konferensi-tasawuf-ugm-sadra1LiputanIslam.com–Pekan lalu (18/11), Sekolah Tinggi Filsafat Islam (STFI) Sadra, bekerja sama dengan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada (UGM), baru saja menggelar konferensi pertama berskala internasional tentang tasawuf atau mistisisme Islam dengan tema International Conference on Sufism (ICS): Building Love and Peace for Indonesian Society (Rahmatan lil Alamiin). Kehadiran berbagai lapisan masyarakat merupakan indikasi adanya perhatian luas dan harapan merata terhadap posisi dan peran tasawuf sekarang ini. Ini dapat dimengerti mengingat tasawuf, sebagai salah satu kecenderungan yang paling tua, masih tetap segar dan aktual lantaran berbasis pada cinta dan keintiman.

Seperti dimetaforkan oleh Direktur Pendidikan Tinggi Islam, Prof. Dr. Amsal Bakhtiar, cinta dan rahmat ilahi itu tidak pandang bulu, harus bisa dinikmati oleh orang muslim juga orang kafir. Rahmat Islam tak ubahnya degan udara; walaupun tidak berharga dan bukan barang yang sah dijualbelikan, tetapi bernilai sangat vital bagi kelangsungan hidup setiap orang. Udara diperoleh gratis oleh semua orang. Rahmat dan kasih sayang Islam laksana sinar matahari yang dibutuhkan semua manusia untuk melihat, bekerja, mengatur hidup tanpa biaya dan resiko.

Sejauh yang tampak dari tema konferensi, ada kesadaran dari lingkungan perguruan tinggi negeri dan swasta mengenai peran dan kekayaan potensi tasawuf dalam membangun bangsa yang memanifestasikan rahmatan lil alamin, rahmat untuk seluruh umat manusia, melalui cinta dan perdamaian. Keterlibatan para ahli tariqat dan kaum sufi di tengah para pakar akademisi meneguhkan sinergitas dan integrasi dua arus pendekatan: teoretis dan praktis, ilmi dan amali, dalam upaya bersama meninjau peradaban agung Islam dari cermin tasawuf dan memanfaatkan kandungan dan kapasitasnya untuk membangun cita-cita dan masa depan bangsa di era yang kian kompleks dan penuh tantangan.

Oleh karena itu, seperti ditegaskan oleh Amsal, penyelenggaraan konferensi ini sangat penting dan urgen, terutama dalam situasi yang sedang dihadapi olah bangsa dan negara kita. Nilai-nilai kemanusiaan perlu dijaga dan ditanamkan agar tidak terbangun tradisi kebencian dan saling membenci. Melalui tasawuf dan kaum sufi, kita berharap realistis agar nilai-nilai keutamaan dan kemanusiaan kian kokoh di masyarakat kita dengan ajaran cinta sufistik. Ajaran tasawuf juga sangat kontekstual dalam dinamika dan semangat bernegara kita sekarang ini. Dengan tradisi sufi, kita dapat mengembangkan nilai dan muatan tasawuf untuk membentuk karakter-karakter bangsa untuk kemudian kita tanamkan ke dalam jiwa anak-anak didik. Dengan cara inilah kita menguatkan revolusi mental.

Dalam sejarah Indonesia, tasawuf sudah tidak asing lagi; sebegitu pentingnya sehingga, dapat dikatakan, sebagai salah satu elemen yang, apabila diabaikan apalagi dinegasikan, justru gugusan sejarah bangsa ini kehilangan mata rantai yang mencerai-beraikan rangkaian menjadi serpihan-serpihan yang sulit dirajut kembali dalam nalar sejarah bangsa ini secara utuh. Sejak awal kali jejak agama ini membekas di tanah air, Islam sudah dikenalkan dengan lapisan-lapisan ajaran tasawuf oleh ulama-ulama yang membawa semangat sufistik. Seiring dengan kontribusi tradisi lain, tasawuf melengkapi khazanah eksoteris Islam dalam membangun dan mengembangkan peradaban dan kebudayaan Nusantara. Sejarah perjuangan kemerdekaan bangsa kita juga dibanggakan dengan keterlibatan langsung para pahlawan yang menyimpan kecenderungan tasawuf. Di tanah air, tasawuf tidak hanya dijumpai di ruang-ruang privat dan kelas-kelas eksklusif, tetapi juga kontribusinya mengalir dalam ruang publik dan interaksi sosial.

Sebagai tradisi yang berkonsentrasi pada aspek esoterik dan lapisan batin realitas, tasawuf tak ubahnya air laut yang akan mengambil bentuk lahiriah berupa gelombang-gelombang ombak. Bentuk-bentuk lahiriah dan eksoterik berbagai gelombang ombak tidak merusak hakikat mereka sebagai air laut. Karena itu, tidak sepenuhnya keliru bila kita mengulang keyakinan para sufi bahwa tasawuf merupakan kesatuan yang mempersatukan keragaman. Pada titik inilah tasawuf menemukan posisinya dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika, yakni berkapasitas menjadi elemen perekat dan meneguhkan ketunggalan dalam jejaring kebhinnekaan bangsa ini.

Setapak dengan metafora air laut, cinta kaum sufi tidak sepatutnya diaku secara eksklusif, tetapi juga bagaimana hakikat esoterik ini dapat diakses dan dialami oleh kebanyakan orang. Oleh karena itu, setiap orang bukan hanya berpotensi menikmati hakikat cinta sufi, tetapi juga benar-benar mengalaminya dalam kesadaran personal dan sosial. Sebagaimana dalam pembacaan hasil-hasil konferensi di penutupan, setidaknya pada beberapa poin-poin berikut:

Pertama, cinta pada kesempurnaan absolut dan keindahan tertinggi. Pada titik inilah kita akan mengalami Realitas Tertinggi, yakni Tuhan Yang Maha Esa.

Kedua, cinta makhluk Tuhan. Dalam ajaran tasawuf didoktrinkan bahwa cinta sesuatu akan berdampak pada mencintai kesan-kesannya. Manusia adalah kesan terindah Tuhan. Maka, mencintai masyarakat manusia merupakan akumulasi lipatan cinta akan kesan-kesan Tuhan. Sebaliknya, pola pikir dan sikap yang merusak cinta manusia bukan hanya telah merusak keadilan dalam mencintai Tuhan dan makhluk, tetapi menciptakan ketimpangan dan kepincangan dalam cinta. Maka, dalam mencintai Tuhan terdapat adab dan hukum; cinta Tuhan tanpa cinta makhluk sama tidak adilnya dengan cinta makhluk tanpa cinta Tuhan. Di sinilah tampak menonjol keadilan dalam kemanusiaan sebagai adab dan hukum dalam mencintai Tuhan.

Ketiga, pada puncak pengalaman sufi, cinta tertinggi adalah peleburan diri dengan Tuhan dan, tentu saja, cinta tertinggi itu termanifestasi secara konkret dalam keinginan bersatu dengan kesan-kesannya. Oleh karena itu, cinta cenderung kepada persatuan dan penyatuan diri bukan hanya dengan Tuhan, tetapi juga dengan manusia, dengan alam, dengan lingkungan, dengan tumpah darah dan tanah airnya sendiri.

Keempat, cinta pada selain Tuhan tidak semata-mata membina hubungan emosional, tetapi juga terlibat aktif di tengah masyarakat untuk memastikan fungsi dan peran sufi di perjalanan ruhani terakhir, yakni perjalanan keempat, sebagai agen penyempurna (al-mukammil) berdasarkan nilai-nilai kebenaran Ilahi dan kemaslahatan insani. Pada titik inilah kita menyadari tawasuf sebagai unsur kemasyarakatan yang berbasis di atas kebijaksanaan.

Kelima, sebagaimana harus dipastikan keadilan dalam mencintai Tuhan dan makhluk-Nya, dalam mencintai antar-makhluk-Nya juga seseorang didorong oleh tasawuf untuk bersikap adil sepanjang pelaksanaan misi penyempurnaan masyarakat. Dengan kecintaan pada nilai keadilan, peran penyempurna sosial terlaksana secara bahkan lebih merata daripada nilai kedermawanan.

Lima poin ini adalah tidak lain dari butir-butir Pancasila. Tasawuf dapat dipastikan sebagai satu komponen penguat nilai-nilai asas kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Pengamalan butir-butir Pancasila berbanding langsung dengan membina diri dalam arus tasawuf. Demikian sebaliknya, pengalaman bertasawuf akan berdampak positif pada pengamalan Pancasila. Tidak hanya kalangan sufi, semua orang pasti mencintai nilai ketuhanan, keadilan, keberadaban, persatuan, kebenaran, kebijaksanaan dan kemaslahatan.

Pada konteks hubungan tasawuf dan Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara inilah, berbagai elemen dan unsur masyarakat Indonesia perlu juga didorong untuk bersama-sama kaum sufi dan pecinta tasawuf menggali lebih dalam lagi khazanah tradisi Islam ini dan memperkaya pemahaman serta kesadaran kita sehingga dapat dimanfaatkan untuk mengatasi persoalan, melampaui tantangan dan mendorong kemajuan bangsa dan negara.

Konferensi ini, setidaknya, menjadi motivasi untuk menguatkan kesadaran akan arti penting dan kapasitas tasawuf yang melengkapi potensi lainnya dalam pembangunan negeri kita dan tatanan dunia yang beradab dan berperikemanusian. Prakarsa ini tampak berhasil menggugah kesadaran masyarakat dan menciptakan opini publik terhadap peran penting tasawuf. Sebagai yang pertama, penyelenggara seolah sejak awal sudah memberi janji akan kembali menggelar secara konsisten dengan fokus-fokus yang relevan dan proporsional.[afh]

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL