Oleh: Otong Sulaeman

“Pak, soal ujiannya jangan yang sulit-sulit, ya.” Ini adalah request yang biasa muncul dari mahasiswa setiap saya menyelesaikan sesi terakhir perkuliahan, menjelang ujian akhir semester.

Biasanya, saya akan memberikan jawaban standar. “Yang penting, Anda persiapkan diri semaksimal mungkin. Saya tidak pernah memberikan soal di luar apa yang pernah saya ajarkan. Kalau Anda belajar dengan baik, tak ada alasan buat saya untuk tidak memberikan nilai ‘A’ kepada Anda.”

Terkadang, saya mengajak mahasiswa saya untuk berdoa, semoga Allah menggerakkan hati saya hingga memberikan soal termudah buat mereka. Tentu saja ajakan ini lebih merupakan candaan. Akan tetapi, jika ada waktu, saya akan membahas sisi serius dari ajakan canda saya tersebut. Saya katakan, doa seperti itu tidak “matching” dengan ikhtiar lahir yang dilakukan, yaitu belajar.

Belajar adalah upaya lahiriah untuk menaklukkan ujian. Upaya belajar dengan keras diambil oleh seseorang yang memiliki asumsi bahwa ujian yang akan dihadapinya memang berat. Ketika tingkat kesulitan soal ujian memang tinggi, ia akan menghadapinya dengan tenang. Ketika dinyatakan lulus dengan nilai baik, ia akan senang. Pengorbananannya berjibaku dengan buku menjadi sangat bermakna.

Karena konteks ikhtiar lahiriahnya adalah belajar maka doa terbaik yang bisa dipanjatkan mestinya terkait erat dengan kemampuan dirinya di saat belajar. Alih-alih memohon agar soal ujiannya mudah, seorang mahasiswa mestinya berdoa semoga dirinya dianugerahi kemampuan untuk melewati ujian seberat apapun.

Orang-orang sukses dalam sejarah adalah mereka yang memiliki mental pemenang, mental petarung. Ia tak menghindari tantangan. Ia juga tak berimajinasi bahwa level ujian yang dihadapi tiba-tiba saja turun karena sesuatu dan lain hal. Yang dilakukannya adalah menaikkan level dirinya agar pantas diuji dengan tantangan itu. Imajinasi yang ia kembangkan adalah bayangan dirinya yang mampu melewati rintangan-rintangan itu. Maka, ketika berdoa, yang ia mintakan adalah agar Tuhan memberinya kekuatan, bukan agar Tuhan menurunkan level ujian. Di ‘Rumah yang Tua’ ini kita bisa menemukan jejak-jejak keagungan jiwa seorang Nabi Ibrahim a.s. manakala menghadapi ujian berat dari Allah SWT.

Dalam tradisi Islam, pusat kisah dari ibadah haji adalah Nabi Ibrahim a.s. Ibadah ini betul-betul menapaktilasi apa yang terjadi pada Nabi Ibrahim dan keluarganya. Mari kita lakukan perjalanan historis untuk melihat lagi apa yang terjadi pada Ibrahim di saat itu.

Setelah lolos dari maut atas hukuman mati pembakaran Raja Namrud, Ibrahim diuji oleh Tuhan dengan ketiadaan keturunan. Ibrahim dan istrinya, Sarah, hanya hidup berdua sampai usia mereka sangat tua. Akhirnya, Ibrahim menikahi seorang budak hitam bernama Hajar. Dari Hajar, Ibrahim dikarunia anak bernama Ismail.

Baru saja merasakan kebahagiaan punya keturunan, Ibrahim disuruh untuk membawa Hajar dan Ismail dari kawasan Kan’an (Palestina) ke Pegunungan Paran, tepatnya ke sebuah lembah bernama Bakkah (Mekkah); kawasan yang tandus dan tak berpenghuni. Ibrahim diperintahkan untuk meninggalkan keduanya di lembah itu. Ibrahim kembali ke Kan’an.

Maka terjadilah peristiwa pencarian air, sepanjang tiga kilometer antara Shafa dan Marwah, sebelum akhirnya muncul keajaiban mata air Zamzam. Keberadaan mata air di tengah-tengah gurun yang gersang menjadi magnet kehidupan, dan Lembah Mekkah pun menjadi ramai oleh para musafir.

Ketika Ismail beranjak remaja, Ibrahim disuruh untuk menengok keluarganya. Akan tetapi, baru saja bertemu, datang lagi perintah yang lebih dahsyat: Ibrahim disuruh menyembelih anaknya itu. Ibrahim tetap taat dengan ujian tersebut. Ia sudah siap menyembelih sang anak. Tapi, akhirnya, dengan izin Allah, objek sembelihan itu diganti dengan domba.

Kisah Ibrahim adalah salah satu kisah yang paling unik dalam sejarah perjalanan ummat manusia. Ujian yang diberikan Tuhan kepada Ibrahim luar biasa aneh dan juga sangat dahsyat beratnya. Akan tetapi, Ibrahim ternyata tak gentar. Ia terima tantangan itu; ia jalani ujian itu.

Ibrahim juga tak meminta agar Tuhan memberikan keringanan atas ujian. Ibrahim memilih untuk menaikkan level dirinya agar menjadi orang yang pantas diuji dengan beragam tantangan yang berat itu. Dan ia berhasil.

“Ingatlah ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan sejumlah tantangan berat. Maka, ia mampu melewatinya dengan sempurna. Allah berfirman, ‘Kujadikan engkau sebagai imam bagi seluruh manusia.’ Ibrahim lantas meminta, ‘Juga dari anak keturunanku.’ Allah menjawab, ‘Janjiku ini tak berlaku bagi anak keturunanmu yang berbuat zalim.’” (Al-Baqarah: 124)

Jangan pernah merasa takut ataupun mengeluhkan ujian dan beratnya hidup, kecuali jika Anda memang tak ingin menaikkan level kehambaan di depan Tuhan yang Maha Agung.

(Catatan Tanggal 26 Agustus 2019)

Baca:
Efek ‘Wow’ Melihat Ka’bah

Jejak-Jejak Makna di Baitul ‘Atiq

Menjadi Setitik Noktah

Bara’ah di Arafah dan The Not-To-Do-List

Qurban, Ibadah di Atas Limpahan Kesyukuran

You Two Were Made for Each Other

Menghamba di Rumah Kebebasan

Memilih Memori

Pilihan di Antara Dua Kebaikan

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*