Oleh: Dewi Yulia

Dalam  QS At-Taubah ayat 100-103 disebutkan bahwa ke-Islam-an manusia itu ada tiga golongan.  Yang pertama adalah orang-orang yang terdahulu masuk Islam (yaitu kaum Muhajirin dan orang-orang yang mengikuti jejak mereka. Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya (QS At-Taubah:100).

Kaum Muhajirin dan Anshar sedemikian dipuji Allah karena keteguhan mereka dalam memeluk Islam. Kaum Muhajirin adalah orang-orang Mekah yang telah memeluk Islam, lalu diperintahkan oleh Nabi untuk berhijrah ke Madinah. Sementara kaum Anshar  adalah kaum Muslim di Madinah yang rela memberikan tempat tinggal, makanan, dan berbagai pelayanan lainnya kepada kaum Muhajirin. Berdasarkan ayat ini bisa kita simpulkan bahwa golongan Islam yang paling tinggi kualitasnya adalah mereka yang berlomba-lomba dalam perbuatan baik,  berani berhijrah demi mempertahankan keimanan, serta rela menolong agama Allah.

Selanjutnya, di ayat ke-101, Allah berfirman mengenai orang-orang munafik dan ancaman azab bagi mereka. Dengan kata lain, di antara kaum Muslimin di Madinah terdapat orang-orang yang mengaku beriman kepada Allah dan berpenampilan Mukmin, namun sesungguhnya di hati mereka sama sekali tidak ada keimanan. Nabi Muhammad pun tidak bisa mengenali siapa mereka, karena hanya Allah-lah yang mengetahui isi batin manusia.  Namun pemberitahuan dari Allah dalam ayat ke-101 ini merupakan peringatan agar kaum Muslimin berhati-hati karena di antara mereka ada orang-orang munafik yang akan menghancurkan Islam dari dalam.

Dalam ayat ke-102, dijelaskan kelompok ketiga, yaitu orang-orang yang beriman, namun kemudian tergiur gemerlap dunia sehingga membangkang pada Allah. Namun kemudian sebagian dari mereka bertaubat dan Allah menerima taubat mereka. Dan di ayat ke-103, Allah memerintahkan kepada mereka agar berzakat untuk mensucikan diri mereka.

Lalu, apa sikap yang harus kita ambil dalam menyikapi ketiga kelompok ini? Tentu saja, kita harus bersikap proporsional. Jangan sampai kita menilai orang lain hanya didasarkan pada perilaku lahiriah semata. Belum tentu orang yang penampilannya sangat relijius adalah sosok yang sebenar-benar saleh. Sebaliknya, belum tentu  pula orang yang seolah tidak paham agama dan perilakunya buruk,  akan selamanya demikian. Sangat mungkin esok atau lusa dia bertaubat dan taubatnya diterima Allah, dan dia menjadi orang yang beruntung.

Yang terpenting sebenarnya adalah kita menilai ke-Islam-an kita sendiri, bukan ke-Islam-an orang lain. Kita pun, kalau dipandang oleh orang yang maqam-nya lebih tinggi (orang-orang Islam golongan pertama), apalagi oleh Rasulullah SAW, tentu akan terlihat betapa rendahnya kualitas kita. Betapa sering kita melakukan kesalahan, dan kemudian memohon ampun kepada Allah. Wallahu a’lam, apakah kita sudah diampuni atau belum. Kita harus selalu dalam keadaan takut atau khawatir dalam hal ini; khawatir Allah tidak menerima amal dan tidak mengampuni kita. Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim, disebutkan bahwa sesungguhnya seorang mukmin memandang dosa-dosanya seakan-akan ia sedang duduk di bawah gunung dan ia takut gunung tersebut jatuh menimpanya. Dan seorang fajir (pendosa) memandang dosa-dosanya seperti seekor lalat yang lewat di hidungnya (meremehkannya).

Namun di saat yang sama, orang-orang yang beriman akan tenteram hatinya dengan mengingat Allah (QS Ar-Ra’d:28). Artinya, seorang mukmin memang selalu berada di antara kedua posisi ini, yaitu tenang saat mengingat Allah, namun di saat yang sama, selalu khawatir bahwa dirinya tidak mematuhi aturan-Nya.  Karena itulah ia selalu memohon ampun kepada-Nya.
Karena itu jangan sok merasa paling Islam dan paling benar. Dalam introspeksi diri, kita jangan hanya melihat sisi positif pada diri kita, melainkan kita juga berusaha mengoreksi sisi negatif dan kesalahan yang telah kita perbuat.  Dalam bergaul dengan sesama Muslim, Allah SWT sudah memberikan aturannya, sebagaimana tercantum dalam QS Al Hujarat ayat 10-12. Pertama, orang-orang muslim itu adalah bersaudara, karena itu hendaknya kita selalu berbaik sangka kepada saudara-saudara kita dan selalu berusaha berbuat baik kepada mereka. Kedua, kita tidak boleh menghina dan menjelek-jelekan orang lain, karena boleh jadi orang yang dihina itu lebih baik daripada diri kita. (LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL