Ahmadinejad sedang menunaikan haji

Ahmadinejad sedang menunaikan haji

Foto-foto Ahmadinejad di Mekah dengan mudah kita temukan di internet. Orang-orang Iran bermazhab Syiah dan Sunni, setiap tahun dengan aman sentosa berhaji ke Mekah dan mendapatkan pelayanan sangat baik dari pemerintah Iran: penginapan yang dekat Masjidil Haram, makanan berlimpah, tim kesehatan yang siap siaga di berbagai penjuru, dll.

Keberadaan orang Iran (yang mayoritasnya Syiah) di Mekah, menjadi argumen bantahan atas tuduhan kaum takfiri bahwa Syiah bukan Islam, atau bahwa Syiah kafir. Beberapa ulama di Indonesia pun (antara lain Prof. Umar Shihab dan Quraish Shihab) berargumen demikian: “Kalau memang Syiah dianggap sesat dan bukan bagian dari Islam, mengapa Pemerintah Saudi masih memperbolehkan kaum Syiah menunaikan Haji ke Tanah Suci?”

Namun, situs Islampos memuat artikel karya AM Waskito yang mencoba “mengajari” pembaca bagaimana cara menjawab argumen seperti ini.

Berikut ini bantahan atas artikel tersebut bagian kedua (baca bagian pertama di sini)

 6.Pada alasan keenam dia mengatakan bahwa orang syiah dibolehkan memasuki Tanah Haram adalah untuk menunjukkan kepada orang syiah ajaran yang benar sehingga orang syiah akan mengambil banyak-banyak pelajaran dari kehidupan kaum Muslimin di Makkah-Madinah. Bila mereka tertarik, terkesan, atau bahkan terpikat; mudah-mudahan mau bertaubat dari agamanya, dan kembali ke jalan lurus, agama Islam Ahlus Sunnah.

Buku-buku karya-karya ulama syiah banyak mengutip hadis-hadis dan ajaran-ajaran ahlussunnah. Bahkan mereka juga menulis berbagai buku perbandingan baik dari sisi akidah, Fikih, dengan tujuan ukhuwah dan persatuan muslim. Di Iran pun terdapat banyak penganut sunni dan mereka saling berinteraksi secara baik. Jadi, tidaklah mesti untuk mengetahui ajaran sunni yang benar harus pergi ke Mekah dan Madinah. Apakah ajaran ahlussunnah selain di Mekah dan Madinah tidaklah benar? Apakah sunni Mesir, sunni Yaman, bahkan sunni Irak dan Iran tidak benar ajarannya, sehingga harus belajar pada sunni Mekah dan Madinah?

Bahkan sebaliknya, setiap orang yang pernah ke Mekah-Madinah menyadari sulitnya bagi mereka mengekspresikan diri di tanah suci tersebut. Jangankan syiah, orang-orang sunni sendiri kurang terkesan terhadap perilaku “penjaga” dua tanah haram. Bayangkan saja, apakah orang sunni apalagi syiah akan terkesan dengan perilaku para asykar yang melarang mereka untuk berdoa di makam Rasulullah saaw? Bahkan kaum sunni-syiah sama-sama terluka oleh sikap pemerintah Saudi yang menghilangkan jejak-jejak peninggalan Rasul saw.

7. Adapun pada alasan ketujuh, Saudara Waskito menyatakan bahwa membiarkan orang syiah memasuki Tanah Haram adalah sebagai bukti bahwa ajaran sunni lebih sesuai dengan fitrah manusia, sehingga orang syiah pun ingin mendatangi kota Mekah dan Madinah bukan Karbala, Najaf, dan Qum.

Haji adalah kewajiban bagi umat Islam yang mampu, apapun mazhabnya. Dalam mazhab Syiah, haji juga kewajiban. Pemerintah Iran pun menyediakan berbagai kemudahan untuk pelaksanaan haji warganya. Haji sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan ziarah-ziarah sunnah ke makam-makam para wali dan imam yang dimuliakan oleh kaum Syiah. Bukankah kaum ahlussunnah pun meyakini keutamaan berziarah ke makam wali? Di Indonesia kita menemukan betapa ramainya umat sunni yang berziarah ke makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, misalnya.

Mekah, Madinah, Najaf, Karbala, Qum, Masyhad, dimuliakan dan disucikan karena di dalamnya ada peninggalan sejarah dari orang-orang yang mulia. Bedanya, Mekah harus diziarahi sebagai bentuk kewajiban syar’i, sekaligus sebagai wujud rindu dan cinta pada jejak Rasulullah.

Berziarah ke makam-makam imam dan auliya adalah bentuk kecintaan dan cinta adalah selaras dengan fitrah. Kecintaan ini justru tak ditemukan pada kaum wahabi-salafi-takfiri yang melarang manusia untuk menghormati makam suci Nabi saw dan sahabatnya, bahkan menghancurkan makam mereka. Mereka yang pernah haji akan menyaksikan betapa askar-askar di Arab Saudi galak-galak pada jamaah (baik Sunni maupun Syiah, atau mazhab lainnya) yang berziarah ke makam Rasulullah dan Baqi. Jadi, siapa yang tak sesuai fitrah sebenarnya?

8. Pada alasan kedelapan, Saudara Waskito menyatakan bahwa orang syiah dibolehkan memasuki Tanah Haram, agar orang syiah belajar ajaran yang benar tentang ziarah kubur sehingga tidak memuja dan menyembah kuburan, tawaf di kuburan, dan meminta tolong kepada ahli kubur seperti yang mereka lakukan di negara-negara mereka.

Pertama-tama, soal memuja, menyembah, dan tawaf pada kuburan adalah fitnah murahan yang saudara Waskito tidak akan pernah mampu membuktikannya. Fitnah ini bukan saja menimpa syiah tetapi juga mazhab sunni. Sebab, tidak ada orang syiah atau sunni yang berziarah ke kuburan bertujuan untuk menyembah kuburan. Yang ada adalah bahwa syiah dan sunni sama-sama menganjurkan ziarah kubur dan menghormati kuburan Nabi serta ahlul baitnya. Syiah dan sunni juga sama-sama mengakui tabarruk (mengambil berkah) dan tawassul (meminta tolong) kepada Nabi dan orang-orang suci yang sudah wafat. Yang saya heran, saudara Waskito yang ngaku sunni kok tidak percaya dengan tabarrruk dan tawassul tersebut. Ini menunjukkan saudara Waskito, “diragukan ke-sunni-annya”

Kedua, Kalau memang syiah itu kafir, ya tidak boleh masuk haramain. Itu hukum yang jelas. Kalau memasukkan orang kafir ke Mekah dan Madinah dibolehkan dengan harapan agar mereka meninggalkan ajarannya, maka sebaiknya Saudara Waskito membolehkan Ahmadiyah atau juga mungkin orang Kristen, Yahudi, Budha, Hindu, atau ateis untuk datang ke Mekah dan Madinah agar mereka nanti sadar jika kembali ke negaranya masing-masing.

9. Sedangkan pada alasan kesembilan, dia mengatakan hanyalah orang syiah yang tahu kenapa mereka datang naik haji ke Mekah dan Madinah padahal itu bertentangan dengan ajarannya karena sudah punya kota suci sendiri.

Ini sebenarnya sudah terjawab pada poin 7 di atas.  Khalifah ke-4 kaum Muslimin, Imam Ali bin Abi Thalib ra yang sangat ditaati dan dihormati kaum Syiah (dan tentu saja, kaum Sunni) berkata :

“Allah telah mewajibkan kalian berhaji ke Baitul Haram yang dijadikan-Nya sebagai kiblat bagi manusia…Allah yang Maha Suci menjadikan Baitullah sebagai simbol ketundukan manusia di hadapan keagungan dan kemuliaan-Nya…Allah Yang Maha Suci menjadikan Baitul Haram itu bagi Islam sebagai objek penghormatan bagi orang-orang yang menghadapnya. Dia mewajibkan berhaji ke sana dan menetapkan hak-hak-Nya yang harus kalian laksanakan, sesuai firman Allah swt, “Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah; barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (Q.S. Ali Imran : 96) (Nahjul Balaghah, Khutbah 1)

Begitu pula Haji bukan saja mengunjungi Ka’bah, tetapi juga mengunjungi Rasulullah saaw, keluarga dan sahabat-sahabatnya. Ali bin Abi Thalib ra berkata, “Sempurnakanlah haji kalian dengan (menziarahi) Rasulullah saaw..Sebab, meninggalkannya (ziarah rasul) merupakan kekasaran tabiat (jafa’), dan kalian telah diperintahkan melakukannya. Dan sempurnakanlah pula dengan menziarahi kuburan (Baqi), yang Allah Azza wa Jalla perintahkan kepada kalian untuk memenuhi haknya dan berziarah kepadanya, serta mohonlah rezeki (kepada Allah) di pekuburan itu.

Demikianlah tanggapan untuk Saudara A.M Waskito. Semoga kita dijauhkan dari sikap takfirisme dan memecah belah umat Muslim.(hd/LiputanIslam.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL