uangKorupsi berasal dari bahasa latin coruptio dan corruptus yang artinya busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok. Dalam bahasa Yunani corruptio perbuatan yang tidak baik, buruk, curang, dapat disuap, tidak bermoral, menyimpang dari kesucian, melanggar norma-norma agama, materil, mental, dan umum.

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) korupsi diartikan penyelewengan atau penggelapan uang negara atau perusahaan dan sebagainya untuk kepentingan pribadi maupun orang lain. Berdasarkan UURI No. 31 tahun 1999, korupsi adalah:
-Penyalahgunaan wewenang, kesempatan atau sarana yang ada padanya karena jabatan atau kedudukan.
-Merugikan keuangan Negara atau perekonomian Negara
-Tujuannya menguntungkan diri sendiri atau orang lain atau suatu korporasi.

Tindakan korupsi sangat merusak pondasi sebuah negara. Karena korupsi, banyak keluarga jatuh miskin, anak-anaknya tidak bisa makan makanan bergizi, tidak bisa sekolah, dan tetap miskin. Mereka pun akan melahirkan generasi yang miskin. Artinya, terjadi lingkaran kemiskinan yang semakin lama semakin membesar, akibat perilaku korupsi. Tak heran bila Rasulullah sampai melaknat perilaku korupsi ini.

Hadits riwayat At-Tirmidzi, Ahmad, dan Al-Hakim, yang berasal dari Abdullah bin Amr, “Rasulullah melaknat penyuap dan yang minta suap. Hadiah kepada para pejabat adalah tindakan ghulul (koruptif).” (HR Ahmad dan Al-Bazzar).

Dalam kitab Idhah al-Ahkam Lima Ya’khudzhuhu al-‘Ummal wa al-Hukkam karya Ibn Hajar Al-Haitami, dicantumkan sejumlah hadits yang mengharamkan praktek suap dan hadiah kepada para pejabat pemerintah. Paling tidak ada 12 hadits yang dinukil oleh Ibnu Hajar. Selain hadits yang sudah dikutip di paragraf sebelumnya, berikut ini ada beberapa hadis lain terkait korupsi:

“Pengkhianat yang paling besar adalah penguasa yang menjadikan rakyatnya sebagai obyek bisnis.” (HR An-Nuqqasyi dan Abu Nu’aim).

“Barang siapa kami angkat sebagai pegawai atas suatu pekerjaan lalu kami memberikan gaji kepadanya, apa yang ia ambil selain gajinya itu bersifat ghulul.” (HR Abu Daud).

“Pemberian hadiah kepada para pejabat termasuk tindakan ghulul.” (HR Al-Bazzar dan Ahmad).

Ibn Hajar Al-Haitami juga menjelaskan bahwa Allah SWT telah memerintahkan para penguasa dan para hakim untuk menegakkan keadilan tanpa menukarnya dengan imbalan apa pun. Jika mereka mengambil dan menerima imbalan semacam itu, berarti mereka menjadikan suap itu harga dari keadilan. Allah tidak rela jika keadilan-Nya ditukar dengan harta duniawi, karena itu berarti tindakan pengkhianatan terhadap Allah, para rasul-Nya, para malaikat-Nya, dan orang-orang beriman. Keadilan tidak boleh diperdagangkan, la laksana air mengalir, dan siapa pun berhak menikmatinya.

Sumber: sarkub.com, juaranews.com

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL