Oleh: Otong Sulaeman

“Christopher Robin harus membantuku menemukan teman-temanku. Atau, dia membantu teman-temanku menemukan aku. Begitulah caranya menemukan sesuatu,” kata Pooh sambil melangkahkan kakinya ke ‘Dunia Nyata’.

Itu adalah penggalan adegan film Christopher Robin. Saya termasuk yang sangat terkesan dengan film tersebut. Banyak kalimat-kalimat bijak dari para boneka sederhana yang menghantam kesadaran manusia di zaman modern. Seperti dalam adegan tadi, cara berpikir Pooh ini sebenarnya sangat sederhana, tapi punya makna cukup dalam.

Saat kita berusaha mengejar target-target dalam hidup kita, seringnya kita ini hanya berfokus kepada diri kita dalam mencapai target, dan kurang memperhatikan apa yang dilakukan target terhadap kita. Akibatnya, karena menyadari keserbaterbatasan diri, muncul sikap pesimistis terkait dengan keberhasilan usaha kita dalam meraih target.

Padahal, target itu sendiri adalah sesuatu yang ‘hidup’, bergerak, punya logika, dan punya motif. Keterbatasan diri kita untuk bergerak mendekati target bisa jadi malah ditambal oleh keleluasaan target dalam mendekati kita.

Dalam dunia kerja, misalnya, kita sering lupa bahwa bukan hanya kita yang mencari pekerjaan. Pekerjaan juga bisa jadi mencari-cari kita. Bahkan, bisa jadi, dalam beberapa kasus, peranan pekerjaan itu lebih besar dibandingkan dengan peranan kita dalam proses tersambungnya kita dengan pekerjaan tersebut.

Sa’i juga punya dimensi pelajaran hidup seperti itu. Sa’i adalah salah satu rukun dalam pelaksanaan ibadah haji dan umrah. Siapapun yang melaksanakan ibadah haji harus melakukan ritual ini, yaitu berlari-lari kecil dari bukit Safa dan Marwa sebanyak tujuh kali, sebagai bentuk imitasi dari perilaku Siti Hajar di zaman dulu.

Target Siti Hajar adalah mencari air untuk menyambung nafas kehidupan. Sang bayi ia letakkan di titik terendah lembah. Sementara itu, dengan keterbatasan fisiknya sebagai perempuan, Siti Hajar hanya bisa berlari-lari kecil bolak-balik dari satu puncak bukit ke puncak bukit lainnya. Hajar tak berputus asa karena ia yakin, upayanya hanyalah satu sisi proses. Di seberang sana, ada proses lain yang juga berlangsung, di mana sang target sedang bergerak menuju dirinya.

Siti Hajar terus berlari-lari mencari. Tubuhnya bergerak, dan hatinya menjerit, berdoa memohon pertolongan Allah. Maka, Allah pun menggerakkan kaki bayi Ismail untuk menjejak-jejak tanah. Jejakan lemah kaki bayi bernama Ismail itulah yang membuka jalan air, yang sekarang dikenal dengan air Zamzam.

Kita tentu harus berusaha dan bergerak untuk menuju ke arah target kita. Tapi, manakala kita menyadari sangat terbatasnya kemampuan, kita jangan terlalu tergesa-gesa menjadi kehilangan harapan. Kita harus memahami bahwa usaha kita hanyalah salah satu faktor. Faktor lainnya adalah gerakan target sebagai outcome ke arah kita.

Terkadang, doa, sedekah, silaturami, membantu orang lain, dan berbagai amal kebajikan lainnya lebih punya peranan dibandingkan usaha lahiriah kita. Banyak orang yang sudah membuktikannya.

Salah satu doa favorit saya tiap habis salat adalah doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Salah satu petikan doa itu adalah:

“Ya Allah, jika kapasitas diriku tak layak untuk menggapai rahmat-Mu, maka rahmat-Mu itu sangatlah luas hingga pasti mampu merengkuh dan meliputi diriku.”

(Catatan tanggal 27 Agustus 2019)

Baca:
Efek ‘Wow’ Melihat Ka’bah

Jejak-Jejak Makna di Baitul ‘Atiq

Menjadi Setitik Noktah

Bara’ah di Arafah dan The Not-To-Do-List

Qurban, Ibadah di Atas Limpahan Kesyukuran

You Two Were Made for Each Other

Menghamba di Rumah Kebebasan

Memilih Memori

Pilihan di Antara Dua Kebaikan

Memilih Menaikkan Level Diri

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*