nasaruddin-umar1Pada hari Jum’at, 22 Januari 2016, Menteri Agama RI Lukman Hakim Saifuddin melantik Prof. KH. Nasaruddin Umar sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal masa bakti 2015 – 2020. Dalam seremonial pengukuhan dilaksanakan di Kantor Kementerian Agama, Jl. Thamrin, Menag mengatakan, “Saya percaya bahwa Saudara [Prof Nasaruddin Umar] akan mampu melaksanakan tugas dan pengabdian sebaik-baiknya serta amanah, guna mengembangkan, membangun, memakmurkan Masjid Istiqlal demi bangsa dan negara.

Penunjukan Nasaruddin sebagai Imam Besar Istiqlal sepertinya sangat berkaitan dengan harapan Menag terhadap masjid Istiqlal, yaitu menjadi benteng umat Islam dari pengaruh budaya asing yang bertentangan dengan agama dan ideologi bangsa.

“Masjid ini harus dapat berperan sebagai pusat pembinaan umat dan generasi muda dengan nilai-nilai Islam dan dakwah secara komprehensif. …Atmosfir masjid sebagai pusat ibadah dan kebudayaan Islam dalam memancarkan tauhid, ukhuwah dan kemajuan, kedamaian, keadaban serta rahmatan lil alamin,” tegas Menag.

Nasaruddin sendiri menyampaikan visi-misinya, antara lain pertama, Masjid Istiqlal harus tetap menyimbolkan negara dengan ciri keislaman moderat, bercorak rahmatan lil alamin. Kedua, Masjid Istiqlal dinilainya harus menjadi lambang persatuan dan kesatuan umat Islam, dan sebagai simbol pemersatu umat Islam dari berbagai mahzab. Ketiga, Masjid Istiqlal harus menjadi simbol toleransi antarumat beragama. Hal ini karena ada rumah ibadah agama lain di dekatnya. Dan keempat, Masjid Istiqlal perlu menjadi paru-paru spiritual Indonesia.

Profil KH Nasaruddin Umar

Prof. Dr. H. Nasaruddin Umar MA lahir di Ujung-Bone (Sulawesi Selatan) pada tanggal 23 Juni 1959 dari ayah bernama Andi Muhammad Umar dan ibu bernama Andi Bunga Tungke. Nasaruddin menikah dengan Dra. Helmi Halimatul Udhma dan memiliki 3 anak yang bernama Andi Nizar Nasaruddin Umar, Andi Rizal Nasaruddin Umar, dan Cantik Najda Nasaruddin Umar.

Pendidikan dasarnya dilalui di SD Negeri di Ujung-Bone, lalu dilanjutkan di Madrasah Ibtida’iyah di Pesantren As’adiyah Sengkang. Kemudian, masih di pesantren yang sama, ia melanjutkan pendidikan guru agama (PGA). Gelar sarjana diraihnya dari Fakultas Syari’ah IAIN Alauddin Ujung Pandang pada tahun1984. Kemudian, ia melanjutkan ke program S2 dan S3 di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Ia menjadi alumni terbaik S3 IAIN Syarif Hidayatullah tahun 1998 dengan disertasi berjudul“Perspektif Jender Dalam al-Qur’an”.

Nasaruddin pernah mengenyam pendidikan di berbagai negara, antara lain menjadi Visiting Student di Mc Gill University Canada (1993-1994), Visiting Student di Leiden University Belanda (1994-1995), mengikuti Sandwich Program di Paris University Perancis (1995), serta pernah melakukan penelitian kepustakaan di beberapa perguruan tinggi di Kanada, Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Belanda, Belgia, Italia, Ankara, Istanbul, Srilanka, Korea Selatan, Saudi Arabia, Mesir, Abu Dhabi, Yordania, Palestina, dan Singapore, Kualalumpur, dan Manila. Pada tahun 2002, ia dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Tafsir pada Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

KH Nasaruddin pernah menjabat berbagai posisi penting, antara lain Wakil Rektor UIN Jakarta, Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama, dan Wakil Menteri Agama. Dia saat ini juga menjabat sebagai Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Selain mengajar di Fakultas Ushuluddin dan beberapa perguruan tinggi lain, Nasaruddin merupakan penulis produktif. Ia rajin menulis artikel media masa, artikel jurnal, dan buku-buku. Di antaranya, berjudul Tasawuf, Gender dan Deradikalisasi Tafsir Agama, Ketika Fiqih Membela Perempuan, dan Tasawuf Modern.

 

Ulama yang Menyejukkan Umat

KH Nasaruddin dikenal sebagai ulama yang giat menyerukan ukhuwah. Beliau juga dengan terus-terang mengkritik kelompok-kelompok radikal dan takfiri melalui pernyataan maupun tulisannya. Misalnya, dalam artikel opini yang dimuat di koran Kompas (1/8/2015), KH Nasaruddin menulis bawah dalam era reformasi saat ini, semua teologi, aliran, dan mazhab bebas untuk hidup di republik ini. Namun perlu diwaspadai agar teologi radikal yang mengancam NKRI tidak berkembang, karena “Tidak mustahil muncul larangan tidak boleh berhormat kepada Bendera Merah Putih, tidak boleh lagi memperingati Hari Kemerdekaan RI, dan tidak boleh ziarah ke makam pahlawan karena dianggap bidah. Tidak boleh menyanyikan lagu kebangsaan dan lagu wajib lainnya, tidak boleh memasang simbol Garuda dan foto pemimpin di ruangan kantor karena dianggap musyrik. Seperti apa wajah NKRI tanpa Aswajah?” tulis Nasaruddin.

 

KH Nasaruddin sangat menekankan pentingnya persatuan umat. (baca: Kunjungan Mantan Wamenag ke Iran Patut Direnungkan). Sebagai Mustasyar PBNU, beliau menegaskan bahwa NU lebih menekankan aspek titik temu, bukan aspek perbedaan. “PBNU merupakan “tempat berteduh” kelompok minoritas karena bagi NU hampir tidak pernah dijumpai kosakata “orang lain”. NU dapat membuktikan universalitas Islam dapat diterapkan tanpa harus menyingkirkan budaya lokal. NU memiliki wawasan multikultural, dalam arti kebijakan sosialnya bukan melindungi tradisi atau budaya setempat, melainkan mengakui manifestasi tradisi dan budaya setempat yang memiliki hak hidup di republik tercinta ini,” demikian tulis KH Nasaruddin Umar. (LiputanIslam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL