kyaisahalIndonesia baru saja kehilangan sosok ulama yang mumpuni dan kharismatik, yaitu KH DR. M.A. Sahal Mahfudz. Beliau wafat pada hari Jumat (24/1/2014), usia 77 tahun. Selain dikenal ahli dalam bidang ilmu fiqih (dan mendapatkan gelar doktor honoris causa di bidang fiqih dari UIN Jakarta), beliau juga dikenal sebagai tokoh Islam yang ramah dan toleran. Beliau wafat dalam posisi sebagai Ketua Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abdus-Salam Al-Hajaini lahir di Desa Kajen, Margoyoso Pati pada tanggal 17 Desember 1937. Sedari lahir, beliau hidup di pesantren, dibesarkan dalam lingkungan pesantren, belajar, hingga ladang pengabdiannya pun ada di pesantren. KH. Sahal Mahfudz dididik oleh ayahnya yaitu KH. Mahfudz Salam dan memiliki jalur nasab dengan Syekh Ahmad Mutamakkin. Syekh Ahmad Mutamakkin sendiri termasuk salah seorang pejuang Islam yang gigih, seorang ahli hukum Islam (faqih) yang disegani dan seorang guru besar agama.

Ada dua faktor yang mempengaruhi pemikiran Kyai Sahal yaitu, pertama adalah lingkungan keluarganya. Bapak beliau yaitu Kyai Mahfudz adalah orang yang sangat peduli pada masyarakat. Setelah Kyai Mahfudz meninggal, Kyai Sahal kemudian diasuh oleh KH. Abdullah Salam, orang yang juga sangat perhatian pada kepentingan masyarakat. Beliau adalah orang yang mendalami tasawuf juga orang yang berjiwa sosial tinggi. Dalam melakukan sesuatu, beliau selalu melihat ada nilai transendental, tidak hanya dilihat dari segi materi. Di bawah asuhan dua orang yang luar biasa dan mempunyai karakter kuat inilah Kyai Sahal dibesarkan. Yang kedua dari segi intelektual, Kyai Sahal sangat dipengaruhi oleh pemikiran Imam Ghazali. Dalam berbagai teori Kyai Sahal banyak mengutip pemikiran Imam Ghazali.

Selama belajar di pesantren, Kyai Sahal berinteraksi dengan berbagai orang dari segala lapisan masyarakat baik kalangan jelata maupun kalangan elit masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi pemikiran beliau. Selepas dari pesantren beliau aktif di berbagai organisasi kemasyarakatan. Perpaduan antara pengalaman di dunia pesantren dan organisasi inilah yang diimplementasikan oleh Kyai Sahal dalam berbagai pemikiran beliau.

Minat baca Kyai Sahal sangat tinggi. Meskipun beliau orang pesantren, bacaannya cukup beragam, di antaranya tentang psikologi, bahkan novel detektif, walaupun bacaan yang menjadi favoritnya adalah buku tentang agama. Belum lagi genap berusia 40 tahun, beliau telah menunjukkan kemampuan tinggi dalam forum-forum fiqih. Terbukti pada berbagai sidang Bahtsu Al-Masail tiga bulanan yang diadakan Syuriah NU Jawa Tengah, beliau sudah aktif di dalamnya.

Kyai Sahal memimpin Pesantren Maslakul Huda Putra sejak tahun 1963. Pesantren di Kajen, Margoyoso, Pati, Jawa Tengah, ini didirikan oleh ayahnya, KH Mahfudz Salam, tahun 1910. Sebagai pemimpin pesantren, Kyai Sahal dikenal sebagai pendobrak pemikiran tradisional di kalangan NU yang mayoritas berasal dari kalangan akar rumput. Sikap demokratisnya menonjol dan dia mendorong kemandirian dengan memajukan kehidupan masyarakat di sekitar pesantrennya melalui pengembangan pendidikan, ekonomi, dan kesehatan.

Beliau sangat menjaga kehati-hatian dalam bersikap dan dalam memberikan fatwa terhadap masyarakat, serta selalu berupaya menjaga persatuan umat. Salah satu sikapnya yang tegas dalam hal ini adalah ketika kasus Sampang menyeruak (2012). Saat itu, puluhan kiai Madura dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Timur mendatangi Kyai Sahal di kediamannya. Mereka melakukan lobi kepada Kiai Sahal agar menyetujui aspirasi mereka untuk menyesatkan aliran Syiah.

Namun saat itu, Kyai Sahal hanya mendengar saja. Sampai pada akhirnya beliau berkomentar pendek, “Jangan libatkan saya (dalam urusan penyesatan Syiah)”. Setelah berkata demikian, Kyai Sahal masuk ke dalam rumah dan tidak kembali ke forum tersebut. Para tamunya itu akhirnya pulang dengan kecewa karena gagal melobi Kyai Sahal. Demikian diceritakan oleh Koordinator Jaringan GusDurian (kelompok pencinta Gus Dur), Aan Ashori.

Kyai Sahal banyak menulis buku dan risalah, antara lain berjudul Nuansa Fiqh Sosial (1994), Pesantren Mencari Makna (1999), dan Al-Bayan al-Mulamma’ ‘an Alfdz al-Lumd” (1999). (liputanislam.com/islam-institute.com/beritajatim.com)

DISKUSI:
SHARE THIS:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Positive SSL