Masjid Sahla, Kufah

Masjid Sahla, Kufah

Kufah adalah sebuah kota di Irak, sejauh 170 ke arah selatan dari ibu kota Baghdad. Bila Roma dibangun oleh Romulus dan Makah al Mukaramah dibangun kembali oleh Qushay, maka Kufah dibangun oleh Khalifah Umar bin Khattab. Beliau membangunnya pada tahun 17 H (638) M di tepi timur sungai Hindiyeh, cabang sungai Eufrat, Irak. Kota ini dibangun sebagai markas siaga prajurit (muqaatilah) setelah memenagkan pertempuran melawab pasukan persia di Al Qiddisyah tahun 15H (636 M). Dan pertempuran di Al Jalula 16 H (637 M).

Khalifah Umar menugaskan Saad bin Abi Waqqash dalam membangun kota itu. Saad pun menempatkan sekitar 20.000 sampai 30.000 prajurit dari berbagai klan Arab. Antara lain, klan Hamdan, Madzhij, Thayy, Kindah, Hadhramaut, Qudha’ah, Madhar, Bajilah, Khats’am, Quraisy, Khazaj, dll. Mereka ditempatkan menurut klan masing-masing untuk menghindari konflik etnik. Klan Quraisy memiliki kedudukan khusus karena kedekatan mereka dengan penguasa.

Seperti dikutip di buku “Darah dan Air Mata” (O. Hashem) Khalifah Umar sangat membanggakan kota barunya ini. Bila ia mengirim surat kepada penduduk Kufah, ia menggunakan kata-kata, “Kepada Kepala Bangsa Arab”. Di bagian lain: “Kepada Kepala Agama Islam”, atau “Di Kufah terdapt wajah manusia.” “penduduk Kufah adalah tombak Allah, harta karun iman, otak bangsa Arab, pengawal tanpa batas, penakluk kota-kota.”

Memang kala itu Kufah pantas dibanggakan. Di dalamnya hidup rukun suku-suku yang selama ribuan tahun hidup saling berperang, bahkan hanya demi segenggam gandum. Namun, sejarah kemudian mencatat, di kota Kufahlah Khalifah ke-4 Imam Ali bin Abi Thalib dibunuh saat menunaikan sholat Subuh.

Sejarah juga mencatat, para warga kota Kufah kemudian melakukan pengkhianatan luar biasa kepada cucu Nabi Muhammad SAW, Husain bin Ali bin Abi Thalib. Saat itu warga Kufah berubah menjadi mesin pembunuh yang membantai para putera Nabi untuk sekedar mencopot baju dari mayat-mayat mereka dan menjinjing kepala-kepala mereka yang telah mereka tebas, untuk sekedar ditukarkan dengan hadiah pada penguasa yang memerintah mereka, serta sekedar merampas perhiasan putri-putri Nabi mereka, Rasulullah SAW.

Tragedi itu berawal dari surat warga Kufah kepada Imam Husain. Warga kota itu yang tidak tahan lagi menanggung penderitaan karena pemerintahan Yazid yang sewenang-wenang, meminta Imam Husain untuk memimpin pemberontakan. Isi suratnya sebagai berikut.

Bismillahir Rahmanir Rahim…

Kepada Al-Husain bin Ali Amiul Mukminin a.s. dari para pengikutnya dan pengikut ayahnya dulu, Amirul Mukminin. Amma Ba’du.

Masyarakat telah menantikan kedatangan anda. Bagi mereka tak ada lagi pilihan kecuali mengikutimu. Bergegaslah, wahai putra Rasulullah! Padang sudah menghijau. Buah sudah saatnya untuk dipetik. Rumputpun telah tumbuh subur. Dan pohon-pohon telah mengeluarkan daunnya. Bila anda bersedia, datanglah kepada kami. Karena kedatangan anda akan disambut lasykar besar yang siap bersamamu. Salam, rahmat dan barakat Allah atasmu dan atas ayahandamu.

Usai membaca surat itu, Al-Husain berpaling kepada Hani bin Hani Al-Sabi’i dan Sa’id bin Abdullah Al-Hanafi dan bertanya, “Katakan padaku siapa saja yang menulis surat yang kalian bawa ini ?”

Mereka berdua menjawab, “Wahai putra Rasulullah, mereka adalah, Syabats bin Rab’i, Hajjar bin Abjur, Yazid bin Harits, Yazid bin Ruwaim, ‘Urwah bin Qais, ‘Amr bin Hajjaj, dan Muhammad bin ‘Umair bin ‘Atharid.”

Lalu Al-Husain kemudian mengutus saudaranya, Muslim bin ‘Aqil, untuk mengevaluasi kondisi warga Kufah sesungguhnya. Muslim pun melakukan perjalanan ke Kufah. Awalnya, ada 18.000 orang yang berbaiat kepadanya dan menyatakan kesiapan untuk berjihad menentang pemerintahan Yazid bin Muawiyah yang despotik dan kejam.

Namun, Yazid tak tinggal diam. Dia melakukan berbagai intimidasi sampai-sampai Muslim ditinggal sendirian oleh warga Kufah. Akhirnya, ia pun ditangkap dan dibunuh oleh pemerintah. Sebagian besar warga Kufah yang dulu menulis surat kepada Imam Husein bahkan kemudian bergabung dengan pasukan Umar bin Saad yang membantai Imam Husain di Karbala.

1339 tahun kemudian, kota Kufah dan seluruh Irak, dikuasai oleh Saddam Husein. Dia memimpin dengan tangan besi dan tak segan-segan melenyapkan lawan-lawan politiknya. Pada tahun 1999, seorang tokoh Syiah bernama Muhammad Sadeq al Sadr dibunuh oleh pemerintah Irak, sehingga memunculkan aksi protes di berbagai kota, termasuk  Kufah, Karbala, Najaf, Basra, dan lain-lain. Akibatnya, puluhan orang dibunuh tentara dan ratusan lainnya ditahan.

1364 tahun kemudian, yaitu tahun 2004, kota Kufah diserbu oleh pasukan AS. Sebelumnya, tahun 2003, AS telah menyerbu Bagdad dan menggulingkan Saddam Hussein. Di tahun 2004, tentara AS menyerbu sebuah masjid Sahla di kota Kufah. Mereka menuduh masjid itu menyimpan senjata dan amunisi kelompok milisi Sadr  yang berjuang mengusir AS dari Irak. Ada 32 orang tewas dalam serangan tersebut. Selanjutnya, Kufah selalu terancam bahaya karena kelompok-kelompok teroris sering meledakkan bom. Pada Juli 2006, teroris meledakkan bom mobil di tengah keramaian, sehingga menewaskan 53 orang dan melukasi 105 orang lainnya. Menurut data PBB, dalam bukan Mei-Juni 2006 saja, ada 6000 warga sipil di Irak yang tewas.

Saat ini kota Kufah terus dalam bahaya, karena adanya ISIS.

Kota ini seolah menggenggam takdir untuk menjadi saksi sejarah penuh darah. (dw/LiputanIslam.com)

 

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL