan sebaliknya, bila ia berputus asa dari rahmat Allah, ia akan mendapat kemurkaan-Nya.
  2. Sesungguhnya Allah menetapkan sesuatu untuk hamba-Nya sesuai dengan kebijaksanaan-Nya yang tinggi. Karena itu, ketetapan-Nya akan bersesuaian dengan kondisi si hamba. Ketetapan-Nya untuk hamba yang shaleh jelas berbeda dengan ketetapan-Nya untuk manusia yang zalim.
  3. Pada dasarnya, apapun yang terjadi pada diri manusia sebenarnya adalah akibat perbuatan manusia. Misalnya, seseorang jatuh sakit, sangat mungkin di masa lalu pola makanannya tidak sehat atau lingkungan yang tidak sehat (banyak polusi udara). Allah berfirman, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan manusia” (QS Ar-Rum:41). (LiputanIslam.com)

Sumber: Buku Lailatulkadar, Allamah Muhammad Taqi Mudarrisi, penerbit: Citra

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL