islamMuhammadiyah dalam muktamarnya ke 47 tahun 2015 mengusung konsep “Islam berkemajuan” (Islam progresif). Islam berkemajuan berlandaskan keyakinan bahwa Islam yang kita anut ini adalah agama yang unggul atau berkemajuan dan tidak tertandingi keunggulannya (al-Islamu ya’lu walaa yu’la alaih), namun perilaku umatnya tidak selalu mencerminkan keunggulan dan kemajuan Islam. Islam itu agama rahmat bagi semesta (rahmatan lil ‘alamin), namun tidak semua pengikutnya memahami dimensi dan aktualisasinya dalam kehidupan nyata. Islam ideal clan Islam faktual tidak selalu berbanding lurus karena Islam itu memang “terhalangi/terhambat” oleh orang Islam itu sendiri (al-Islamu mahjubun bil muslimin).

Masalah utamanya kemudian adalah bagaimana Islam berkemajuan itu dapat ditransformasikan dan diaktualisasikan ke dalam “Indonesia berkemajuan?” Paham teologi seperti apakah yang dapat menjadi landasan dalam transformasi “Islam berkemajuan” ke dalam Indonesia berkemajuan di masa mendatang?
Memaknai Islam sebagai Rahmatan li al-‘alamin, barangkali ini kuncinya. Kata Islam berasal dari kata kerja aslama-yuslimu yang artinya menyerah, tunduk, atau patuh (submission) dengan sepenuh hati, tulus ikhlas, dan setia. Kata aslama ini mempunyai beberapa derivasi yang memberi karakter ajaran Islam, yaitu: salamah (keselamatan), taslim (penyerahan), salam (kedamaian, kesejahteraan), sullam (titian/tangga) dan silm artinya perdamaian.
Implikasi teologis dari makna Islam tersebut adalah, pertama, seorang Muslim harus menyerahkan diri (tunduk dan patuh) secara total terhadap Allah sebagai pembuat syari’at (Muslim harus taat, bukan berbuat maksiat). Kedua, Muslim harus bersikap dan berperilaku damai, tidak berlaku kekerasan dan kerusakan di muka bumi (Muslim itu cinta damai). Ketiga, cita-cita dan orientasi hidupnya ditujukan untuk mewujudkan kesejahteraan lahir dan batin, dan kebahagiaan dunia akhirat. Keempat, beragama Islam mengharuskan meniti tangga (memiliki etos jihad) dalam rangka mewujudkan keselamatan, kedamaian, kemuliaan,dan kebahagiaan bagi semua.
Islam, sebagaimana ditegaskan dalam Qs. Al-Anbiya’ [21]: 107, adalah agama rahmah (kasih sayang). Kerahmatan Islam tidak hanya diperuntukkan bagi pemeluknya semata, melainkan diperuntukkan bagi seluruh makhluk yang ada di semesta raya. Rahmah adalah kasih sayang yang tanpa pamrih yang bersifat memberdayakan. Salah satunya adalah senang melihat orang lain sukses dan tidak menderita, bukan sebaliknya. Jadi, agama rahmah adalah agama yang mengembangkan kasih sayang tanpa membedakan agama yang dipeluk, asal usul etnis dan kebangsaan serta kelas sosial.
Allah telah mengutus Rasul-Nya sebagai rahmat bagi seluruh manusia agar mereka mengambil petunjuk atau syari’at Allah. Manusia tidak akan mendapatkan petunjuk-Nya, kecuali yang bersungguh-sungguh mencari keridlaan-Nya. “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridlaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik,” (Qs. Al-‘Ankabut: 69). Sebagai wujud nyata dari rahmat Islam adalah bahwa ketika Rasulullah berdakwah di Thaif dilempari batu hingga berdarah kakinya, Malaikat berkata: “Jika engkau menginginkan agar aku menimpakan gunung ini kepada mereka, niscaya aku akan laksanakan. “Maka Rasulullah saw bersabda: “Ya Allah, berilah hidayah pada mereka karena sesungguhnya mereka belum mengetahui.” lalu Jibril berkata: “Maka benar Allah yang menamakanmu ra’ufur rahim.

Sebagai rahmatan Ii al-‘alamin, rahmat Islam mengandung nilai kelembutan hati yang mengharuskan berbuat kebajikan kepada yang dirahmati. Sebagai agama rahmah, Islam mempunyai dan mengembangkan karekter dan nilai-nilai; seperti nilai saling mengingatkan (Qs. Ali Imran [3]: 104. Qs. Al-Ashy [103]:1-3), peduli clan saling memberdayakan jasmani dan ruhani), sikap welas asih, tidak keras kepala, dan punya tradisi syOrA dalam menyelesaikan berbagai masalah (Qs. Ali Imran [3]:159 clan 191). berj4a’izzah/penuh kewibawaan (Qs. A]-Maidah [5]: 54). berpaham keagamaan moderat dan dapat memberikan teladan: tidak permisif dan tidak kaku dalam menjalankan syariah (Qs. Al-Baqarah [2]: 143 dan Qs. AI-Fatihah [1]: 6-7). pasrah dan siap diatur oleh Islam (Qs. Al-Baqarah [2]: 128). (dw/LiputanIslam.com)

Sumber: sangpencerah.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL